Trending

Ali Ngabalin bongkar kisah sorban di kepalanya, ternyata akibat kenakalan

Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin mungkin merupakan salah satu sosok yang selalu identik dengan sorban di kepala. Sorban itu selalu melekat kemanapun dia pergi dan beraktivitas di luar rumah.

Namun, di balik sorban yang melekat di kepala Ali Ngabalin, rupanya ada kisah menarik di baliknya. Seperti apa?

Baca juga: Selalu bawa-bawa isu PKI, PKB bilang Gatot terlalu naif

Dalam program Saatnya Perempuan Bicara, di salah satu televisi swasta, Ali Ngabalin kemudian mengungkap cerita di balik sorban-nya itu.

Menurut dia, sorban itu dia kenakan usai permintaan orangtua. Ali Ngabalin yang mengenyam pendidikan di berbagai tempat, dianggap tak berubah kenakalannya usai pulang ke Fakfak. Dia tetap saja pulang larut malam hingga pukul 04.00 pagi.

Ali Mochtar Ngabalin, terlihat melepas sorban putih yang menutupi kepalanya. Ternyata ada alasan khususnya, loh.
Ali Mochtar Ngabalin, terlihat melepas sorban putih yang menutupi kepalanya. Ternyata ada alasan khususnya, loh. Foto: BBC

Perangai tersebut kemudian disorot orangtuanya. Atas itulah, orangtuanya kemudian memberi sugesti kepada Ali Ngabalin. Harapannya, agar kenakalannya bisa ditekan, yakni dengan cara pemakaian sorban di kepala.

“Waktu pulang sekolah, tidak berubah kelakuan, tetap main sama teman, pulang jam 4 pagi. Padahal, kata orangtua, setelah pulang harusnya menjadi contoh.”

“Akhirnya dikasih sugesti sama orangtua (sorban), dibacakan Yasin, disumpah, jangan sampai lepas. Orangtua enggak mau tanggung jawab kalau dilepas, karena Tuhan akan menghukummu,” kata dia disitat dari saluran Youtube SPB, Senin 28 September 2020.

Sekadar diketahui, Ali Ngabalin sendiri mengenyam pendidikan sampai tingkatan Magister di Universitas Indonesia. Pria kelahiran Fakfak, Papua Barat, 52 tahun silam itu juga merupakan jebolan IAIN Alauddin Makassar UP (1994), Ilmu Komunikasi UI (2001), dan Doktor dari Universitas Negeri Jakarta (2013) lalu.

Adapun saat disinggung pernah melepas sorban dan viral saat menjadi salah satu narasumber di Indonesia Lawyers Club, Ali Ngabalin bilang hanya sekadar iseng belaka.

Kata dia sembari bercanda, waktu itu dia pernah melepas sorban sesaat untuk sekadar mengetes apakah aura ketampanannya masih ada.

“Itu waktu mau pergi ke ILC, coba lah apakah dengan kopiah hitam ini gantengnya masih ada, atau gimana. Dan kata orang auranya masih ada. Abang bilang alhamdulillah,” katanya.

Menangis ingat jadi loper koran

Terlepas dari sorban yang melekat dan kelantangannya ketika berbicara, Ali Ngabalin mendadak menangis tersedu ketika disinggung masa kelam dalam hidupnya. Ya, saat dia masih menjadi orang susah karena keterbelakangan ekonomi.

Bahkan untuk menyambung hidup, Ali Ngabalin sempat menjadi seorang loper koran, juru tagih, dan sebagainya. Kisah Ngabalin menjadi loper koran sendiri terjadi pada usianya menginjak 15 tahun.

Profesi itu mesti dia tempuh, karena memang terdesak ekonomi. “Berjuang jadi loper koran waktu umur 15 tahun. Jadi sekitar 40 tahun yang lalu. Nunggu orang, menagih,” katanya sedih.

Atas hal itulah, dia kemudian mau merubah suratan takdir dengan berupaya menjadi orang sukses. Dia memilih nekat ke Makassar untuk mengadu nasib seorang diri bermodal sebungkus ijazah.

Ali Mochtar Ngabalin. Foto: Suara.
Ali Mochtar Ngabalin. Foto: Suara.

Di sana, Ngabalin kemudian tidur di masjid, sampai kemudian menjadi seorang penyiar radio Muhammadiyah.

“Saya harus ambil keputusan, enggak boleh kembali kalau sudah berhasil. Makanya saya sudah magister, sudah lulus dari UI, kemudian kembali,” katanya.

“Orangtua di Papua, banyak saudara, biaya itu sulit. Dulu enggak bilang ke orangtua mau cari duit di Makasar. Sulit hidup,” kata Ngabalin terbata-bata seraya menangis tersedu.

Siap kawal presiden

Dari kisah susahnya itulah, Ali Ngabalin yang identik dengan sorban ini memiliki keteguhan kuat untuk mengangkat derajat orangtua, saudara, dan daerahnya. Hingga kemudian kini menjadi salah seorang staf ahli KSP.

Dengan tugas baru yang kini tengah di embannya, politisi yang mantan anggota DPR Fraksi Partai Bulan Bintang itu mengaku siap untuk mengemban tugas mengcounter isu-isu yang dianggap merusak NKRI, dan menjaga Presiden Jokowi dari fitnah dan bully-an.

“Kalau saya sudah sangat siap untuk menanggapi komentar netizen yang berbeda kubu itu dengan segala konsekuensi. Sekalipun kebenaran diungkapkan. Kalau presiden dibully, difitnah, saya harus tampil untuk bisa melakukan klarifikasi terhadap semua informasi bohong itu,” kata Ngabalin tegas.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close