Fit

Belajar agama dari internet dan Youtube tabrak hukum Islam? Ini kata Ustaz Nasih

Era modern membawa banyak kemudahan pada manusia, termasuk untuk urusan belajar agama yang kini bisa dilakukan di internet. Atas kemajuan teknologi pula, saat ini banyak bermunculan metode-metode belajar baru, yang seakan menembus sekat ruang dan waktu.

Bagaimana tidak, cukup mengketik apa yang Anda cari melalui Google, maupun Youtube, segala hal yang berkaitan tentang agama pun melimpah ruah, tersaji di internet. Kapan pun dan di mana pun.

Baca Juga: Pengakuan Aa Gym saat lagi jaya sampai turun pamor

Akan tetapi, masifnya penggunaan internet untuk belajar agama pun memunculkan persoalan baru, karena ada sejumlah kalangan yang menganalogikan itu salah.

Masjid
Masjid Photo: Pixabay

Sebab seolah menabrak hukum dan menjauhkan belajar agama secara tradisional dengan ustaz, mendatangi majelis-majelis, belajar kajian dari satu tempat ke tempat lain, yang dianggap lebih baik ketimbang dari internet.

Selain itu, belajar agama modal berselancar di jagad maya, dianggap bisa sesat, karena terkadang kita tak tahu siapa di balik penulis artikel yang kita baca atau penceramah yang kita dengarkan. Serta misi di balik apa yang kita baca dan kita dengar dari ilmu agama itu.

Salah kaprah

Terkait hal ini, cendekiawan muslim sekaligus pendiri Monash Institute Doktor Mohammad Nasih, angkat bicara. Dalam bincang santai antara Hops.ID dan Dompet Dhuafa secara live Instagram, Sabtu sore, 9 Mei 2020, Nasih selaku pembicara mengatakan, belajar agama melalui internet dibenarkan alias tidak mengapa.

Sejumlah alasan kemudian dikemukakannya. “Munculnya tema ini (belajar agama dari internet) tentu ada latar belakangnya. Sebab belakangan ada sejumlah pihak yang mengatakan jangan belajar dari Google, salah. Orang-orang itu sebenarnya yang salah menganalogikan,” kata Ustaz Nasih.

“Sebab bukan berarti kita belajar kepada Google, tetapi belajar dari orang-orang yang ada di Google, di internet. Jangan salah menganalogikannya,” katanya.

Pengajar yang acap memakai Alquran sebagai kurikulumnya ini kemudian memberi penjelasan. Kata dia, di era kemajuan serba canggih ini, sudah sepatutnya umat muslim turut menggunakannya dalam menimba kebaikan. Salah satunya belajar agama melalui internet.

Aplikasi Alquran. Foto: Quran Best
Aplikasi Alquran. Foto: Quran Best

“Padahal Google ini kalau kita analogikan, ibarat kampus, ada kelas-kelasnya, seperti website, ada Youtube, ada juga sosial media. Nah ini medianya. Ini kan ruang kita, di mana di dalamnya banyak guru-guru (Ustaz) di dalam kelas yang membagi ilmunya,” kata Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI ini.

Bagaimanapun, internet dianggap cukup membantu untuk belajar banyak hal. Sebab bukan cuma keburukan, tetapi banyak pula terserak kebenaran.

Cuma yang jadi titik poinnya, umat harus selektif kepada siapa harus belajar, dan benar-benar memfilter agar tak terjerumus ke hal yang salah.

“Internet sangat menguntungkan bagi kita buat belajar agama. Dahulu, banyak sekali kitab-kitab yang susah diakses, karena harganya yang mahal. Dulu cuma kyai-kyai besar yang punya. Nah, dengan adanya internet, kita bisa akses semua kitab, apa saja kita bisa baca dan unduh secara gratis,” katanya.

Kuasai dasar

Untuk memfilter diri ketika belajar agama di internet, Ustaz Nasih pun menganggap sebaiknya kita memiliki dasar pengetahuan. Menurutnya, umat Islam sebaiknya perlahan mempelajari bahasa Arab.

Ini menjadi salah satu alat pertama yang bisa digunakan untuk belajar tentang Islam di jagad maya. Adapun untuk orang awam justru dinilai lebih baik mempelajari dahulu bahasa Arab sebelum mempelajari lebih dalam.

pendiri Monash Institute Doktor Mohammad Nasih. Foto: IG.
Pendiri Monash Institute Doktor Mohammad Nasih. Foto: IG.

“Justru itu, karena awam itu kita harus belajar bahasa Arab. Dengan begitu kemudian kita bisa memahami makna di dalam Alquran.”

“Selain itu, kalau sudah menguasai alatnya, kita bisa belajar kepada siapa saja. Baik mendeteksi apakah ustaz yang kita serap ilmunya masuk akal atau tidak,” katanya.

Dia kemudian juga menyatakan kalau ada sejumlah alat lain yang bisa digunakan untuk belajar agama di jagad maya.

Agar tak tersesat dalam ajaran, dibutuhkan pondasi yang kuat, dengan banyak membaca, dan juga turut belajar melalui sejumlah kajian tatap muka secara tradisional.

Kalau sudah begitu akan ketahuan apakah ilmu yang kita dapat dari internet punya kelebihan dan kelemahan. “Pondasi itu yang membuat kita paham apakah apa yang disampaikan masuk akal atau tidak masuk akal, dan sesuai kaidah atau tidak.”

“Ibaratnya, seperti kita mau ke lautan luas. Nah sebelum kita belajar, kita mesti punya jaring, jala atau pancing, untuk mendapatkan ikan. Karena kalau kita tidak punya itu, maka kita akan kelelahan,” tutupnya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close