Trending

Alarm merah! Usai Mabes Polri diserang, Istana disebut bisa jadi target selanjutnya

Pengamat Terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Ridwan Habib menilai dengan adanya aksi terduga teroris menyerang Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) maka ini jadi semacam alarm merah bagi seluruh objek vital yang ada di Indonesia, terutama Istana Negara.

Ridwan Habib menjelaskan, aksi penyerangan di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan itu terlihat seperti aksi bunuh diri.

Hal tersebut lantaran secara psikologis bagi pelaku penyerangan, tentu dia sudah memahami bahwa risiko dari aksinya tersebut bisa membuat meninggal, apalagi dilakukan di tempat sekelas Mabes Polri dengan senjata api.

“Ini aksi bunuh diri karena otomatis seorang penyerang sudah tahu risikonya. Ketika dia serang Mabes Polri, apalagi dengan senjata api, maka risiko dia adalah mati,” kata Ridwan Habib, dikutip dari saluran YouTube KompasTV pada Rabu, 31 Maret 2021.

“Maka itu, diyaknini secara psikologis pelaku sudah mempersiapkan diri untuk mati. Kemudian, ini menggunakan senjata api, walaupun belum dipastikan apakah rakitan atau organik,” sambungnya.

Bom bunuh diri
Ilustrasi teroris bom bunuh diri Foto: Shutterstock | Usai Mabes Polri diserang, Istana disebut bisa jadi target selanjutnya

Ridwan menjelaskan pula, aksi penyerangan di objek vital semacam ini, bisa jadi alarm merah untuk semua institusi, termasuk Istana Negara yang harus mengantisipasi adanya kemungkinan penyerangan serupa.

Dia menilai, bisa jadi Istana Negara jadi sasaran selanjutnya dari penyerangan yang dilakukan oleh kelompok teroris tersebut secara beruntun.

“Cara ini membahayakan kalau jadi inspirasi objek vital yang lain. Ini jadi kewaspadaan alarm merah bagi semua institusi, termasuk Istana Presiden harus segera diantisipasi karena biasanya aksi mereka menyerang secara beruntun,” tuturnya.

Sebagai contoh, aksi penyerangan di salah satu Gereja Katolik, Kota Surabaya beberapa waktu silam. Hanya sehari berselang dari penyerangan tersebut, kemudian kantor polisi di Surabaya jadi target penyerangan selanjutnya.

“Contohnya aksi di Surabaya, di hari Minggu menyerang gereja, besoknya di hari senin serang Polrestabes Surabaya. Ini mirip-mirip, Makassar terjadi di Minggu dan hari ini langsung ke jantung Mabes Polri,” jelas Ridwan Habib.

Sosok terduga teroris Mabes Polri. Foto: Twitter
Sosok terduga teroris Mabes Polri. Foto: Twitter

Oleh sebab itu Ridwan Habib menilai, aksi penyerangan di Mabes Polri jadi peringatan yang cukup serius bagi aparat keamanan yang ada di seluruh wilayah Republik Indonesia.

Dia pun mengimbau kepada kantor polisi sekelas Polsek untuk tetap bersiaga dengan senjata yang memumpuni.

“Ini jadi peringatan cukup serius bagi aparat keamanan di seluruh Indonesia, termasuk di kantor polisi kecil seperti Polsek. Anggota Polisi di lapangan harus siaga penuh dengan senjata,” imbuhnya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close