Trending

Corona menggila, warga diminta jangan terus-terusan salahkan Jokowi

Penambahan kasus corona atau Covid-19 di Indonesia semakin menjadi-jadi. Imbasnya, banyak pihak mulai menyalahkan Presiden Jokowi lantaran disebut-sebut belum serius menangani corona.

Terkait hal itu, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara, Samuel F Silaen mengatakan, masyarakat seharusnya tak boleh mengalamatkan rasa kecewanya pada Jokowi saja. Sebab, penanganan corona merupakan kerja kolektif yang melibatkan pemerintah pusat dan juga pemerintah daerah.

Baca juga: Anies mati-matian tangani corona, Ferdinand: Kebijakan dia bodoh

“Saat ini dunia sedang terkapar, bukan hanya terpapar. Indonesia di bawah nahkoda Presiden Jokowi dipersulit situasi karena masyarakatnya hipokrit,” ujarnya dinukil dari RMOL, Jumat 11 September 2020.

“Kalau saja keadaan (corona) ini dipimpin presiden sebelum Jokowi, apa bisa diukur pasti akan bagaimana dan apa yang terjadi? Apakah ada jaminan akan menjadi lebih baik dari masa Jokowi memerintah sekarang ini? Tak ada jaminan bahwa ekonomi, dan lainnya akan jauh lebih baik, ada yang bisa jamin?” sambungnya.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi)
Presiden Joko Widodo. Foto: Sekretariat Presiden via Antara

Samuel menilai, kebebasan berpendapat di Indonesia lama-lama kebablasan. Alih-alih fokus terhadap penanganan corona, masyarakat Tanah Air justru acap menyerang figur yang dinilai kurang bekerja baik. Padahal, mungkin saja, itu hanya tuduhan yang bersifat subyektif.

“Demokrasi sih demokrasi, tapi jangan demo-crazy. Musuh kita bersama adalah pandemi corona, ini musuh yang tak terlihat tapi mematikan, mungkin saja nanti akan ada lagi musuh yang lebih ganas, yang saat kena langsung tewas,” tegasnya.

Samuel mengingatkan, seandainya ingin mengkritik pejabat publik, maka pahami dulu peran dia di negara sebagai apa. Seandainya ada kekacauan di satu daerah, bukan berarti pemimpin di daerah lain bertanggung jawab. Sebab, seluruhnya sudah ada pembagian masing-masing. Termasuk urusan pusat dan daerah.

“Pertanyaan saya, kalau yang salah urus misalnya provinsi, kabupaten atau kota, kenapa juga tidak disuruh mundur oleh elite politik dan lain sebagainya. Bagian mana yang Presiden Jokowi tak urus di negeri ini? Bagian apa pula yang gubernur, bupati, dan wali kota tak urus? Kan masing-masing punya lingkup tugas, fungsi dan tanggung- jawab masing-masing kepala daerah,” terangnya.

Anies Baswedan dan Jokowi. Foto: Antara
Anies Baswedan dan Jokowi. Foto: Antara

Setiap pemimpin ada masanya

Samuel meyakini, Tuhan sudah menentukan pemimpin yang tepat di tiap-tiap daerah ataupun negara. Selain itu, kata dia, setiap pemimpin juga terpilih untuk mewakili periode penting tertentu. Maka, ketimbang harus saling salah-menyalahkan, bakal lebih elok seandainya masyarakat bisa memberi kesempatan pada Jokowi maupun para pejabat daerah.

“Kata orang bijak ‘setiap masa ada pemimpinnya, setiap pemimpin ada masanya’. Itu semuanya sudah ada yang atur, percayalah Tuhan tidak pernah tertidur walau sedetik pun,” kata dia.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close