Fit

Covid-19 turunkan kadar testosteron, picu pasien pria lebih sulit bertahan

Gejala dan reaksi pasien covid-19 sepanjang pandemi masih terus diteliti. Baru-baru ini pasien covid-19 pria yang dirawat di rumah sakit dilaporkan mengalami penurunan kadar testosteron yang signifikan.

Penemuan ini menjadi acuan bahwa dan penjelasan bahwa dampak Covid-19 pada pria cenderung lebih buruk dibanding wanita. Dilansir IFL Science, Rabu 30 September 2020, temuan ini bukan pertama kali dikaitkan dengan penurunan kadar testosteron dikaitkan dengan Covid-19.

Baca juga: Dalam sehari 127 dokter gigi gugur karena corona, PDGI: Konsultasi online saja!

Baca Lainnya

  • Meski demikian, penemuan ini disebut menjadi temuan pertama yang diklaim oleh para peneliti yang menyebabkan pengurangan kadar testosteron yang signifikan.

    Dalam jurnal ilmiah peer-review The Aging Male peneliti Turki menemukan bahwa tingkat testosteron pasien Covid-19 pria menurun drastis dan jauh berbeda jika dibandingkan dengan sebelum terkena Covid-19.

    Keparahan penurunan testosteron terkait erat dengan peningkatan peluang seseorang dirawat di unit perawatan intensif (ICU).

    “Dalam penelitian kami, rata-rata jumlah testosteron menurun saat tingkat keparahan Covid-19 meningkat,” kata penulis utama Selahittin Çayan, Profesor Urologi di Fakultas Kedokteran Universitas Mersin, dalam sebuah pernyataan.

    Ilustrasi vaksin Covid-19
    Ilustrasi vaksin Covid-19. Foto Instagram @consciouslifenews

    Lebih lanjut ia menyebut bahwa jumlah testosteron pada pasien yang dirawat di ICU dan kelompok tanpa gejala terlihat sekali perbedaannya dan jauh lebih rendah.

    “Selain itu, kadar testosteron pada kelompok ICU juga lebih rendah dibanding Unit Perawatan Menengah,” imbuhnya.

    Meski penelitian ini tidak secara pasti membuktikan Covid-19 menyebabkan penurunan testosteron, data menunjukkan bahwa infeksi virus corona covi-19 dapat memperburuk kadar testosteron pria sama seperti saat infeksi lain terjadi.

    Penelitian sebelumnya yang terkait penemuan ini menunjukan bahwa testosteron mampu meredam respons kekebalan tubuh terhadap infeksi.

    Sementara itu, estrogen dapat meningkatkan sistem kekebalan.
    Inilah yang menyebakan para pria jadi mudaha tertular corona dibanding wanita. Di sisi lain, diketahui juga kadar testosteron dapat menurun saat seseorang mendapat infeksi lain.

    Kemungkinan besar, ini sebagai cara tubuh mengalihkan energi dari tugas-tugas yang membutuhkan energi tinggi yang terkait dengan hormon.

    Tugas yang membutuhkan banyak energi antara lain meningkatkan otot, agresi, dan napsu seksual.

    “Kadar testosteron telah lama diketahui menurun saat seseorang memiliki penyakit dan terutama terinfeksi virus. Ada alasan evolusi yang tidak selalu buruk,” kata Dr Daniel Kelly, Dosen Senior Biokimia di Universitas Sheffield Hallam yang tidak terlibat dalam riset ini.

    Penurunan testosteron picu pasien pria sulit bertahan

    Testosteron adalah hormon yang penting bagi pria. Hormon ini bekerja menimbulkan hasrat seks yang dihasilkan di testis pria. Fungsi utama testosteron adalah membantu pembentukan organ seksual saat bayi laki-laki mengalami masa pertumbuhan.

    Dalam kasus ini, pasien covid-19 pria yang mengalami penurunan hormon testosteron ternyata memiliki risiko tinggi mengalami badai sitokin.

    “Testosteron dikenal sebagai anti-inflamasi, jadi ada kemungkinan penurunan testosteron yang berlebihan memungkinkan terjadinya badai sitokin.”

    Lebih lanjut disebutkan bahwa badai sitokin atau cytokine strom merupakan reaksi berlebih sistem kekebalan tubuh.

    Sitokin adalah protein yang dihasilkan sistem kekebalan tubuh untuk melakukan berbagai fungsi penting dalam penanda sinyal sel.

    Disfungsi ereksi pria
    Disfungsi ereksi pria photo: pixabay

    Sitokin tersebut lalu bergerak menuju jaringan yang terinfeksi dan berikatan dengan reseptor sel tersebut untuk memicu reaks peradangan.

    “Pada kasus Covid-19, sitokin bergerak menuju jaringan paru-paru untuk melindunginya dari serangan SARS-CoV-2.”

    Baca juga: Hewan-hewan ini dilatih khusus untuk deteksi corona, 94 persen akurat

    Sitokin normalnya hanya berfungsi sebentar dan akan berhenti saat respons kekebalan tubuh tiba di daerah infeksi. Pada kondisi badai sitokin, sitokin terus mengirimkan sinyal sehingga sel-sel kekebalan tubuh terus berdatangan dan bereaksi di luar kendali.

    Paru-paru pun bisa mengalami peradangan parah karena sistem kekebalan tubuh berusaha keras membunuh virus. Peradangan pada paru-paru itu sayangnya bisa terus terjadi meski infeksi sudah selesai.

    Selama peradangan, sistem imun juga melepas molekul bersifat racun bagi virus dan jaringan paru-paru. Tanpa penanganan yang tepat, fungsi paru-paru pasien dapat menurun hingga membuat pasien sulit bernapas.

    Kondisi inilah yang kemudian bisa membuat pasien Covid-19 akhirnya meninggal dunia atau tak bisa bertahan. “Maka sering pada pasien Covid-19 membutuhkan ventilator untuk membantu pernapasan.”

    loading...
    Topik

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Back to top button
    Close