Hot

23 Tahun kematian Putri Diana: Air mata yang mampu mendobrak monarki

Tanggal 31 Agustus 2020 merupakan hari kematian Putri Diana bersama kekasihnya Dodi Al Fayed karena kecelakaan tragis yang langsung menewaskan keduanya.

Sejak hari kematian Putri Diana itu seluruh dunia berduka kehilangan ‘People Princess’ berhati emas. Hingga kini kisah dan kiprah ibu dari Pangeran Charles dan Pangeran Harry itu masih dikenang hingga saat ini.

Baca juga: Alasan pilu Putri Diana trauma pakai Chanel: Ingat perselingkuhan Charles

Mengenang 23 tahun kematian Putri Diana, masyarakat masih ingat betul bagaimana sebuah buku berjudul Diana: Her True Story (1992) karya Andrew Morton seakan banyak menyingkap betapa menderitanya sang Putri menjalani kehidupan di istana kerajaan Inggris.

Sejak ia menikah dengan Pangeran Charles dan masuk dalam silsilah House of Windsor pada 29 Juli 1981, keluarga royal istana menjadi lebih hangat dan terbuka. Sebelumnya keluarga kerajaan Inggris terkenal sangat formal dan berjarak dengan rakyat jelata.

Charles mewakili sisi wajah yang pertama. Sedang Diana menciptakan sisi wajah yang kedua. Maka tak heran William dan Harry harus menyesuaikan diri.

Putri Diana
Putri DIana Photo: Istimewa

Jika bersama sang ibu, keduanya tampak gembira bermain jet ski di Club Med, memakai T-shirt dan tubuh berlumur coklat dan krim Tetapi di saat lain, mereka tampak berpose kaku dengan jas dan sepatu mengkilat saat bersama ayah.

Andrew Morton sang penulis mengatakan kala itu dirinya menulis berdasarkan wawancara eksklusifnya dengan Diana. Sang Putri menggambarkan bahwa keluarga kerajaan bersikap dingin, tak punya emosi dan kejam.

Tidak seperti citra keluarga Inggris pada umumnya yang gembira dan saling peduli. Kaum royalist menuduh isi buku itu hanya isapan jempol. Tapi, tiga tahun kemudian, dalam wawancaranya di program Panorama BBC Diana mengkonformasikan dirinya memang berada di belakang penulisan buku itu.

Perlakuan kejam keluarga kerajaan terhadap Diana

Pernyataan Diana tentu menghancurkan reputasi keluarga kerajaan. Apalagi Diana juga sempat mengatakan dirinya sama sekali tidak mendapat dukungan apa-apa, waktu Charles terlibat cinta dengan wanita lain.

Diana juga mengatakan penyakit bulimia yang pernah dideritanya adalah semacam tangis minta tolong yang tidak pernah dijawab oleh satu pun anggota Keluarga Kerajaan.

Sebelum wawancara itu, tepatnya enam bulan setelah terbitnya buku Diana: Her True Story, Perdana Menteri Inggris waktu itu, John Major, mengumumkan pada Parlemen bahwa Diana dan Charles memutuskan untuk berpisah, tanpa bercerai. Hal itu karena hukum di Inggris mensahkan seseorang menceraikan pasangannya secara sepihak, setelah masa perpisahan melewati 5 tahun.

Namun ada spekulasi yang muncul jika Ratu Elizabeth ibu Charles ikut campur pernikahan mereka. Ia turun tangan lantaran kesal karena anaknya tak lebih populer dari Diana. Banyak pengamat keluarga kerajaan beropini, kondisi itu tidak berkenan di hati Ratu.

Diana Charles
Diana Charles Photo: Istimewa.

Belum lewat 5 tahun, pada Desember 1995 Charles menerima surat dari Ratu berisi saran agar mereka bercerai. Dan Charles setuju.

Diana pun tak menunggu sampai diusir. Akhirnya, pada Februari 1996 Diana mengumumkan persetujuannya untuk bercerai dengan Charles.

“Saya telah memberikan (kepada Istana) semua yang mereka inginkan. Dan mereka masih belum puas,” kata Diana pada Daily Mail, untuk menjawab tuduhan teman-teman Charles terhadapnya, bahwa dia manipulator yang tidak punya malu.

Bagi kebanyakan wanita yang berasal dari kelasnya, menjadi anggota House of Windsor tentulah membahagiakan. Asalkan menuruti kemauan Keluarga Kerajaan, semua pasti beres.

Tapi Diana tidak, ia hidup dan mencari jalannya sendiri meskipun berisiko. Perceraian itu diikuti dengan dicopotnya gelar Her Royal Highness yang disandang Diana.

Hampir semua yang Diana lakukan berlawanan dengan kekolotan Keluarga Kerajaan. Diana pernah bersalaman, bahkan memeluk penderita AIDS dan lepra.

Baca juga: Harta Putri Diana disebut tak bakal habis, Meghan-Kate kecipratan berapa?

Bahkan pernah, di tengah malam Diana mengajak si sulung William mengunjungi kaum gelandangan di jalan-jalan di London. Sebelum Diana, tak ada anggota Keluarga Kerajaan yang melakukannya. Inilah yang membuat Diana terasa atraktif di mata media, dan membuat formalitas dan kekakuan Keluarga Kerajaan makin terasa.

Diana juga memperkenalkan William dan Harry dengan kehidupan yang sebenarnya. Misalnya, membiasakan mereka mengantre di toko saat membayar barang yang mereka beli.

Dalam wawancara dengan Le Monde, Diana mengatakan betapa berarti baginya bila bisa dekat dengan anak-anaknya. Bisa dibilang Diana adalah pelopor pendobrak monarki Inggris. Selain semangat kesetaraan, yang terpenting lainnya adalah kesadaran terhadap hak wanita untuk memilih jalan hidupnya.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close