Trending

4 Fakta Pulau Natal, dekat dengan Indonesia tapi milik Australia

Di selatan wilayah Indonesia terdapat sebuah pulau dekat dengan Indonesia tapi termasuk wilayah Australia, bernama Pulau Natal.

Indonesia sebagai negara kepulauan dikenal sebagai salah satu bangsa dengan sumber daya alam yang kaya, pulau kecil hingga besar terbentang dari Sabang hingga Merauke.

Pulau-pulau tersebut merupakan sebidang tanah yang menonjol keluar dari permukaan air dan dikelilingi oleh perairan, seperti laut, sungai, maupun danau.

Baca juga: Bikin bangga, ini alasan Surabaya menyandang julukan Kota Pahlawan

Disitat Katadata, berdasarkan informasi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang dipublikasikan dalam Buku Statistik Indonesia 2018, pada tahun 2017, Indonesia memiliki 16.056 pulau. Jumlah ini berkurang sebanyak 1.448 pulau, lebih sedikit dari sebelumnya yang mencapai 17.504 pulau.

Banyaknya gugusan pulau di Indonesia, terutama pulau-pulau yang tak berpenghuni, membuat beberapa negara berusaha mengadopsinya. Seperti halnya yang terdapat pada pulau di bagian selatan Pulau Jawa, yakni Pulau Natal atau Christmas Island.

Pulau Natal hanya berjarak 360 Km dari Pelabuhan Ratu, Pantai Selatan Pulau Jawa (Indonesia). Sedangkan jarak terdekat dari Australia (Pulau Cocos) ke Pantai Natal hingga 975 Km.

Pulau Natal. Foto: ibnuhasyim.com
Pulau Natal. Foto: ibnuhasyim.com

Jika kita melihat jarak tersebut, maka Pulau Natal lebih layak masuk ke dalam wilayah Indonesia. Ditambah pulau ini sudah lebih dulu dijelajahi orang dari bangsa kita. Tapi jangan salah, ternyata pulau ini merupakan salah satu pulau milik Negeri Kangguru. Loh kok bisa ya?

Berikut fakta-fakta Pulau Natal yang dirangkum Hops.id dari berbagai sumber:

Alasan Pulau Natal dimiliki Australia

Semasa perang dunia pertama dan kedua, pulau ini sudah dipakai tentara sekutu terutama Inggris sebagai pangkalan militernya. Pangkalan ini dikhususkan untuk menghadapi Jepang yang semakin luas dalam mengekspansi wilayah jajahannya.

Namun ketika Indonesia belum resmi merdeka, tepatnya 31 Mei 1942 Jepang telah menguasai pulau ini. Setelah beberapa negara seperti Inggris, Belanda, dan Jepang secara bergantian menguasainya, pulau ini resmi jatuh kepemilikannya kembali ke Inggris.

Pulau Natal. Foto: arrivalguides.com
Pulau Natal. Foto: arrivalguides.com

Hal itu disebabkan Jepang diserang bom atom dan mengaku kalah dalam Perang Dunia II. Negeri Sakura itu pun menyerahkan pulau ini tanpa syarat ke pihak Inggris.

Pulau ini sangat strategis untuk menggapai belahan benua lain, oleh sebab itu Inggris tidak ingin kehilangan pulau ini. Setelah perang dunia kedua usai, Australia sebagai negara persemakmurannya (Commonwealth Country) yang paling dekat dengan Pulau Natal mendapat mandat untuk menjaganya.

Saat ini, Australia masih menggunakannya untuk kepentingan militer, tentu di dalamnya terdapat Inggris dan AS yang bisa memakai akses pulau ini dengan leluasa.

Memiliki potensi yang luar biasa

Selain kepentingan politik dan militer, Pulau Natal menjadi destinasi wisata mancanegara. Pulau berpasir putih ini, banyak terdapat tempat penginapan, perjudian, hingga menjadi penghasil fosfat yang melimpah.

Banyak para pekerja asal Tiongkok yang didatangkan sebagai pekerja tambang ke sini. Beberapa sumber juga mengatakan perairannya menjadi tempat bagi ribuan ikan dan kepiting.

Robby Sumampo, orang Indonesia sekaligus pengelola resort di Pulau Natal mengaku Australia mendapat pemasukan dari sektor pajak aktivitas Pulau Natal hingga Rp3,5 miliar setiap tahunnya.

Pulau Neraka bagi imigran gelap

Pulau yang sebenarnya secara kasat mata sangat indah dan jauh dari gambaran neraka ini, ternyata dipergunakan Australia sebagai pengamanan terhadap imigran gelap.

Ilustrasi imigran gelap. Foto: Global Times
Ilustrasi imigran gelap. Foto: Global Times

Imigran yang mencoba mendekati Pulau Natal apalagi Pulau Australia, petugas pengamanan dengan sigap akan menahan kapal tersebut dan membawa para imigran ke tahanan yang terdapat di Pulau Natal.

Sebelum dikembalikan ke negara asal, para tahanan akan diinterogasi dan ditahan di penjara yang sangat panas dan gersang. Penahanan dalam kondisi tersebut, diyakini dapat membuat para imigran jera untuk kembali ke sana.

Penduduk lokal berasal dari bangsa melayu

Walaupun beberapa kali berpindah kepemilikan, penduduk lokal di Pulau Natal masih serumpun dengan bangsa Indonesia. Mereka yang tinggal di sini, masih keturunan orang Melayu Bugis.

Pada masa kerajaan, orang Bugis sering ke Pulau Natal sebagai tempat singgah saat berdagang. Dari berbagai aktivitas pelayaran tersebut, diyakini beberapa orang memutuskan untuk menetap dan menjadikan Pulau Natal sebagai tempat tinggal.

Pengakuan pulau dekat wilayah Indonesia sangat mirip dengan halnya yang terjadi di beberapa pulau Indonesia lainnya seperti Pulau Sipadan, Pulau Ligitan, serta Kepulauan Ambalat dan Natuna.

Kontroversi dan pengakuan selalu saja terjadi, pemerintah sebagai pengatur kedaulatan negara harusnya dapat menindak tegas perebutan pulau seperti itu melalui jalur hukum internasional. (re2)

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close