Trending

Akademisi kecewa Megawati jadi profesor, politik rakus gerogoti moral: Nadiem bertindaklah!

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri bakal didapuk gelar Profesor Kehormatan dengan status Guru Besar Tidak Tetap oleh Universitas Pertahanan RI (Unhan). Banyak pihak yang menilai dengan diangkatnya Megawati sebagai profesor bukti dari semakin rakusnya politik sehingga menggerogoti moral jabatan akademisi.

Salah satu pihak yang mengkritisi pengangkatan Megawati tersebut ialah Pengamat Komunikasi Politik dari Universitad Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga.

Jamiluddin mengatakan padahal umumnya para akademisi yang ingin memperoleh jabatan akademik tertinggi, harus mengikuti proses yang terbilang cukup panjang, Bahkan pendidikan terakhirsnya harus berstatus sebagai lulusan S3 (Doktor).

Megawati Soekarnoputri
Megawati Soekarnoputri saat menerima doctor HC di Tokyo. Foto Instagram @puanmaharani | Akademisi kecewa Megawati jadi profesor, politik rakus gerogoti moral

Dia pun memaparakan secara khusus soal KUM yang biasa dijalani oleh para akademisi. KUM sendiri merupakan proses yang ditempuh dengan cara memenuhi berbagai unsur, di antaranya pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan unsur pendukung seperti mengikuti seminar ilmiah. Bahkan, akademisi juga harus menulis artikel yang dimuat di Scopus.

Terkait hal tersebut, Jamiluddin mengatakan, hingga saat ini saja banyak akademisi yang belum mendapat jabatan sebagai profesor dikarenakan terganjal pada pemuatan artikel di Scopus.

“Untuk Profesor Madya saja, akademisi harus memiliki kumulatif angka kredit (KUM) 850. Sementara untuk Profesor penuh diperlukan KUM 1000,” ujar Jamiluddin Ritonga, dikutip Hops dari berbagai sumber pada Kamis, 10 Juni 2021.

Praktik politis seakan makin vulgar di dunia akademisi

Melihat sulitnya akademisi menyabet gelar tertinggi akademik tersebut, dia merasa tidak adil kalau ada seseorang yang terkesan begitu mudahnya memperoleh jabatan profesor, seperti yang didapat Megawati.

Terlebih, dengan mudahnya Ketum parpol diangkat sebagai Profesor Kehormatan tersebut, menandakan bahwa moral akademisi sudah melorot digerogoti kepentinga politis.

Tentunya para akademisi bakal semakin kecewa karena praktik semacam ini justru dipertontonkan secara vulgar.

“Apalagi kesan politis begitu kental dari pemberian jabatan profesor tersebut. Para akademisi semakin kecewa karena melihat secara vulgar aspek akademis sudah berbaur dengan sisi politis,” ujarnya.

Oleh sebabnya, Jamiluddin mengimbau kepada sejumlah pihak yang terlibat, khususnya Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim agar segera menertibkan pemberian jabatan profesor.

“Sudah saatnya menteri pendidikan tidak lagi terlibat dalam pemberian jabatan profesor. Sebab, menteri sebagai jabatan politis tidak selayaknya terlibat dalam pemberian jabatan akademis,” tuturnya.

“Dengan begitu, kemurnian akademis akan lebih kental dalan penetapan profesor,” imbuhnya.

Walaupun tak lulus kuliah, Megawati bakal jadi profesor bergelar hampir 10 doktor

Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri kembali jadi sorotan usai disebut-sebut bakal mendapat gelar profesor dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan). Lebih mengejutkannya lagi, walaupun tak pernah lulus kuliah, Megawati bakal jadi profesor dengan gelar sembilan doktor.

Putri tokoh proklamator Indonesia ini bakal mendapat gelar Profesor Kehormatan tidak tetap pada Ilmu Pertahanan Bidang Kepemimpinan Strategik di Unhan.

Nantinya ketika pengukuhan, Megawati bakal menyampaikan sejumlah orasi ilmiah dengan judul ‘Kepemimpinan Strategis pada Masa Kritis’. Pidato tersebut bakal disampaikannya dalam acara Sidang Senat Terbuka dipimpin Rektor Unhan, Laksamana Madya TNI Amarulla Octavian.

Berdasarkan berbagai sumber yang beredar, salinan jurnal tersebut berhasil ditulis sendiri oleh Megawati berjudul “Kepemimpinan Presiden Megawati Pada Era Krisis Multidimensi, 2001-2004 (The Leadership of President Megawati In The Era Of Multidimensional Crisis, 2001-2004)”.

Dalam abstraksi jurnal ilmiah yang dikirim ke Unhan tertanda volume 11, nomor 1 tahun 2021 Jurnal Pertahanan dan Bela Negara, tampak Megawati menjelaskan secara singkat hasil dan temuan yang didapatkan dari penelitian.

Kemudian di jelaskan pula dalam masa pemerintahan Megawati yang terbilang singkat, dia mengklaim berhasil menyelesaikan berbagai krisis multidimensi yang dihadapi oleh Indonesia.

“Hasil temuan penelitian yang diperoleh antara lain, walaupun dalam masa pemerintahan yang relatif singkat, kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri berhasil mengatasi sebagian besar krisis multidimensi yang dihadapi oleh Indonesia saat itu,” tulis Megawati dalam bagian abstraksi jurnal.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Foto pdiperjuangan.id | Akademisi kecewa Megawati jadi profesor, politik rakus gerogoti moral

Sebagaimana diketahui, ibu dari Puan Maharani ini berhasil mengumpulkan sembilan gelar Doktor Honoris Causa (HC) dari berbagai univeristas dalam negeri dan luar negeri. Uniknya, pencapaian itu disabetnya meski dia belum pernah menyelesaikan kuliah di universitar mana pun.

Dalam sebuah acara, Megawati sendiri pernah menjelaskan alasan pribadinya mengapa dia tak lulus kuliah.

Dia menjelaskan, sempat mengecap perkuliahan di Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung pada 1965 silam. Namun tak bisa melanjutkan kuliah dan menyelesaikan pendidikan tersebut lantaran alasan kondisi gejolak politik saat itu.

“Hanya dua tahun kesempatan saya untuk belajar di Unpad. Kesemuanya memaksa saya untuk tidak melanjutkan kuliah di kampus ini,” tutur Megawati ketika menerima gelar doktor dari Unpad pada 25 Mei 2016.

Selain itu, mantan orang nomor satu di Indonesia tersebut juga pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia pada 1970, yang juga tak sampai lulus.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close