Fit

Kacang rebus lock down #catatanponsel

Lock down. Tembok Baru, nama itu nyaris lenyap dalam ingatan. Lokasinya persis di seberang mimbar kiblat Masjid Akbar At-Taqwa Anggut Kota Bengkulu.

Lalu kenapa dengan Tembok Baru?

Delapan atau sembilan tahun lalu, seorang paman bercerita jika kawasan itu pernah menjadi ruang isolasi bagi orang Bengkulu yang terkena penyakit.

Ada yang menyebutnya penyakit Atum, konon nama ini muncul sebagai efek buruk ledakan bom Atom di kota Hiroshima dan Nagasaki Jepang pada tahun 1945. Orang yang terkena efek itu akan mengalami sakit yang mengerikan. Kulitnya mengelupas dan bernanah serta meninggalkan bau busuk.

Fatwa MUI soal corona: Salat Jumat boleh diganti Zuhur

Di Kota Bengkulu, pengidap penyakit Atum akan diisolasi di kawasan Tembok Baru. Biar tidak bertemu dengan orang lain dan menularkan penyakitnya. Mayoritas akhirnya mati tak tertangani dan membusuk di kawasan Tembok Baru.

Di daerah. Bisa kita telusuri bagaimana cerita mereka di desa soal penyakit Atum. Lubuk Resam, di Kabupaten Seluma misalnya. Desa ini justru tercipta karena pelarian warga yang ketakutan dengan penyakit Atum.

Begitu pun beberapa desa di wilayah hutan adat Semende, Kaur. Cerita mereka bisa dipastikan serupa soal penyakit ini. Mereka adalah pelarian yang khawatir akan dampak mengerikan dari penyakit Atum.

Sulit sekali mencari sisa mereka yang memiliki memori lengkap soal ini. Tapi cerita itu bertahan berpuluh tahun dan seperti menjadi sebuah momok yang menakutkan untuk mengenangnya.

Jika ditanya, mereka cuma mengingat kalau penyakit itu mirip dengan Cacar. Tapi beberapa lain menceritakan jika penyakit itu seperti Lepra atau Kusta, yang bisa merontokkan daging dan menghancurkan belulang di dalam.

Saya pernah mencoba menelusur informasi ini ke beberapa literatur di lokal dan luar negeri. Tapi sayang, semua memang tidak terdokumentasikan dan terlacak jejaknya.

Di luar itu, jika hari ini kita pontang panting dengan Corona. Dan beberapa mengembuskan istilah Lock Down, yang cenderung juga masih serampangan. Saya justru teringat Tembok Baru dan desa-desa yang telah ter-lock down sejak dulu.hehe Saya juga ingat bagaimana kita hari ini sesungguhnya telah piawai mengisolasi diri sendiri dalam internet.

Bukankah kebanyakan kita sekarang sudah kebiasaan berbelanja pakai online tanpa tatap muka? Termasuk kini banyak kan yang menggelar rapat-rapat pakai Skype. Belum lagi dengan kebiasaan kita bertemu maya di Facebook, entah itu untuk pamer-pamer mobil, nge-chat tak penting, atau sekadar berkeluh kesah.

Atau juga soal bagaimana kita kini cukup meminta maaf saat lebaran lewat WA ketimbang datang ke rumah orang yang kita tuju. Semua dilakukan tanpa tatap muka lagi.

Yah..Singkatnya.. kita semua memang sudah ahli me-lock down diri sendiri. Terakhir, dimana ya kira-kira pesan kacang rebus online? Saya sedang mager eh lock down.

Foto: Harry Siswoyo

Harry Siswoyo

Jurnalis, tinggal di Bengkulu. Sekarang menjabat Ketua Aliansi Jurnalis Independen Bengkulu.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close