Trending

Benarkah menangis dapat membatalkan puasa? Begini penjelasannya

Kerap kita dengar desas-desus bahwa menangis dapat membatalkan puasa. Umumnya, hal tersebut sering diucapkan oleh orang dewasa kepada anak-anak. Namun, benarkah menangis dapat membatalkan puasa?

Dilansir dari laman resmi Nahdlatul Ulama, dalam berbagai kitab dijelaskan tentang berbagai perkara yang dapat membatalkan ibadah puasa. Hal ini seperti yang tertuang dalam kitab Matnu Abi Syuja’ berikut ini.

  والذي يفطر به الصائم عشرة أشياء : ما وصل عمدا إلى الجوف أو الرأس والحقنة في أحد السبيلين والقيء عمدا والوطء عمدا في الفرج والإنزال عن مباشرة والحيض والنفاس والجنون والإغماء كل اليوم والردة

“Yang membatalkan puasa ada sepuluh hal, yakni (1) sesuatu yang sampai pada rongga bagian dalam tubuh (jauf) atau kepala, (2) mengobati dengan memasukkan sesuatu pada salah satu dari dua jalan (qubul dan dubur), (3) muntah secara sengaja, (4) melakukan hubungan seksual secara sengaja pada alat kelamin, (5) keluarnya mani sebab bersentuhan kulit, (6) haid, (7) nifas, (8) gila, (9) pingsan di seluruh hari dan (10) murtad,” (Syekh Abi Syuja’, Matnu Abi Syuja’, hal. 127).

Ilustrasi Alquran
Ilustrasi Alquran. Foto Pixabay/TayebMEHZADIA

Jika dilihat dalam penggalan kitab tersebut, menangis tidak disbeutkan sebagai salah satu perkara pembatal puasa. Secara logis, mata bukanlah termasuk bagian dari jauf, serta mata tidak memiliki saluran yang mengarahkan benda menuju tengorokan. Dengan begitu, tidak mungkin ada benda yang dapat masuk menuju tenggorokan melalui mata jika seseorang menangis.

Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kitab Rawdah at-Thalibin:

فرع لا بأس بالاكتحال للصائم، سواء وجد في حلقه منه طعما، أم لا، لان العين ليست بجوف، ولا منفذ منها إلى الحلق

“Cabang permasalahan. Tidak dipermasalahkan bagi orang yang berpuasa untuk bercelak, baik ditemukan dalam tenggorokannya dari celak tersebut suatu rasa atau tidak. Sebab mata tidak termasuk jauf (bagian dalam) dan tidak ada jalan dari mata menuju tenggorokan” (Syekh Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Rawdah at-Thalibin, Juz 3, Hal. 222) 

Alquran
Jemaah membawa Alquran di Masjidil Haram. Foto Instagram @quranmushafmadinah

Kendati begitu, hukum menangis menjadi berbeda saat dalam keadaan tertentu. Misalnya, ketika air mata dari tangisan seseorang masuk ke dalam mulut dan bercampur dengan air liur lalu ditelan ke tenggorokan. Dalam konteks tersebut, air mata tersebut dapat membatalkan puasa.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close