Trending

4 Fakta human zoo, orang Hindia pernah dipertontonkan bak binatang di AS

Fakta human zoo, tak hanya suku-suku di Afrika, orang Indonesia dan sejumlah suku asia lainnya pernah dipertontonkan bak binatang.

Kita ketahui saat ini, pada umumnya kebun binatang merupakan tempat rekreasi dimana para pengunjungnya bisa melihat aktivitas sejumlah binatang yang terkurung di sebuah kandang.

Baca juga: Bikin takjub, warga temukan lafaz Allah raksasa di tengah hutan

Namun siapa sangka, pada masanya manusia pernah dijadikan objek tontonan layaknya seekor hewan yang berada di kebun binatang.

Pameran yang dibuat oleh orang-orang Eropa ini, secara sengaja memamerkan sejumlah manusia dari ras tertentu. Kala itu, pameran ini disebut sebagai human zoo alias kebun manusia.

Penyelenggaraan pameran ini diselenggarakan dengan dalih memperlihatkan kebudayaan dan peradaban antara bangsa eropa dengan bangsa-bangsa non-eropa.

Meski hampir sebagian besar yang dipertontonkan berasal dari Afrika, ternyata sejumlah orang yang berasal dari Indonesia juga pernah ikut dipamerkan dalam acara human zoo.

Orang Filipina ketika dipertontonkan dalam sebuah acara human zoo. Foto: Daily Mail
Orang Filipina ketika dipertontonkan dalam sebuah acara human zoo. Foto: Daily Mail

Dikutip dari salah satu akun Twitter yang membahas soal sejarah di masa lampau @potretlawas, berikut deretan fakta sejarah terkait orang-orang pribumi yang pernah dilibatkan dalam human zoo:

Sejumlah orang Indonesia pernah dijadikan human zoo

Enam dari ratusan orang pribumi Indonesia yang pernah dibawa ke negara bagian Amerika Serikat, tepatnya di Illinois, Chicago, mereka dipamerkan untuk memeriahkan acara, dalam rangka pagelaran bertajuk World’s Columbian Exposition yang diadakan pada tahun 1893.

Mereka diwajibkan untuk memperlihatkan sejumlah aktivitas seperti bermain gamelan, menenun, menari, hingga mengolah teh dan kopi.

Diketahui, acara semacam ini merupakan salah satu ajang di mana orang-orang yang berasal dari tanah jajahan dipamerkan dan dipertontokan ke hadapan para kolonialis bangsa-bangsa Eropa.

Rata-rata berasal dari buruh perkebunan di Sukabumi

Mayoritas orang Indonesia yang dipamerkan dalam acara itu berasal dari para buruh perkebunan di Sukabumi. Dua wilayah di Sukabumi yang warganya turut diberangkatkan adalah Parakansalak dan Sinagar.

Sementara untuk puluhan warga lain yang diberangkatkan, berasal dari daerah lain.

Mereka berangkat dari Batavia ke San Fransisco pada 14 Februari 1893 dengan estimasi waktu perjalanan sekitar lima minggu lamanya.

Ditujukan untuk mengisi kategori Java Village

Didatangakan untuk mengisi salah satu kategori acara, yakni Java Village. Dalam pameran tersebut, mereka menempati wilayah hampir seluas satu hektar dan dibangun pula 36 rumah tradisional yang berasal dari bambu.

Orang pribumi Indonesia di rumah bambu dan ditonton oleh sejumlah orang disekitarnya. Foto: Twitter @potretlawas
Orang pribumi Indonesia di rumah bambu dan ditonton oleh sejumlah orang disekitarnya. Foto: Twitter @potretlawas

Tak hanya sebagai tempat tinggal, rumah-rumah tersebut difungsikan sebagai lumbung padi, masjid, gardu, hingga lahan balai pertunjukan.

Layaknya beraktivitas sewajarnya, setiap hari mereka berkegiatan sekaligus dipertontokan oleh para pengunjung yang datang memadati area sekitar acara.

Sebagian kembali ke tanah air dan tak dibayar

Usai dipertontonkan, dalam perjalanan kembali ke tanah air, sejumlah orang dinyatakan meninggal dalam perjalanan, sehingga berhasil dipulangkan hanya beberapa orang saja.

Berdasarkan catatan Eliza Scidmore yang empat tahun usai terselenggaranya acara tersebut mengunjungi orang Indonesia yang terlibat, mereka mengatakan bahwa tak mendapat bayaran sedikit pun. Bahkan perjalanan ke Chicago itu dianggap merupakan sebuah hadiah lantaran mereka sudah rajin bekerja. (re2)

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close