Trending

Anies nggak punya buzzer? Kualitas demokrasi kadrun, adil saja tak mampu

Penilaian Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan nggak punya buzzer dalam menjalankan program pemerintahan dipandang lucu. Mana mungkin sekelas Anies nggak punya buzzer yang menyokong program di Jakarta. Ferdinand Hutahaean menyindir pengakuan warga yang menilai Anies nggak punya buzzer.

Kalau kamu percaya nggak Sobat Hopers? Jadi penilaian Anies nggak punya buzzer ini dianggap satu kekurangan si gubernur.

Kualitas demokrasi kadrun

Anies Baswedan. Foto: Suara
Anies Baswedan. Foto: Suara

Ferdinand Hutahaean menyindir penilaian warga DKI Jakarta soal kekurangan Anies Baswedan yang nggak punya buzzer.

Mantan politikus Partai Demokrat itu merasa aneh saja. Kalau nggak punya buzzer, terus siapa yang selama ini getol membela Anies dari serangan pengkritiknya di media sosial. Siapa pembela itu?

Ferdinand pun melempar tanya, siapa yang menyerangnya di media sosial kala dia mengkritisi kinerja Anies.

“Katanya @aniesbaswedan tak punya buzzer? Yang bener? Trus yang nyerang saya di IG di FB dan Twitter itu siapanya Anies? Ohhh pendukung..!” kicau Ferdinand di akun Twitternya dikutip Kamis 25 Februari 2021.

Ferdinand menilai kacau bila pelabelan ini nggak adil disematkan. Kalau untuk pendukung Jokowi disebut buzzer, sedangkan penyebutan untuk pendukung Anies itu cukup disebut pendukung saja.

“Kalau untuk Anies disebut pendukung, untuk Jokowi disebut Buzzer, penjilat. Begitulah kualitas demokrasi qadrun, adil saja tak mampu..!” tulis Ferdinand.

Anies nggak punya buzzer

Anies Baswedan saat mengunjungi kawasan Senen, Jakarta. Foto: Instagram @aniesbaswedan
Anies Baswedan saat mengunjungi kawasan Senen, Jakarta. Foto: Instagram @aniesbaswedan

Penilaian Anies nggak punya buzzer sebagai satu-satunya kekurangan si gubernur ini muncul dari Ketua RT warga Rawa Buaya, M Yusuf.

Jadi beberapa hari lalu wilayah RT 01 RW 02 Rawa Buaya yang ditinggali Yusuf dilanda banjir. Namun kurang dari sehari banjir sudah surut. Biasanya banjir merendam lingkungannya bisa mencapai 5 hari baru surut. Wilayahnya Yusuf kena banjir pada Sabtu pekan lalu dan Minggu malamnya sudah surut. Dia menilai cepatnya banjir surut lantaran ada penanganan cepat dari Pemprov DKI Jakarta, yang mengerahkan pompa air.

Karena itu ia menyanjung Anies dan menyebut kekurangan mantan Mendikbud itu adalah tak memiliki pendengung di media sosial atau buzzer.

“Karena ini cuman satu kekurangan Pak Anies, pak Anies tidak punya buzzer, hari ini benar-benar surut dan nggak pernah ada setingan apapun,” jelasnya dikutip Suara.com.

Anies woles soal buzzer

Gurbenur DKI Jakarta Anies Baswedan. Foto: Antara
Gurbenur DKI Jakarta Anies Baswedan. Foto: Antara

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan woles saja menanggapi kritik yang selalu menyasar padanya. Bagi dia, sudah wajar lantaran dia berada di pemerintahan, maka dia jadi sasaran kritik. Anies berpesan ke buzzer yang terus menyerangnya, agar hati-hati dengan apa yang ia ucapkan atau dituliskan.

Kritikan sekasar dan sekeras apapun, bagi Anies merupakan ungkapan publik atas jalannya pemerintahan.

Anies mengatakan sebagai pejabat publik dan pemerintahan, kritik adalah wajar saja. Makanya sejak dia masuk dala pemerintahan, Anies berusaha untuk tidak tipis kuping. Segala jenis kritikan, termasuk yang sekeras dan sekadar apapun ia nggak baper. Itu konsekuensi saja.

“Tapi kritik itu bukan hal baru kalau di wilayah publik, harus siap untuk jadi kotak pos kritik dari siapa pun,” tuturnya.

Untuk ungkapan kritik yang keras dan kasar, Anies menganggap itu memang kadar orang menyampaikan ungakapan uneg-unegnya saja.

“Bila ungkapan kritik diungkapkan kasar, itu memang ekspresi kemampuan dia. Bagi saya yang bekerja ini adalah ungkapan pendapat rakyat baik yang mendukung nggak mendukung, baik mencaci, baik yang kasar kata-katanya. Semakin kasar itu akan semakin memermalukan dirinya sendiri bukan ke saya,” ujar Anies dala ulang tahun tvOne ke-13 dikutip dari kanal Youtube tvOne, Selasa 16 Februari 2021

Menurutnya, makin keras kritik itu akan menjadi catatan keturunan pengkritik ke depan. Pun demikian dengan pejabat publik, sebab pada zaman saat ini, jawaban dari pejabat publik akan terekam oleh publik, jejak digital akan hampir permanen terekam.

“Termasuk bagi buzzer dan siapa pun, jangan sampai di kemudian hari harus men-delete yang ditulis. Ketika seorang men-detele yang ditulis itu sebenarnya dia sedang mengatakan saya malu pada diri sendiri,” jelas Anies.

Mantan Menteri Pendidikan itu mengatakan kritik yang ditujukan padanya adalah wajar dala ala demokrasi. Kritik pun barang baru dari dulu sih sudah ada, namun sekarang dengan era digital, kritik menjadi makin masif.

“Dari dulu sebetulnya sudah ada (kritik atau buzzer) tapi bedanya dulu kan obrolan warung kopi tak terdengar, sekarang ngobrol nge-tweet, ngobrol di mana nulis nge-tweet. Dulu telinga cuma dua sekarang seribu dua diribu,” ujarnya.

Anies berpesan ke pengkritik, teruslah bersuara namun jangan baper dengan menempatkan sebagai masalah pribadi.

Misalnya mengkritik untuk permasalahan di Jakarta, silakan saja pasti ada plus minusnya pengelolaan Jakarta. Namun Anies berdalih masalah di Jakarta ini bukan baru 3 tahun belakangan ini, namun sudah menahun berlalu-lalu.

“Ketika orang mengkritik rileks saja, anggap orang mengkritik itu bagian dari ungkapan pandangan,” ucapnya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close