Trending

Sriwijaya SJ 182 terbang janggal dan pilot disorientasi?

Analisis data penerbangan Sriwijaya SJ 182 menunjukkan ada kemungkinan penyebab jatuhnya pesawat yang terbang dari Jakarta tujuan Pontianak tersebut. Analisis data dari Flightradar24.com dan Kementerian Perhubungan, menunjukkan perjalanan Sriwijaya SJ 182 janggal, hendak pindah jalur dan pilot alami disorientasi, kemungkinannya begitu.

Data penerbangan rute Jakarta Pontianak menunjukkan ada yang berbeda untuk penerbangan pada 3 Januari 2021 dengan rute penerbangan Sriwijaya SJ 812 pada 9 Januari 2021.

Menurut ketentuan prosedur keberangkatan yang dirilis Kementerian Perhubungan, ada dua jalur rute penerbangan Jakarta-Pontianak, yakni Jalur Arjuna dan Jalur Abasa.

Nah analisis data penerbangan Sriwijaya SJ 182 menunjukkan, Sriwijaya SJ 182 terlihat tak melalui Jalur Arjuna dan menjelang titik hilang kontak, pesawat ini diperkirakan mencoba berpindah ke Jalur Abasa yang merupakan jalan pintas.

Nah pola ini menjadi perhatian dari pengamat penerbangan Gerry Soejatman.

Pindah jalur dari Arjuna ke Abasa

Jalur penerbangan Sriwijaya SJ 182
Jalur penerbangan Sriwijaya SJ 182. Foto BBC Indonesia

Dikutip dari laman BBC Indonesia, dua jalur itu dijelaskan secara detail. Jalur Arjuna merupakan jalur reguler untuk rute Jakarta-Pontianak, sedangkan Jalur Abasa merupakan jalan pintas untuk terbang menuju Pontianak.

Dalam skema Jalur Arjuna, setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta pesawat akan diarahkan ke titik Winar kemudian belok kanan menuju Jalur Arjuna. Dari jalur ini, selanjutnya pesawat akan bergerak timur laut dan menuju ke Pontianak.

Nah dalam beberapa kasus, pesawat akan diarahkan untuk melalui Jalur Abasa, yang merupakan jalur pintas rute terbang ke Pontianak.

Data yang diolah Flightradar24 dan Kementerian Perhubungan menunjukkan, penerbangan rute POntianak pada 3 Januari 2021 melewati Jalur Abasa ini.

Jalur Abasa ini biasanya dipakai dalam hal cuaca bersahabat, tak terhalangi awan tebal dan lalu lintas udara cenderung sepi. Begitu melalui Jalur Abasa ini, nantinya pesawat bisa langsung menuju fokus tujuan Pontianak.

Sekarang kita lihat data cuaca BMKG ya sobat Hopers. Jadi pada 9 Januari 2021, cuaca sangat tak bersahabat. BMKG merilis pada hari Sriwijaya SJ 182 lepas landas dan terbang, hujan derat disertai petir, jarak pandang cuma 2 kilometer. Namun cuaca ini pesawat tetap boleh terbang atau mendarat.

Nah pada penerbangan Sriwijaya SJ 182 siang hari itu, pesawat coba masuk ke Jalur Abasa.

Data menunjukkan pesawat tidak melalui Jalur Arjuna, tapi terbang lepas landas di antara dua jalur di atas. Nah melihat pergerakan Sriwijaya SJ 182, pesawat terlihat akan menuju Jalur Abasa, tapi tak terwujud lantaran pesawat oleng.

“Diarahkan ke jalur pintas itu bukan masalah dan wajar, tapi belum sampai (jalur pintas), dia terus oleng dan jatuh,” ujar Gerry Soejatman dikutip dari BBC Indonesia, jaringan Hops.ID.

Gerry menjelaskan dari peta pergerakan pesawat itu, terlihat ada fase oleng dan jatuh sebelum sempat masuk Jalur Abasa.

Pilot disorientasi

Pengamat penerbangan, Gerry Soejatman
Pengamat penerbangan, Gerry Soejatman. Foto Instagram @gerryairways

Melihat data Sriwijaya SJ 182 terjun dan anjlok signifikan saat bermanuver belok menuju ke Jalur Abasa, dari ketinggian 3.322 meter turun ke ketinggian 2.476 meter dalam waktu hanya 10 detik.

Dari ilustrasi berbasis data penerbangan Sriwijaya tersebut, Gerry melihat arah pesawat tampak oleng dan jatuh.

Gerry menduga si pilot alami disorientasi berdasarkan pergerakan pesawat itu. Namun dia menegaskan, dugaan ini perlu dikonfirmasi dari analisis data penerbangan pesawat. Apalagi dalam kecelakaan pesawat, dia meyakini, penyebabnya tidak tunggal, faktornya bisa banyak variabelnya.

“Ada kemungkinan disorientasi atau human factors. Tapi saya juga tidak bisa memastikan kapan disorientasi dimulai,” kata Gerry.

Gerry mengatakan, analogi disorientasi itu kalau jalan di ruangan gelap dan mata ditutup, kita berpikir ini tegak tapi ternyata miring, berpikir naik tapi ternyata turun. Sekalipun pilot senior bisa disorientasi, jelasnya.

Mengutip lama Federation Aviation Administration dikutip BBC Indonesia, disorientasi ruang terjadi karena ketidakmampuan tubuh untuk mengidentifikasi kondisi sekitar saat terbang.

Gangguan sistem keseimbangan tubuh bisa terjadi karena adanya gangguan sensor dan ilusi.

Tiga rangsangan sensorik yang berperan membentuk keseimbangan tubuh di antaranya penglihatan, saraf vestibular di telinga bagian dalam, dan proprioception atau persepsi rangsangan untuk mengetahui posisi tubuh.

Orientasi ruangan saat terbang sulit dicapai, tergantung dari arah, kekuatan, dan frekuensi stimulus ketiga sensor. Jika ketiganya tidak bekerja dengan baik, maka akan terjadi konflik sensorik yang menyebabkan otak tidak bisa mengidentifikasi arah dan posisi.

“Itu kenapa saat terbang harus mengandalkan instrumen dan manual,” katanya.

Soal variabel disorientasi ini, statistik FAA bisa menjadi pertimbangan. Gerry mengatakan statistik FAA sekitar 5 sampai 10 persen kecelakaan pesawat terjadi akibat disorientasi dan akhirnya jatuh banyak korban jiwa.

Kasus kecelakaan pesawat yang terjadi karena disorientasi ini terjadi pada pilot Ethiopian Airlines 409 jenis Boeing 737-800 yang jatuh di Beirut Lebanon pada 2010.

Hasil investigasi kecelakaan itu, pesawat terbang saat cuaca tak bersahabat, awan tebal langit hitam pekat. sudut kemiringan pesawat terlalu ke kanan pada saat terbang sesaat setelah lepas landas. Kemudian, alarm berbunyi agar menstabilkan kondisi.

Pilot menggeser ke kiri untuk menyeimbangkan, tapi kemudian justru sudut kemiringan yang diambil melebihi batas dan pesawat tidak seimbang.

“Ethiopian Airline 409 ini jatuhnya sama (dengan Sriwijaya PK-CLC). Setelah take-off, dia belok ke kanan, itu mulai parah disorientasi, kemudian belok ke kiri,” katanya.

loading...
Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close