Fit

Asal usul istilah onani, kisah cucu pendiri Yehuda yang gemar buang-buang sperma

Onani kerap diartikan punya unsur negatif terutama bagi kesehatan. Onani atau yang kerap disebut masturbasi adalah kegiatan mengeluarkan sperma pria tanpa berhubungan seksual.

Siapa sangka ada sosok pria pencetus istilah onani di masa silam. Bagaimana kisahnya? Simak artikel berikut ini.

Muslima Fest

Asal usul onani tercatat dalam kitab

Secara ilmiah, onani bisa dibilang hal yang lazim secara biologis. Namun dahulu kala sebelum banyak pengetahuan soal seks, onani cukup tabu dan dilarang.

Di Inggris, dahulu orang-orang melarang aktivita masturbasi karena dilarang dari segi agama dan negara karena dianggap jadi sumber penyakit.

Namun penelitian kini menyebutkan onani masih aman dilakukan jika tidak berlebihan. Beberapa peneliti menyebut masturbasi dalam waktu dan durasi yang wajar bahkan punya dampak positif bagi kesehatan.

Kontrovesri soal aktivitas masturbasi ternyata tak lepas dari sejarahnya. Dilansir dari laman Kompas, Antropolog Michael S Patton dalam jurnal berjudul Masturbation from Judaism to Victorianism yang diterbitkan di Journal of Religion and Health Vol 24, mengungkap hal ini.

Yudaisme adalah kepercayaan tertua yang mengakar di Israel. Kepercayaan ini merupakan pertama kali kegiatan ini dianggap penyimpangan.

Dikisahkan dan ditulis dalam Kitab Genesis 38:7-10, cucu Yakub pendiri suku asli Yehuda yang bernama Onan tiba-tiba meninggal dunia.

Ilustrasi ereksi onani foto: Istimewa
Ilustrasi ereksi onani foto: Istimewa

Disebut bahwa sosok Onan meninggal lantaran gemar menyia-nyiakan ‘benihnya’ atau sperma. Padahal secara fisik Onan adalah pria sehat.

Di sisi lain, Onan juga kerap menolak berhubungan seks dengan istri untuk meneruskan keturunan.

Menurut Patton, apa yang dilakukan Onan secara teknis adalah coitus interruptus (metode tarik-keluar) agar tidak hamil.

Namun banyak yang menafsirkan kejadian itu sebagai ‘onani’. Nama Onan pun lantas diabadikan sebagai istilah untuk menyebut aktivitas onani.

Stigma negatif yang bertahan

Sejak itu, stigma negatif dan kontroversi pun terus menghantui aktivitas masturbasi, bahkan ada yang sampai menghukum pelakunya karena dianggap mengalami sakit kejiwaan.

Di akhir abad 19, bahaya masturbasi bahkan bergeser, tidak lagi dianggap sebagai penyebab kegilaan, namun dianggap sebagai penyebab neurosis atau gangguan jiwa. Kesalahpahaman ini terus berlangsung hingga abad 20.

Dunia baru membebaskan masturbasi dari berbagai tusuhan di era 1960-an. AS, disusul seluruh dunia, tak lagi membuat seks sebagai hal yang tabu. Para ilmuwan di abad 20 juga gagal membuktikan semua tuduhan terhadap masturbasi yang diyakini selama berabad-abad.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close