Trending

Ahli kriminolog bilang Yodi Prabowo jadi korban pembunuhan kamuflase

Walau kesimpulan sementara terkait kematian editor Metro TV Yodi Prabowo sudah diumumkan. Namun Polisi diminta untuk tidak terlalu cepat menutup kasus ini.

Hal itu disampaikan Ahli Kriminologi Universitas Indonesia, Ferdinand Andi Lolo. Kata dia, perlu adanya penyelidikan lebih lanjut guna mengungkap adanya kemungkinan lain penyebab kematian editor Metro TV Yodi Prabowo.

Baca juga: Keluarga masih yakin Yodi dibunuh, Polisi: Buat apa bohong, tak ada pentingnya

Kata Ferdinand, bisa saja ada penyebab lain atas tewasnya editor Metro TV Yodi Prabowo, seperti pembunuhan yang dikamuflase oleh pelaku. Apa itu maksudnya? Kata dia, disitat Suara, pembunuhan yang seolah-olah dibuat menjadi bunuh diri.

Editor Metro TV Yodi Prabowo yang tewas dibunuh. Foto: Youtube.
Editor Metro TV Yodi Prabowo yang tewas dibunuh. Foto: Youtube.

“Kalau kita lihat dari beberapa kasus kan, itu bisa saja itu adalah pembunuhan yang dikamuflase menjadi tindakan bunuh diri. Jadi ada rekayasa di TKP. Itu bisa jadi seperti itu. Tapi sejauh ini belum ada bukti yang menunjukkan itu,” kata Ferdinand, Rabu 29 Juli 2020.

Maka itu, kata dia, polisi saat ini sebaiknya tidak berpuas diri dengan kesimpulan sementara yang diumumkan atas penyebab kematian editor Metro TV Yodi Prabowo. Sebab, polisi juga dinilai perlu melakukan penyelidikan sementara guna memastikan bahwa editor Metro TV Yodi Prabowo benar tewas karena bunuh diri.

“Bukan berarti kalau tidak ada bukti (pembunuhan), berarti tidak ada kejadian itu. Makanya polisi diharapkan untuk bisa juga melihat beberapa kemungkinan lain.” “Jadi jangan hanya puas dan menyimpulkan satu kejadian itu, untuk memastikan betul-betul bahwa kematian korban itu adalah bunuh diri,” imbuhnya.

Kendati demikian, Ferdinand menilai kesimpulan sementara yang disampaikan oleh polisi terkait dugaan Yodi tewas akibat bunuh diri sudah tepat. Sebab, kesimpulan tersebut juga disampaikan oleh penyidik berdasar hasil pemeriksaan saksi, data, dan scientific investigation.

“Sejauh ini kan polisi belum menemukan adanya bukti atau petunjuk mengenai ada orang lain yang ikut berperan di dalam kematian itu. Jadi menurut saya sudah betul polisi menyimpulkan sementara, dengan menduga bahwa itu adalah bunuh diri. Namun, polisi juga jangan kemudian terlalu cepat menutup kasus ini. Polisi juga perlu melihat bisa juga ada kemungkinan-kemungkinan lain selain bunuh diri,” kata Ferdinand.

Polisi: Yodi tewas bunuh diri

Sementara itu, Aparat Kepolisian telah memberi kesimpulan pada kasus tewasnya editor Metro TV Yodi Prabowo. Menurut Polisi, Yodi tewas bunuh diri.

Sejumlah polemik pun dikait-kaitkan dengan alasan Yodi bunuh diri, mulai dari pemeriksaan HIV, penggunaan narkoba, hingga cinta segitiga. Belakangan, orangtua Yodi tak terima dengan kesimpulan yang dirilis Polisi. Mereka masih percaya hingga kini Yodi tewas dibunuh.

Terkait hal ini, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Tubagus Ade Hidayat menegaskan apa yang diyakini keluarga Yodi Prabowo adalah salah. Soal tak adanya darah korban apabila dikaitkan dengan bunuh diri di TKP, Polisi mengaku memiliki bukti.

Editor Metro TV Yodi Prabowo. Foto: Ist.
Editor Metro TV Yodi Prabowo. Foto: Ist.

“Banyak kok darahnya (darah di baju korban), ada di fotonya banyak,” ujar Tubagus, saat dikonfirmasi, disitat Selasa 28 Juli 2020. “Enggak foto yang di balik (telentang) banyak beredar. Darahnya banyak kok. Masak iya orang luka begitu enggak banyak darahnya. Enggak logis.”

Saat ditemukan di lokasi TKP, Polisi menemukan darah Yodi tidak hanya di baju, melainkan merembet ke tanah tempatnya telungkup.

“Itu di situ kan tanah, tanahnya merembes. Untuk apa juga itu dibohongi, enggak ada pentingnya. Cuma saya memahami kondisi psikologi keluarga,” ungkap Tubagus.

Tubagus menambahkan, Polisi tidak dapat memaksakan keyakinan keluarga Yodi untuk percaya atas kesimpulan tim penyidik.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close