Fit

6 Orang meninggal pasca disuntik vaksin covid-19 merek Pfizer, benarkah?

Vaksin Pfizer rencananya akan hadir awal tahun 2021 di Indonesia.

Pemerintah Republik Indonesia beberapa waktu lalu mengumumkan ada 6 kandidat vaksin yang akan beredar di Indonesia.

Nama vaksin tersebut adalah Bio Farma (vaksin Merah Putih), Astrazeneca, China National Pharmaceutical Group Corporation (Sinopharm), Moderna, Pfizer Inc and BioNtech, dan Sinovac Biotech.

Beberapa nama dari deretan vaksin tersebut juga turut digunakan di beberapa negara maju. Salah satu yang jadi kontroversil adalah vaksin Pfizer.

Pada Desember 2020, sejumlah negara tercatat mengizinkan vaksinasi COVID-19 menggunakan vaksin asal Amerika Serikat, Pfizer. Negara-negara itu di antaranya AS, Inggris, Kanada, Israel, serta Meksiko.

Meski demikian, sebuah informasi yang sumbernya simpang siur beredar di media sosial. Dalam info tersebut dikatakan seorang pengguna Twitter baru-baru ini ada enam orang meninggal setelah mendapatkan suntikan vaksin Pfizer saat proses uji coba.

“Vaksin corona lebih merusak daripada Corona! Enam orang meninggal dalam uji coba vaksin Corona Pfizer. Enam orang meninggal setelah menerima vaksin uji yang diproduksi oleh perusahaan farmasi Amerika Pfizer dan perusahaan Jerman Bayon-Tech, menurut FDA. Mereka kehilangan nyawa,” demikian isi narasi yang beredar di Twitter setelah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia.

Ilustrasi vaksin virus corona. Foto: Pexels
Ilustrasi vaksin virus corona. Foto: Pexels

Namun, benarkah enam orang itu meninggal setelah mendapatkan suntikan vaksin Pfizer?

Meski terdengar nyata, namun nyatanya itu cuma berita hoaks. Dilansir laman ANTARAnews, yang mengutip Bloomberg menyebut dalam laporannya berjudul “Pfizer Shot Effective, Safe, FDA Staff Says Before Meeting”.

Lewat hasil penelitian itu, disenyebutkan bahwa ada enam orang yang meninggal saat proses uji klinis dari 44.000 relawan. Tapi, enam orang itu bukan meninggal akibat mendapatkan suntikan vaksin.

Ilustrasi vaksin COVID-19. Foto: Dimitri Houtteman
Ilustrasi vaksin COVID-19. Foto: Dimitri Houtteman

Pada tahap uji klinis, sebagaimana dimuat Bloomberg, enam orang yang meninggal itu ada dalam dua kelompok berbeda, kelompok penerima vaksin dan kelompok plasebo.

“Dua dalam kelompok vaksin berusia lebih dari 55 tahun. Satu meninggal karena serangan jantung 62 hari setelah vaksinasi dan yang lainnya karena arteriosklerosis, suatu kondisi di mana pembuluh darah dapat mengeras seiring bertambahnya usia, tiga hari setelah vaksinasi,” demikian disebutkan artikel tersebut.

FDA pun memberikan izin penyuntikan vaksin COVID-19 yang dikembangkan Pfizer bersama mitranya dari Jerman, BioNTech. Vakin itu diklaim efektif hingga 95 persen untuk mencegah COVID-19.

Sementara itu, vaksin Pfizer diketahui telah diuji secara luas pada lebih dari 30.000 sukarelawan dan belum diamati membawa reaksi merugikan atau efek samping yang dapat memengaruhi fungsinya.

Selain itu, pembuatan vaksin tidaklah main-main namun sebagian besar uji coba diatur di bawah lingkup Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan tunduk pada norma-norma yang ketat.

Tidak ada uji coba yang membedakan antara relawan pria dan wanita. Oleh karena itu, kemungkinan adanya vaksin yang buruk hanya untuk satu jenis kelamin belum bisa dibuktikan.

Selain itu hingga saat ini tidak ada relawan perempuan yang menyatakan bahwa vaksin menyebabkan efek samping parah.

Sebagian besar vaksin Covid-19 yang saat ini sedang dikerjakan membangun pertahanan tubuh dan meningkatkan jumlah antibodi untuk mencegah Covid-19.

Selain itu, belum ada dampak serius pada fungsi tubuh vital lainnya. Namun, perlu dicatat bahwa semua vaksin Covid-19 baru tidak ada yang 100 persen tanpa efek samping.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close