News

Bursa transfer TKA China menguat, Fadli Zon: akal sehat telah dihina

Bursa transfer tenaga kerja asing asal China kembali menguat, setelah muncul kabar akan ada 500 TKA masuk ke Indonesia akhir Juni ataupun awal Juli mendatang. Kedatangan mereka diklaim guna mempercepat pembangunan smelter dengan teknologi RKEF dari China.

Ketidaksetujuan keputusan mendatangkan kinerja asing asal China seperti biasa dikritisi Fadli Zon, yang mengaku mendukung kritikan Said Didu yang lebih dulu memposting soal TKA China. Dalam dukungannya tersebut, Fadli Zon menulis rencana tersebut menjadi dalih yang menghina akal sehat.

“Memasukkan TKA China ke Indonesia karena alih teknologi. Sesungguhnya dalih yang menghina akal sehat,” tulis Fadli melalui akun twitter pribadinya.

Jika ditelusuri maksud tersebut, Fadli Zon menilai mendatangkan TKA tersebut tak masuk akal mengingat banyaknya sumber daya manusia yang mampu melakukan proyek yang tengah dijalankan, meski teknologi yang digunakan dari China.

Cuitan Fadli Zon terkait TKA China masuk Indonesia Foto: twitter

Senada dengan penjelasan tersebut, Said Didu, juga mengungkap sejarah kemampuan SDM di Indonesia yang telah mampu memproduksi nikel dan baja sejak tahun 60-an. Sehingga kemampuan tersebut bisa dimanfaatkan dibanding memberdayakan SDM melalui TKA China.

“Sedang masif bahwa seakan-akan penting sekali alih teknologi lewat investasi tambang nikel dari China. Sebagai info saja bahwa Indonesia produksi nikel dan baja sejak tahun 60-an dan dilakukan oleh putra-putri Indonesia,” cuit Said Didu.

Baca juga: Ada kejanggalan pada Mitsubishi Pajero Eggi Sudjana setelah kecelakaan

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi mengatakan kehadiran 500 tenaga kerja asing asal China, memang didatangkan untuk mempercepat pembangunan smelter dengan teknologi asal negaranya.

Hal tersebut diutarakan Juru Bicara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jodi Mahardi. Selain itu penggunaan teknologi RKEF sendiri diklaim bisa membangun secara ekonomis, cepat dan memiliki keunggulan ramah lingkungan.

Selain itu, teknologi pada smelter ini, turut diklaim mampu menghasilkan nikel dengan kualitas baik sehingga bisa bersaing di pasar international. “Kenapa butuh TKA dimaksud? Karena mereka bagian dari tim konstruksi yang akan mempercepat pembangunan smelter dimaksud. Setelah smelter tersebut jadi, maka TKA tersebut akan kembali ke negara masing-masing. Pada saat operasi, mayoritas tenaga kerja berasal dari lokal,” ungkap Jodi.

Said Didu dan Luhut Binsar Panjaitan
Said Didu dan Luhut Binsar Panjaitan Foto: Fajar.co.id

ESDM sebut cadangan nikel di Indonesia tipis

Pembangunan smelter yang dilakukan tersebut, meski tengah dilakukan namun sedikit kontradiktif dengan data yang diungkap Kementerian ESDM yang telah melakukan penelitian terkait kandungan nikel yang ada di Indonesia terbilang tipis. Cadangan nikel di Indonesia sendiri hanya diperkirkan berumur 10 tahun saja.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah sendiri telah melarang adanya eksport nikel ke luar negeri, peraturan larangan eksport tersebut mulai diberlakukan sejak januari 2020. Harga nikel yang cukup tinggi menjadi salah satu komoditi alam yang dikuasai negara dan pontensial.

Analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan, harga nikel mampu tumbuh hingga 31,79% sepanjang 2019. Pada awal 2019, nikel mengawali harga di level US$ 10.680 per metrik ton dan kemudian menutup tahun 2019 di level US$ 14.075. Namun ia menyebut, harga nikel terhambat pada kuartal IV 2019.

TKA asal China di Konawe. Foto: Dok Antara.
TKA asal China di Konawe. Foto: Dok Antara.

“Pada kuartal tersebut, terjadi hambatan dalam pembuatan baterai mobil listrik. Padahal baterai pada mobil listrik yang mendorong pertumbuhan nikel sepanjang tahun,” ujar Wahyu

Pembangunan smelter dengan teknologi dari China sendiri tidak disebutkan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman terkait kerjasama yang dilakukan. Mengingat China sendiri menjadi negara yang sangat mengincar nikel.

Sebelumnya, Luhut sendiri mengungkap alasannya terkait larangan nikel pada Januari 2020, diamana ia mengatakan 98% nikel Indonesia diekspor ke China. Dengan adanya pelarangan tersebut, maka diharapkan sejumlah industri bisa pindah ke Indonesia.

“98% nikel ore ekspor ke Tiongkok. Pertanyaan saya logika saudara, kalau saya larang yang rugi siapa sih? As simple as that dia harus relokasi ke kita,” ungkapnya.

Sejarah pertambangan nikel di Indonesia dimulai pada tahun 1901, ketika Kruyt, seorang berkebangsaan Belanda, meneliti bijih besi di pegunungan Verbeek, Sulawesi. Kemudian pada 1909, EC Abendanon, juga ahli geologi berkebangsaan Belanda, menemukan bijih nikel di Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close