Trending

Berapa cuan lenyap di tragedi kilang Balongan, Kurtubi: Jutaan dolar terbakar!

Kilang Pertamina Balongan di Indramayu terbakar hebat pada Senin 29 Maret 2021 lalu. Titik kebakaran terjadi pada tangki T-301G. Saking hebatnya kebakaran di kilang Balongan, api bahkan baru bisa padam usai beberapa hari melalap.

Sejumlah pihak pasti penasaran dengan berapa banyak kerugian atas tragedi itu. Pengamat energi Kurtubi pun memberi gambarannya.

Sebelum masuk ke sana, Kurtubi lebih dahulu menjelaskan jika kilang Balongan dibangun atas mimpi indah pada waktu itu. Ya, kilang Balongan bisa dibilang cukup istimewa bagi Indonesia. Sebab kilang ini dibangun agar produknya bisa diekspor.

“Tahun 1975 kita ekspor minyak mentah luar biasa. Tahun 1980 melonjak. Indonesia adalah negara kawasan dengan eksportir terbesar di Asia Tenggara,” katanya dalam laporan investigasi, dikutip Selasa 13 April 2021.

Kilang Balongan. Foto: Kemhan.
Kilang Balongan. Foto: Kemhan.

Akan tetapi capaian itu lantas belum membuat Indonesia saat itu puas. Maka kemudian dibangunlah kilang Balongan. “Karena kualitas ekspor, maka kita kejar kualitasnya harus kualitas tinggi dan ramah lingkungan. Sehingga kilang Balongan dibangun menggunakan teknologi termutakhir pada zamannya waktu itu,” terangnya.

Saking canggihnya, kilang Balongan bahkan bisa mengolah minyak mentah berat yang kental dan hitam sekalipun.

Kilang Balongan rawan terbakar sejak awal

Akan tetapi banyak pula yang abai terhadap keamanan dan keselamatan dari kilang Balongan ini. Sebab, banyak pakar dan pihak sudah mewanti-wanti sejak lama jika industri, pabrik, yang mau dibangun ketika itu amat sangat rawan api. Bahkan kilang Balongan disebut rawan api dari ujung sampai akhir.

Maka tak heran jika kebakaran terjadi, api nampak sangat masif melalap. Kurtubi lantas memberi gambaran seperti apa kilang Balongan terbakar itu.

“Ini kebakaran luar biasa, ini masif kebakarannya. Saya pikir tiga, ternyata belakangnya empat. Ini tangki timbun ya. Nah pada waktu itu kita belum tahu berapa volume BBM yang ada di setiap tangki timbunnya,” kata dia.

Kilang milik Pertamina Balongan terbakar. Foto: Twitter.
Kilang milik Pertamina Balongan terbakar. Foto: Twitter.

Jika menghitung fuel tank, maka tak terbayang berapa besar cuan yang terbakar sia-sia atas insiden tersebut. “Wah, ini habis jutaan dolar lah ya. Asapnya luar biasa, dan (apinya) lama. Itu kalau 10 ribu literan, 20 ribu literan sebentar. Ini kan sampai berhari-hari,” tambahnya.

Sejauh ini dia masih menunggu penyebab pasti terbakar-nya kilang Balongan. Namun yang sudah-sudah, kata Kurtubi, biasanya terjadi karena masalah kebocoran, entah dari pipa atau kilangnya.

Kurtubi mengaku tidak tahu persis bagaimana SOP di lapangan untuk kontrol terhadap fisik infrastruktur yang rawan bocor.

Ganggu pasokan nasional

Pada kesempatan itu Kurtubi juga menyinggung dampak dari kilang Balongan yang terbakar. Kata dia, ini lebih daripada mengganggu pasokan nasional. Sebab Indonesia akan kehilangan suplai BBM secara fisik secara nyata.

Bayangkan, jika dalam satu hari bisa memproduksi 100 ribu barel, akan berapa yang hilang jika tak beroperasi selama 10 hari, atau bahkan terus daripada itu.

“Kalau 10 hari, wow banget itu. Nah masalahnya BBM-nya ini kan untuk Jakarta dan Jawa Barat.”

Kurtubi bilang kondisi pengilangan kita saat ini masih jauh dari kebutuhan. Padahal kita harus belajar dalam dunia migas nasional soal pengalaman pahit terbakarnya beberapa kilang selama ini.

Mobil tangki bahan bakar Pertamina
Mobil bahan bakar tangki pertamina Foto: Pertamina

Ditambah kita adalah bangsa yang sangat membutuhkan BBM besar. Meksipun nantinya akan ada program pengurangan energi fossil termasuk minyak, yang ditargetkan pada 2050.

“Nah saat ini sudah sejak 20 tahun yang lalu produksi minyak mentah kita anjlok. Kita berubah menjadi negara pengimpor minyak mentah. Hampir sekitar 50 persen kita impor. Karena sudah lama Pertamina sudah tidak membangun kilang.”

“Dan kilang terakhir yang dibangun Pertamina inilah kilang Balongan, yang dibangga-banggakan. Awalnya didedikasikan untuk ekspor awalnya. Tetapi masih tetap saja kekurangan (kebutuhan Nasional).”

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close