Fit

Mubazir! Dipesan jutaan dosis, Menkes baru sadar vaksin AstraZeneca kedaluwarsa Mei 2021

Vaksin AstraZeneca kedaluwarsa dalam waktu 3 bulan.

Vaksin corona AstraZeneca pada 8 Maret 2021 lalu tiba di Indonesia sebanyak 1,1 juta dosis. Namun hingga kini pemerintah belum mengedarkan vaksin tersebut secara luas.

Muslima Fest

Ada alasan tersendiri mengapa vaksin AstraZeneca belum masuk dalam program vaksinasi Pemerintah. Pasalnya, vaksin ini masih dievaluasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Terlebih, ternyata Pemerintah baru mengetahui bahwa masa simpan vaksin hanya memiliki masa simpan (shelf life) sampai Mei 2021.

Hal itu diungkapkan Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, Senin 15 Maret 2021.

“Yang critical sebenarnya AstraZeneca karena sudah datang, tapi kita baru tahu kalau exxpired-nya Mei,” Kata Budi.

Lebih lanjut Budi menerangkan bahwa biasanya masa kedaluwarsa vaksin covid-19 selama 6 bulan sampai 1 tahun, tapi ternyata AstraZeneca lebih pendek.

Karena masa kedaluwarsa yang pendek ini, alhasil terpaksa penggunaannya dikebut hanya dalam waktu 3 bulan. Di sisi lain badan kesehatan dunia (WHO) menganjurkan ada rentang pemberian dosis pertama dan kedua vaksin AstraZeneca yang direkomendasikan adalah 9-12 minggu.

Terkait hal itu, juru bicara vaksinasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan RI, dr Siti Nadia Tarmizi, ia mengatakan selain punya jangka kedaluwarsa yang pendek, saat ini pihaknya masih menunggu rekomendasi dari BPOM mengenai rentang terbaik untuk penyuntikkan dosis kedua vaksin AstraZeneca.

Lansia Vaksin
Lansia Vaksin foto: Pixabay.

“Kita tahu bahwa BPOM bukan hanya mengeluarkan izin penggunaan darurat, tetapi juga mengatur tentang indikasi serta rentang waktu yang paling optimal untuk mendapatkan imunogenitas yang terbaik,” kata dr Nadia dalam konferensi pers, Selasa 16 Maret 2021, dilansir laman Suara.

Namun, apabila keputusan BPOM tetap menganjurkan dosis kedua vaksin AstraZeneca harus diberikan dalam rentang waktu 9-12 minggu, maka sebanyak 1,1 juta dosis vaksin ini hanya akan digunakan untuk penyuntikkan dosis pertama saja.

Sementara untuk pemberian dosis kedua vaksin AstraZeneca kemungkinan akan diberikan setelah kedatangan vaksin pada batch berikutnya.

“Jadi kalau memang ini vaksin ini pada keputusannya dari Badan POM ini harus disuntikkan dalam rentang waktu 9-12 minggu. Tentunya kita tidak akan menggunakan vaksin yang 1,1 juta ini untuk menunggu sampai penyuntikkan dosis kedua,” jelasnya.

“Jadi kita akan berikan seluruhnya vaksin ini untuk penyuntikkan dosis pertama,” tuturnya.

Isu efek samping AstraZeneca

Selain pembelian vaksin yang terancam buang-buang anggaran, ada masalah lain yang cukup pelik di bicarakan di berbagai negara.

Diketahui sebelumnya, vaksin AstraZeneca bermeasalah di beberapa negara karena menimbulkan kematian akibat penggumpalan darah.

Jaksa penuntut di wilayah utara Italia Piedmont mengatakan pada Senin bahwa mereka telah menyita 393.600 dosis vaksin COVID-19 AstraZeneca setelah kematian seorang pria beberapa jam setelah dia menerima suntikan itu.

Ilustrasi botol vaksin Covid-19. Foto: WFAA-TV
Ilustrasi botol vaksin Covid-19. Foto: WFAA-TV

Pada Minggu, 14 Maret 2021, pemerintah daerah Piedmont menangguhkan penggunaan vaksin itu setelah Sandro Tognatti, seorang guru musik berusia 57 tahun, jatuh sakit dan meninggal dalam keadaan yang belum dijelaskan.

Tognatti mengeluhkan suhu tubuh yang tinggi pada malam hari dan merasa sakit lagi pada Minggu pagi dan meninggal tak lama kemudian.

“Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa pemberian obat secara terus-menerus di seluruh negeri tidak menyebabkan konsekuensi lebih lanjut (berbahaya atau fatal) sampai kami benar-benar yakin bahwa kematian (Tognatti) tidak dapat dikaitkan dengan inokulasi yang disebutkan di atas,” kata jaksa Teresa Angela Camelio dalam sebuah pernyataan.

Para hakim di Sisilia juga memerintahkan penyitaan vaksin AstraZeneca minggu lalu menyusul kematian mendadak dua pria yang baru-baru ini diinokulasi.

Namun, pemerintah Italia mengatakan tidak ada bukti hubungan antara kematian dan suntikan dan telah mengizinkan vaksin AstraZeneca untuk terus diberikan.

Sebaliknya, Irlandia, Denmark, Norwegia, dan Islandia semuanya telah menangguhkan penggunaan vaksin setelah masalah pembekuan darah, beberapa di antaranya berakibat fatal, pada orang-orang yang telah menggunakannya.

Diketahui, vaksin AstraZeneca dikembangkan atas kerja sama dengan Universitas Oxford. Vaksin ini telah diizinkan untuk digunakan di Uni Eropa dan banyak negara, namun belum mendapatkan izin dari regulator Amerika Serikat (FDA).

Perusahaan tersebut juga sedang mempersiapkan untuk mengajukan otorisasi penggunaan darurat di AS. Serta, mengharapkan data dari uji coba fase III di AS akan tersedia dalam beberapa minggu mendatang.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close