Trending

100 tahun Pak Harto: Dicaci maki rakyat tapi berwasiat Alquran

Hari ini keluarga Cendana memperingati 100 tahun Pak Harto atau Soeharto. Seabad lalu, Pak Harto dilahirkan pada 8 Juni 1921. Banyak kenangan maupun memori dari berbagai pihak atas 100 tahun Pak Harto ini.

Nah putri pertama Pak Harto, Tutut Soeharto pernah menuliskan kenangannya pada bapaknya tersebut setahun lalu, saat 99 tahun usia Soeharto.

Dicaci dimaki

Ibu Tien Soeharto. Foto Instagram @tututsoeharto

Dalam tulisannya setahun lalu, Tutut Soeharto mengenang masa-masa sulit selepas Pak Harto lengser dari jabatan Presiden ke-2 Indonesia.

Muncul hujatan, cacian, makian dan tuduhan yang ditujukan kepada Pak Harto dan keluarganya. Yang menyakitkan lagi, tulis Tutut, usai lengser orang-orang sekeliling Pak Harto satu per satu mulai meninggalkan Bapak Pembangunan tersebut. Namun Pak Harto berpesan kepada anaknya jangan menaruh dendam pada mereka yang mencaci dia dan keluarganya.

Saat situasi sulit tersebut, Tutut mengeluh dan bertanya kepada Pak Harto lantaran terusik hatinya.

“Selama ini saya merasa, kita semua sudah taat pada NYA. Tapi kenapa, Allah masih menguji kita begitu beratnya?” keluh Tutut kepada Pak Harto dikutip dari laman Tututsoeharto.id.

Dengan bijak Pak Harto menjawab Allah sedang menguji kesabaran dan mampukah yang diuji menerima ujian atau menyerah pada ujian yang diberikan Allah.

Dia kemudian bertanya kepada Tutut, kalau sekolah dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, kan ada ujian tiap kenaikan kelas kan.

Pak Harto berpesan agar Tutut dan lainnya bersabar, istiqomah dan menjalanlan salat 5 waktu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Dengan sikap seperti ini, Pak Harto meyakini akan bisa melewati ujian Allah.

“Bersyukurlah kita masih diuji Allah, artinya, kita diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik kalau kita dapat melewati semua ujian dengan baik, dan itu menunjukkan bahwa Allah menyayangi kita,” kata Pak Harto.

Wejangan baca Alquran

Ilustrasi Alquran
Ilustrasi Alquran. Foto Pixabay/TayebMEHZADIA

Selanjutnya, tulis Tutut, kala itu Pak Harto melanjutkan wejangannya kepadanya. Apa pesannya? Soeharto meminta Tutut untuk banyak membaca Alquran, tapi jangan cuma baca saja tapi perdalami arti dan maknanya.

“Kamu harus banyak baca Al-Qur’an wuk, tapi harus dengan artinya. Agar kamu tahu, apa yang sebenarnya Allah inginkan dari kita. Dengan mendalami isi Al-Qur’an, insya Allah kamu akan mendapat petunjuk dari Allah SWT. Aamiin. Disana kamu akan mendapatken doa-doa yang Allah ajarken untuk kita. Ya… pasti baik doa-doa tersebut, karena dari Allah,” kata dia.

Pak Harto minta Tutut untuk jangan bersedih, Tutut dipeluk Soeharto dan kemudian Tutut mencium tangan Pak Harto.

“Anak bapak harus kuat. Gusti Allah tidak sare, suatu saat nanti, bila sudah saatnya, Allah akan menunjukkan, mana yang bener dan mana yang salah. Kita hadapi semua dengan senyum, dan selalu bersandar pada ajaran NYA. Jangan lupa pesen bapak, sabar dan jangan dendam. Libatken selalu Allah dalam hidup kamu,” kata Pak Harto.

Setelah mendapat wejangan tersebut, Tutut mengaku sejak 1998, terus mengaji dan mendalami Alquran.

“Alhamdulillah saya mendapatkan guru yang hafal isi Al-Qur’an, baik arab maupun terjemahannya dari adik saya, Mamiek. Dan ternyata, apa yang bapak sampaikan kepada saya, semua ada di Al-Qur’an. Subhannalloh, terima kasih ya Allah, telah memilihkan saya dan adik-adik saya terlahir dari bapak yang bernama, H. M. Soeharto bin Panjang Kertosudiro dan ibu yang bernama, Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto binti H. KPH. Soemoharyomo,” kata dia.

Topik

2 Komentar

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close