Trending

Akhirnya! Temuan baru Dr Hastry terkait kasus Subang, menjurus ke epitel

Ahli forensik, Kombes Pol Dr dr Sumy Hastry Purwanti SpF, DFM angkat bicara seputar temuan terbarunya di kasus pembunuhan Subang. Adapun dari hasil temuannya, diketahui jika salah satu korban yakni Amalia Mustika Ratu (23), melakukan perlawanan saat akan dibunuh.

Seperti apa penjelasannya? Setidaknya ada tiga poin penting yang disampaikan Dr Hastry di kasus pembunuhan Subang. Poin pertama berkaitan dengan perlawanan Amel, kedua soal banyaknya pihak yang coba memanggil jin qorin korban, dan ketiga asumsi masyarakat terkait kasus ini.

Muslima Fest

Seperti dikutip dari podcast Tribun Network, Selasa 19 Oktober 2021, Dr Hastry mengaku memang memerlukan autopsi kedua pada dua jasad korban pembunuhan Subang. Tujuannya untuk mengkonfirmasi autopsi pertama.

Dr Hastry sendiri tidak terlibat dalam autopsi pertama, karena dia tengah dalam tugas di Jawa Tengah, saat kejadian.

Dr Hastry sebut korban Subang melawan

Menurut Dr Hastry mengawali wawancara, autopsi terbilang penting dilakukan pada sebuah temuan jenazah. Sebab autopsi bisa menjelaskan secara forensik apakah jasad itu meninggal tak wajar, bunuh diri, kecelakaan, atau bahkan diracun sekalipun.

Dan dari temuan autopsi kedua, didapati fakta kalau Amel diduga melawan saat hendak dibunuh. Ini bisa dibuktikan setelah memeriksa sidik jari Amel. Dia mencurigai adanya bukti jejak pelaku. Yakni kulit pelaku yang terdapat di kuku.

“Sambil memeriksa sidik jari, kita lihat juga tanda-tanda di tubuhnya. Kalau ada perlawan, misalnya mencakar, memukul atau mencubit pelaku itu terlihat dari epitel yang tertinggal di kuku korban,” ujar dr Hastry.

Ahli forensik Dr Hastry. Foto: Ist.
Ahli forensik Dr Hastry. Foto: Ist.

“Jari-jarinya sekalian diambil untuk diperiksa DNAnya. Itu kita periksa lengkap,” tambahnya.

Selain itu, kuku yang diperiksa juga bisa mengetahui apakah ada jejak lain yang tertinggal. Misal rambut dan sebagainya. Hasilnya, bagian tubuh manusia itu akan diekstrak cocok dengan siapa DNA-nya.

Pernyataan Hastry kemudian juga disoroti oleh Youtuber Anjas di Thailand yang getol menganalisa kasus ini. Dosen asal RI yang mengajar di 3 universitas di Thailand itu menyayangkan Indonesia yang tak memiliki bank DNA.

Padahal kalau ada bank DNA, sesaat dites, akan langsung keluar nama siapa yang melakukan pembunuhan, baik itu saksi yang selama ini diwawancarai, bahkan hingga orang yang tak memiliki hubungan sama sekali dengan korban.

“Ini kendala, karena kita tak punya bank DNA, sehingga saat seminggu dilakukan, dan diketahui hasilnya tidak langsung keluar alamat, jenis kelamin, dan punya siapa DNA tersebut,” kata dia dikutip Hops.id dari saluran Youtubenya, Selasa 19 Oktober 2021.

Dr Hastry komentari jin qorin

Pada kesempatan itu, Dr hastry juga menjelaskan fenomena banyaknya pihak yang coba memanggil jin qorin korban pembunuhan Subang. Tak cuma satu, banyak sekali pihak yang coba melakukan itu.

Menurut Dr Hastry, dirinya bukan tidak percaya pada jin. Akan tetapi, jin sendiri ada yang baik dan tidak. Dan semua harus dibuktikan secara scientifik. Lantaran ini juga penting untuk penjabaran bukti di persidangan.

Makam Tuti dan Amel. Foto Ist.
Makam Tuti dan Amel. Foto Ist.

“Lalu kalau masuk pengadilan, ada hakim ada jaksa, masa jinnya didatengin,” katanya seraya tertawa.

Dia tentu menginginkan bukti yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.

Dia juga menyinggung poin ketiga, yakni asumsi-asumsi yang beredar di masyarakat. Menurutnya, sangat wajar jika masyarakat liar berspekulasi. Karena mereka tentu sangat ingin tahu sekali siapa sebenarnya pembunuh keji di tragedi Subang.

Akan tetapi, dia meminta agar masyarakat tetap sabar untuk menunggu hasilnya. “Wajar masyarakat ingin tahu, saya juga yang dokter forensik ingin segera selesai. Apalagi korban meninggal tak baik, tapi butuh waktu memang,” katanya.

Topik

1 Komentar

  1. Otopsi jenazah pada hari ke 40an, meskipun sdh membusuk atau hancur, msh dapat dilakukan ekstraksi DNA dg methode STR. Namun terjadi penurunan kadar dan kemurnian DNA secara sicnificant karena pengaruh tanah, air, dan mineral dlm tanah itu sendiri.
    Terlebih lagi bilamana ingin memperoleh hasil dr kemungkinan adanya DNA Penyerta pada jenazah, kondisi DNA Penyerta tentu akan hancur terlebih dahulu.
    Oleh sebab itu, tidak dapat terburu2 karena butuh waktu dan ketelitian sangat tinggi yg mungkin melibatkan pakar, baik Dalam dan Luar Negeri seperti dr Australia, Korea Selatan, atau Tiongkok, dengan peralatan yg lebih mumpuni.

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close