Fit

Gejalanya mirip, ini bedanya virus corona dan flu

Kurang dari tiga bulan, virus corona yang punya nama resmi COVID-19 sudah menjadi pandemi. Ratusan negara dan ratusan ribu orang terjangkit virus tersebut. Yang bikin tambah khawatir, gejalanya mirip influeza. Lalu, apa bedanya virus corona dan flu?

COVID-19 punya gejala yang tricky. Penyebarannya yang massif bisa jadi karena gejalanya mirip banget dengan common cold atau flu. Kurangnya pemahaman akan gejala COVID-19 bisa membuat pencegahan, tes dan pengobatan tidak dilakukan tepat waktu. Tapi, beberapa kriteria kunci bisa membantu mengidentifikasi kapan waktunya mencari bantuan medis terkait COVID-19.

Bedanya virus corona dan flu

“Kondisi seperti common cold atau flu musiman menjangkiti banyak orang dalam wilayah geografis yang sama. Tes bisa membantu mengisolasi dan mengidentifikasi jenis virus flu yang sudah diketahui. Pemberian pengobatan seperti antivirus untuk kasus flu babi bisa diberikan sesuai kebutuhan,” kata Dr Sandeep Budhiraja, direktur di Max Healthcare, New Delhi, dilansir dari laman Reader’s Digest.

Gejala khas flu di antaranya bersin-bersin, hidung tersumbat dan hidung berair yang biasanya enggak muncul banyak dalam kasus COVID-19. Gejala flu itu berlangsung dalam periode singkat, sekitar 3 sampai 5 hari. Biasanya penderita flu sembuh dengan sendirinya dengan pengobatan rumahan yang sederhana atau obat bebas.

Sementara pada virus corona, ditandai dengan demam di atas 37,8 C, batuk kering dan yang paling krusial, nafas yang pendek atau kesulitan bernafas. Hal itu menandakan paru-paru sedang mengalami infeksi.

Ilustrasi termometer. Photo: Pixabay

Baca juga: 5 Langkah tingkatkan sistem imun untuk cegah virus corona Covid-19

Mereka yang rentan COVID-19

Di antara mereka yang positif COVID-19, orang berusia lanjut, penderita penyakit yang menurunkan imunitas seperti diabetes, penyakit jantung serta ginjal memiliki risiko lebih tinggi terhadap paparan COVID-19. Begitu juga dengan mereka yang menjalani pengobatan penyakit imun. Orang dengan riwayat tersebut memerlukan perhatian yang lebih intensif.

Selain itu, beberapa kriteria berikut juga memiliki faktor tertular virus corona yang lebih tinggi:

  • Mereka yang traveling baik domestik maupun internasional dalam dua minggu terakhir ke tempat yang sudah terinfeksi COVID-19. Saat kembali ke daerah asalnya, orang itu harus melakukan karantina mandiri di rumah selama setidaknya dua minggu. Jika enggak ada gejala yang muncul atau gejala sebelumnya telah hilang, maka tidak ada langkah lebih lanjut yang diperlukan. Sebaliknya kalau muncul gejala, segera cari bantuan medis.
  • Kalau kamu enggak traveling ke mana-mana tapi melakukan kontak dekat dengan seseorang yang positif corona atau seseorang yang baru kembali dari daerah terdampak COVID-19.
  • Pekerja medis yang menangani kasus COVID-19. Atau kamu pernah mengunjungi RS atau fasilitas kesehatan tempat perawatan pasien COVID-19.

Tapi kalau kamu merasakan gejala penyakit yang mengarah pada COVID-19 meski enggak termasuk dalam salah satu kategori di atas, enggak ada salahnya memeriksakan diri. Mencegah lebih baik dari mengobati. Stay healthy everyone!

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close