Trending

Anies rela main jorok di Formula E, karena hidup-matinya di situ

Beberapa waktu lalu publik dipertontonkan aksi Gubernur Anies Baswedan yang merangkul pada Ketua Fraksi di DPRD dengan jamuan makan malam. Banyak pihak menyebut, ini terkait dengan ketakutan Anies, atas agenda interpelasi dari PSI dan PDIP untuk kasus Formula E.

Interpelasi sendiri merupakan hak bertanya dari anggota dewan kepada eksekutif berkaitan dengan kebijakan yang mereka lakukan, apalagi jika dianggap menimbulkan pertanyaan di masyarakat.

Namun ada hal yang mengherankan, karena bukannya menghadapi agenda interpelasi tersebut, Anies malah menyiapkan benteng pertahanan supaya interpelasi Formula E itu gagal dilakukan, dengan merekrut para Ketua Fraksi. Padahal sekali lagi, itu adalah hak untuk bertanya, bukan hak untuk menghakimi.

“Mereka (yang dirangkul Anies) adalah Demokrat, Gerindra, Nasdem, Golkar, PAN, PKS, PKB, dan PPP. Mereka bersekongkol mengagalkan hak bertanya yang diajukan oleh PDIP dan PSI. Ada apa? Ini yang jadi pertanyaan, apa yang dilakukan Anies dan anggota dewan tentu menghina logika berpikir kita,” kata pegiat media sosial Denny Siregar, dikutip dari saluran Youtube Cokro TV, Rabu 1 September 2021.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Foto: Antara
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Foto: Antara

Anies jorok di Formula E

Denny lantas mempertanyakan fungsi anggota dewan yang seharusnya memiliki tugas untuk mengawasi eksekutif, bukan malah bergandengan dengan Gubernur. Sebab ini merupakan kesalahan besar dalam fungsi pengawasan.

“Ini ibarat maling kerja sama dengan satpam, semua sepakat dengan satu tujuan. Saya jijik, kok bisa-bisanya pamer (makan malam),” katanya.

Seharusnya menurut dia, Anies tak perlu takut dengan interpelasi dari PSI dan PDIP soal Formula E jika dia tak salah. Sikapnya malah berbalik, bukan menyiapkan jawaban, malah menyiapkan lawan pendukung.

Denny sendiri mengaku sudah menebak jawaban Anies ketika ditanya mengapa memaksakan menggelar Formula E di tengah pandemi. Alasan pasti berkutat pada kebaikan pariwisata yang hancur karena pandemi.

Tetapi sebenarnya tak semudah itu, karena Pemda DKI sudah mengeluarkan dana Rp1 triliun. Andaipun Anies tetap ingin melanjutkan, karena uang Rp1 Triliun yang sudah dibayar tak bisa ditarik lagi, atau bisa hangus.

Anies Baswedan dalam World Economic Forum 2016 di Malaysia
Anies Baswedan dalam World Economic Forum 2016 di Malaysia. Foto World Economic Forum/Sikarin Fon Thanachaiary

Maka mau tidak mau acara itu harus digelar. “Dia harus pertanggungjawabkan dana APBD kepada negara. Yang aneh, hingga kini belum ada kepastian, di mana Formula E akan diselenggarakan di Jakarta. Kemarin katanya di Monas, sekarang diminta untuk bangun sirkuit lagi. Mau habis berapa ratus miliar lagi? Lalu memangnya bagaimana studi kelayakannya kok sudah bisa keluar dana Rp1 Triliun,” kata Denny lagi.

Anies bisa anjlok

Denny sudah bisa membayangkan betapa Anies sudah khawatir dengan interpelasi tersebut. Karena surveinya bisa anjlok. Padahal Anies disebut sudah dandan habis-habisan untuk itu.

Maka itu, Anies dinilai mulai memainkan politik kotor demi misinya terlaksana dengan merangkul ketua fraksi. “Yang penting misi terlaksana, sebenarnya dia lagi panik banget, karena ini hidup dan matinya dia, ini pertaruhan dia,” katanya.

Andaipun Anies berkelit uang itu bisa akan dikembalikan dari penjualan tiket, Denny meragukan. Makanya dia mulai khawatir dengan interpelasi. Apalagi jika interpelasi dilakukan dengan disiarkan live di Youtube.

Denny yakin Anies bakal grogi karena jutaan rakyat menonton. “Anies kan memang lagi cari panggung untuk naikkan suara. Tapi kalau dia tak mampu menari dan terpeleset, maka surveinya bakal jeblok, bahkan bisa di bawah AHY,” katanya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close