Trending

Anies bikin kecewa, nelayan: Kami sudah berdarah-darah perjuangkan

Sejumlah warga pesisir Ibu Kota yang terkumpul dalam Forum Komunikasi Nelayan Jakarta, mengungkapkan kekecewaan terhadap janji palsu Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan terkait kelanjutan reklamasi di Teluk Jakarta.

Melalui ketua forum, Muhammad Tahir, pihaknya menegaskan akan melawan dan membawa massa lebih banyak apabila reklamasi tersebut terus dilanjutkan.

Baca juga: 6 Zodiak ini punya sifat posesif dan tukang ngatur pasangan

“Kalau tetap dipaksakan, kami akan melawan, saya akan membawa gerbong penolakan reklamasi dari persaudaraan nelayan Teluk Jakarta,” ungkap, Tahir di pantai Ancol, Jakarta Utara, pada Minggu, 5 Juli 2020, dikutip Suara.com.

Merasa perjuangkan Anies

Tahir pun memperingatkan Anies agar tak main-main dengan janjinya semasa kampanye. Lantaran saat pilkada 2017 silam mayoritas warga pesisir mendukung Anies karena janji kampanyenya menolak reklamasi di Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Foto: Antara.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Foto: Antara.

“Jangan main-main, nelayan dari Kamal Muara hingga Marunda telah ‘berdarah-darah’ memperjuangkan Anies sebagai gubernur,” lanjut Tahir.

Meski selama tiga tahun dalam memimpin Jakarta, Anies selalu menepati janji kampanyenya. Menurut Tahir, saat ini Anies justru mencederai hati masyarakat pesisir dengan mengeluarkan SK Gubernur tentang perluasan kawasan Ancol

“Kebijakan yang dikeluarkan gubernur benar-benar mencederai masyarakat nelayan,” tambahnya.

Sebagai warga Ibu Kota yang penghasilannya bergantung pada laut pesisir Jakarta, pihaknya menganggap, reklamasi yang akan dibangun di wilayah Ancol akan membuka kemungkinan kelanjutan pembangunan 17 pulau reklamasi lainnya.

Pasalnya, jika reklamasi dilanjutkan, kegiatan ini akan mengancam kehidupan nelayan di Jakarta.

ekskavator meratakan pasir di proyek reklamasi Pantai Ancol, Jakarta Utara
Sebuah ekskavator meratakan pasir di proyek reklamasi Pantai Ancol, Jakarta Utara, Selasa (17/4). (FOTO ANTARA/Andika Wahyu)

“Jika reklamasi Ancol dilaksanakan, maka 17 pulau reklamasi lainnya akan betul-betul berjalan,” jelasnya.

Oleh sebab itu, pihaknya mengatakan dengan tegas, menolak adanya reklamasi yang selama ini membuat para nelayan merasa tidak diberdayakan dan diperhatikan oleh Pemerintah Provinsi.

“Kami tetap konsisten menolak reklamasi karena itu membunuh kami sebagai nelayan,” kata Tahir.

Diketahui lebih lanjut, pada tahun 2018 silam, Anies sempat mencabut 11 izin pembangunan pulau reklamasi yang dua di antaranya adalah pulau K dan L. Tindakan Anies yang dianggap sesuai dengan janjinya pada masa kampanye ini, mendapat apresiasi dari sejumlah pihak.

Kendati demikian, secara tiba-tiba Anies justru menerbitkan kembali Keputusan Gubernur Nomor 237 tahun 2020 yang mengizinkan kelanjutan pembangunan reklamasi di Ancol.

Sejumlah pihak termasuk massa simpatisannya selama Pilkada 2017 lalu, mulai mengecam dan mempertanyakan motif Anies dalam melanjutkan proyek reklamasi tersebut. (CTH)

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close