Hobi

Kisah sedih di balik serial 7 hari sebelum 17 tahun, ternyata…

Serial 7 hari sebelum 17 tahun lagi naik daun. Serial ini tayang di STRO, platform berbasis VOD (Video on Demand) asli dari Indonesia. Terbilang naik daun, lantaran banyak diburu pencinta film di Tanah Air.

Bagaimana tidak, serial tersebut menarik hingga 300 ribu peminat. Tak ayal, saat tayangan perdananya sempat terhenti di tengah pemutaran kedua, para pencintanya ramai-ramai melayangkan protes.

Muslima Fest

Di balik euforia serial tersebut, tersimpan kisah sedih di balik series 7 hari sebelum 17 tahun. Apa itu? Ya, ini berkaitan dengan isu perundungan atau bullying yang coba dikupas di kehidupan anak SMA di film ini.

Lyodra Ginting di sebuah episode. Foto: Twitter.
Lyodra Ginting di sebuah episode. Foto: Twitter.

Sang sutradara Rangga Nattra, memang sengaja mengangkat kisah kelam dan sedih yang terjadi di lingkup SMA. Alhasil serial terbaru ini mengupas kejadian-kejadian pilu yang dialami korban perundungan yang dirangkum dalam 7 episode.

Serial 7 hari sebelum 17 tahun relate keadaan

Sementara itu menurut produser Eksekutif STRO, Sarjono Sutrisno, serial ini memang dihadirkan untuk memberikan pelajaran agar tak ada lagi pelaku atau pun korban dalam lingkaran perundungan.

“Isu ini sengaja dipilih karena relate sekali dengan keadaan anak-anak sekolah, isu yang seakan dianggap normal untuk ada,” kata dia, disitat Nova.

“Padahal seharusnya ditumpas bukan jadi tradisi yang diwariskan ke adik-adik kelas mereka” ujar dia lagi.

Karena dianggap penting, maka pada episode pertama serial 7 hari sebelum 17 tahun, penonton langsung disuguhkan dengan kasus demikian. Termasuk perkenalan karakter-karakternya yang rumit dan menarik dengan menampilkan artis-artis 7 hari sebelum 17 tahun seperti Tissa Biani hingga Lyodra Ginting sebagai bintang utama.

Serial baru STRO. Foto: Twitter.
Serial baru STRO. Foto: Twitter.

Serial ini juga dibintangi oleh Endy Arfian, Marcell Darwin, hingga Ginanjar Sukmana.

Gandeng psikolog

Di satu sisi, Rangga Nattra menyebut kekerasa bukanlah point of view dari serial ini. Terpenting baginya, bukan drama, bullying, dan romance, namun juga terpenting untuk memanusiakan manusia.

“Hal‌ ‌tersebut‌ ‌seharusnya‌ ‌tidak‌ ‌dianggap‌ ‌sebagai‌ ‌hal‌ ‌lumrah.‌ ‌Oleh‌ ‌karena‌ ‌itu‌ ‌pihak‌ dari‌ ‌STRO‌ ‌sengaja‌ ‌mengangkatnya‌ ‌sebagai‌ tema,‌ ‌untuk‌ ‌menunjukkan‌ ‌bahwa‌ ‌perundungan‌ bukan‌ ‌hal‌ ‌yang‌ ‌patut‌ ‌untuk‌ ‌dibiarkan‌ ‌begitu‌ ‌saja,” kata dia.

Karena‌ ‌membawa‌ ‌misi‌ ‌memerangi‌ ‌tindakan‌ ‌bullying,‌ ‌STRO‌ kemudian mengklaim telah menggandeng‌ ‌Biometric‌ ‌Indonesia‌ sebagai‌ ‌partner.‌ ‌Biometric‌ ‌Indonesia‌ ‌merupakan‌ ‌lembaga‌ ‌konsultan‌ ‌psikologi‌ ‌terintegrasi,‌ yang‌ ‌menyediakan‌ ‌layanan‌ ‌konseling.‌

Jadi‌ ‌dengan‌ ‌menggandeng‌ ‌lembaga‌ ‌ini‌ ‌sebagai‌ ‌partner,‌ ‌pihak‌ ‌STRO‌ ‌berharap‌ ‌apabila‌ ‌ada‌ para‌ ‌penonton‌ ‌yang‌ ‌mengalami‌ ‌hal‌ ‌serupa‌ ‌dapat‌ ‌langsung‌ ‌mengadu‌ ‌ke‌ ‌sana.‌

‌Konsultan‌ ‌ini menerima‌ ‌pengaduan‌ ‌terkait‌ ‌dengan‌ ‌bullying,‌ ‌dan‌ ‌siap‌ ‌memberikan‌ ‌layanan‌ ‌konseling‌ untuk‌ ‌menyembuhkan‌ ‌trauma‌ ‌serta‌ ‌membuat‌ ‌korban‌ ‌dapat‌ ‌menemukan‌ ‌versi‌ ‌terbaik‌ dirinya.‌

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close