Trending

Analisa tajam Rocky soal Anies: Sebut Mahfud di belakang semua ini

Gubernur DKI Anies Baswedan belakangan ramai menjadi sorotan usai namanya turut diseret-seret dalam pemeriksaan atau klarifikasi oleh Polisi. Atas hal ini Pengamat Politik Rocky Gerung pun memberikan analisanya, termasuk turut menyebut-sebut nama Menkopolhukam Mahfud MD.

Sekadar diketahui, Anies turut diminta klarifikasinya oleh Polisi terkait acara di kediaman tokoh sentral FPI Habib Rizieq Shihab, di Petamburan, Jakarta Pusat. Menurut Rocky, sangat mengherankan Polisi memanggil kepala daerah sekelas Anies untuk pemeriksaan yang dianggap mengada-ada.

Baca juga: Najwa ke Wagub DKI: Tegas mengimbau, tapi kok hadir ke acara Habib Rizieq?

Apalagi pemeriksaan dilakukan sampai 9,5 jam. “Padahal tinggal baca saja aturannya. Jadi terlihat Polisi terpaksa perpanjang pemeriksaan itu karena berupaya melayani kepentingan Istana tuh. Bahwa seolah-olah sudah diperiksa, dan ditemukan deliknya, karena Istana berharap Anies itu kena delik,” kata Rocky di saluran Youtube-nya, disitat Kamis 19 November 2020.

Di satu sisi, kata dia, Polisi sebenarnya tahu jika tak mungkin Anies diberikan delik lantaran sifat undang-undang yang tidak punya kekuatan hukum.

Apalagi agak mengherankan jika UU karantina itu tidak diberlakukan karena Presiden Jokowi menginginkan PSBB.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Foto: Antara.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Foto: Antara.

“Jadi mestinya ada tim (Istana) yang membaca itu. Dia enggak mengerti bahwa Polisi juga kesulitan untuk menegakan hukum terhadap sesuatu yang tidak konstan,” katanya.

Mahfud tak bisa olah informasi

Rocky Gerung berujar kejadian yang kini menimpa Anies Baswedan disebabkan Istana tidak memiliki kemampuan untuk mengolah informasi. Rocky lalu menyebut nama Mahfud MD.

“Seluruh kejadian terhadap Anies itu karena Istana tidak punya tingten yang mengolah informasi, masa Mahfud (Menkopolhukam) sendiri enggak punya pengetahuan Undang-Undang karantina tidak diberlakukan karena presiden ingin PSBB,” katanya.

Hal ini karena Istana justru mengolah informasi dari pendekatan opini publik. Padahal, kata Rocky, Pangdam Jaya dan Kepala Satgas Covid saja tidak menyudutkan Anies. Semua, disebabkan oleh sikap Mahfud MD yang juga tak bisa mengolah informasi.

“Jadi sebenarnya Mahfud punya gara-gara semua ini, karena enggak ada koordinasi. Lho, Mahfud kan Menkopolhukam, yang membawahi semua informasi publik, informasi BIN, informasi intelijen TNI, informasi Polisi. Tapi dia enggak bisa olah.”

“Karena dia menunggangi dukungan palsu dari relawan, dia pikir buzzer itu benar-benar memberi informasi lebih baik daripada intelijen, daripada polisi. Itu kesalahannya. Padahal dia punya kapasitas. Sementara yang keluar dari Mahfud selalu berupaya menghukum, menghukum Anies, menghukum Habib Rizieq, macam-macam kan, jadi itu soalnya tuh,” kata Rocky tajam.

Tak ada sanksi pidana

Kolumnis Hersubeno Arif yang menjadi pemandu acara kemudian menjelaskan adanya berita lawas yang menyebut jika Mahfud pernah mengatakan hal penting. Mahfud pada berita itu dengan tegas bilang kalau sebenarnya tak ada sanksi pidana bagi pelanggaran covid-19.

Itu artinya, dia sebagai profesor hukum dinilai sangat ahli dan tentu paham dengan ketentuan yang berlaku.

Kemenko Polhukam Mahfud MD
Kemenko Polhukam Mahfud MD. Foto: Instagram @mohmahfudmd

Hal inilah yang kemudian disindir Rocky ke Mahfud sebagai sebuah salah satu agenda kepentingan. Sebab sebelum beliau masuk Istana, Mahfud disebut sangat otonom dalam memberikan analisa.

Tetapi semua berubah ketika dia masuk Istana, dan bergaul dengan buzzer, serta komisaris yang notabene berasal dari para relawan Jokowi.

“Jadi sudah beda suasana akademis. Dia kena pengaruh buzzer. Dia kan kini enggak punya akses lagi pada intelektual, ahli hukum. Sementara ahli yang ada di Istana, memang diset lebih panjang lidahnya ketimbang otaknya. Fungsinya memang menjilat,” katanya lagi.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close