Sains

Cuaca terasa panas sejak lebaran pertama, ternyata ini sebabnya

Sejak lebaran hari pertama di 2020, masyarakat di sejumlah wilayah di Tanah Air merasakan cuaca panas yang berlebih. Ternyata, hal ini pun diakui oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Menurut keterangan BMKG disitat CNN, cuaca panas yang terjadi sejak lebaran pertama di 2020, lantaran lapisan bawah atmosfer bumi yang relatif kering.

Baca Juga: Corona kian menjadi-jadi, Mahfud MD: Jangan takut, sehari cuma mati 17 orang

“Cuaca cerah yang terjadi pada hari pertama lebaran hingga hari ini disebabkan oleh kondisi atmosfer yang relatif kering pada lapisan bawah,” kata Prakirawan BMKG Nanda Alfuadi, Selasa 26 Mei 2020.

Cuaca panas
Cuaca panas. Foto: Pixabay

Dalam pengukuran menggunakan alat radiosonde, kata Nanda, BMKG mencatat kelembaban pada lapisan 850 milibar tak lebih dari 75 persen.

“Kondisi atmosfer yang relatif kering pada lapisan bawah ini menunjukkan bahwa potensi pembentukan awan hujan juga tidak cukup signifikan, sehingga inilah yang menyebabkan kondisi cuaca cerah yang dominan terjadi tiga hari terakhir,” ujarnya.

Nanda kemudian menjabarkan kalau cuaca cerah dalam beberapa hari terakhir juga disebabkan oleh terbentuknya daerah subsidensi atau daerah kering pasca Madden Julian Oscillation (MJO) melintasi wilayah Indonesia.

MJO merupakan suatu fenomena gelombang atmosfer yang bergerak merambat dari belahan barat (Afrika) ke timur (Samudera Pasifik) dan dapat meningkatkan potensi hujan pada daerah yang dilewatinya.

“Dampak dari pasca aktivitas MJO di Indonesia ini adalah terbentuknya daerah kering di wilayah yang telah dilalui MJO ini,” katanya.

“Polanya umumnya begitu. MJO aktif, menyebabkan hujan lebat. Kemudian MJO bergerak semakin ke timur, Indonesia menjadi relatif lebih kering,” ujarnya.

Kondisi serupa

Cuaca panas serupa setidaknya juga dirasakan pada akhir bulan lalu. Hal ini dirasakan di wilayah Jabodetabek. Di mana, suhu udaranya mencapai antara 33-35 derajat celcius.

Menurut BMKG bulan lalu, hal ini disebabkan salah satunya oleh posisi matahari yang berada di sekitar utara khatulistiwa dan bergerak semakin ke utara.

“Di bulan April ini posisi matahari berada di sekitar utara khatulistiwa dan bergerak semakin ke utara, oleh karena itu, suhu udara terasa lebih panas daripada biasanya,” kata Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Miming Saepudin.

Gambaran angin di Indonesia. Foto: BMKG.
Gambaran angin di Indonesia. Foto: BMKG.

Dia pun sempat memprediksi mengingatkan tentang fenomena cuaca ekstrem di musim peralihan atau pancaroba yang diperkirakan berlangsung hingga Mei.

Selain itu, ada hal lain yang membuat panas semakin menjadi, yaitu kondisi cuaca cerah dengan tutupan awan yang minim. Akibatnya, radiasi yang diterima permukaan bumi cukup signifikan karena enggak terhalang awan. Akhirnya hal itu akan meningkatkan suhu udara permukaan.

Kondisi cerah dan pertumbuhan awan yang minim di wilayah Jakarta dan sekitarnya disebabkan karena uap air di atmosfer yang sedikit dan kelembaban udara relatif kering.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close