Trending

Buya Syafii: Mendewakan keturunan nabi adalah perbudakan spiritual, simak Surat Al Hujarat 13

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif kembali jadi perhatian. Kali ini dia berkomentar soal gelar atau label untuk keturunan nabi. Di dalam masyarakat kita, keturunan Nabi Muhammad SAW disebut dengan habib untuk laki-laki dan syarifah untuk perempuan. Menurut Buya Syafii, mendewa-dewakan mereka yang mengaku keturunan nabi adalah perbudakan spiritual.

Pendapat Buya Syafii itu aslinya buka pendapat baru-baru ini lho. Pernyataan mendewakan keturunan nabi adalah perbudakan spiritual merupakan sudah lama, dan tertuang di buku-bukunya. Berikut ini fakta-faktanya ya.

Baca juga: Amanda Manopo rela ‘tinggalkan’ Ikatan Cinta, Billy sindir Arya Saloka?

Mendewakan keturunan nabi adalah perbudakan spiritual

Buya Syafii Maarif
Buya Syafii Maarif. Foto Instagram @buyasyafii

Buya Syafii kemarin menuliskan pernyataan mendewakan keturunan nabi adalah perbudayakan spiritual. Pendapat itu ia bagi di semua saluran media sosial yang Buya Syafii.

“Bagi saya mendewa-dewakan mereka yang mengaku keturunan Nabi adalah bentuk perbudakan spiritual. Bung Karno puluhan tahun yang lalu sudah mengeritik keras fenomena yang tidak sehat ini,” dikutip dari Instagram @buyasyafii, Minggu 22 November 2020.

Buya juga mengatakan bagiamana Soekarno dahulunya mengkritik keras fenomena yang tidak sehat ini.

“Bung Karno puluhan tahun yang lalu sudah mengeritik keras fenomena yang tidak sehat ini,” jelasnya.

Selain itu, sebenarnya Buya Syafii juga telah menuliskan tentang mereka yang mendewakan keturunan nabi, raja, ulama, dan sebagainya dalam buku ‘Memoar Seoarang Anak Kampung’ dan buku lainnya ‘Titik-titik kisar di perjalananku: autobiografi Ahmad Syafii Maarif’.

Surat Al Hujarat 13

Surat Al Hujarat ayat 13
Surat Al Hujarat ayat 13. Foto Instagram @ardiansyah_achil

Dalam buku ‘Titik-titik kisar di perjalananku: autobiografi Ahmad Syafii Maarif’ Buya Syafii menuliskan:

“Bagiku, gelar-gelar sayid, syarifah, wali, habib, dan 1.001 gelar lain yang mengaku keturunan nabi, atau keturunan raja, hulubalang, atau keturunan bajak laut dan perompak lanun yang kemudian ditakdirkan menjadi raja, sultan, amir, dan dianggap suci oleh sebagian orang akan runtuh berkeping-keping berhadapan dengan penegasan ayat Alquran Surat Al Hujarat ayat 13 yang artinya yaitu Sesungguhnya yang termulia di antara kamu di sisi Allah adalah kamu yang paling takwa,” tulis Buya Syafii.

Dalam buku tersebut, Buya Syafii awalnya menuliskan soal fungsi filsafat yang membantu otak manusia jangan sampai lumpuh berhadapan pada sesuatu yang tidak rasional.

Menurut tokoh Muhammadiyah ini, filsafat berfungsi pembantu iman dalam dialektika dengan sera realitas, filsafat juga kritik pada iman palsu yang menyimpang pada tauhid. Kalau tertipu dengan iman palsu ini, manusia bisa menjadi korban sebagai budah spiritual.

Nah menurut Buya Syafii, manusia tak jarang terjebak di lembah budah spiritual ini, lantaran mengabaikan filsafat sebagai metode berpikir kritis, radikal dan rasional.

“Mereka yang mendewakan keturunan raja, ulama bahkan keturunan nabi, termasuk dalam kategori perbudakan spiritual ii, menurut pemahamanku,” tulis Buya.

Menjelaskan Surat Al Hujarat 13 itu, Buya mengatakan semua manusia beriman terbuka untuk merebut posisi takwa, tak peduli latar belakang keturunan, kultur, sejarah, ekonomi dan apapun itu.

“Posisi seseorang di dunia ini menurut yang kupahami ditentukan oleh kualitas hidupnya, kualitas iman dan amalnya, tidak oleh yang lain. Dengan paradigma semacam ini, terbukalah peluang yang sama bagi semua anak Adam untuk ber-fastabiqul khairat (berlomba untuk melakukan kebaikan) di muka bumi ini. Islam bagiku pada akhirnya sudah merupakan pilihan secara sadar, bukan hanya karena keturunan,” jelasnya.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close