News

Sujud Risma vs marahnya Jokowi, Dahlan Iskan: Gajah di pelupuk mata tertutup

Sujud Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini menjadi bahasan di mana-mana. Sujud Risma ini juga menjadi bahan tulisan Dahlan Iskan blog pribadinya, Disway. Menurut Dahlan, peristiwa sujud Risma itu lebih heboh dibanding peristiwa video marahnya Presiden Jokowi pada menterinya dalam rapat paripurna di Istana Negara.

Dahlan menganggap sujud Risma itu membuat publik mengerti apa yang sesungguhnya terjadi dalam penanganan Covid-19 di Surabaya. Ternyata, ada masalah penanganan Covid-19 di Surabaya lho, rumah sakit di Surabaya penuh pasien Covid-19 sampai pasien asal Surabaya terkesan ditolak rumah sakit.

Baca juga: Pendakwah ini setuju revisi Pancasila sila pertama, tapi begini bunyinya

Padahal yang terjadi pasien Covid-19 masih naik dan makin lama tinggal di rumah sakit untuk menjalani tes swab beberapa kali. Lamanya tinggal pasien, bisa belasan hari itu, membuat ruangan rumah sakit penuh, maka pasien Covid-19 baru tidak bisa langsung diterima rumah sakit di Surabaya.

Sujud Risma lebih heboh dari marahnya Jokowi

Wali Kota Risma ngamuk. Foto: Suara.
Wali Kota Risma ngamuk. Foto: Suara.

Dahlan Iskan mengatakan peristiwa sujud Risma bagi dia lebih besar daya magnet beritanya dibanding dengan marahnya Presiden Jokowi belasan hari lalu.

“Ternyata di kampung saya sendiri ada berita yang lebih besar lagi. Gajah di pelupuk memang bisa membuat mata tertutup,” tulis dia pada penutup tulisan sujud Risma di Disway, dikutip Rabu 1 Juli 2020.

Dahlan mengaku mesti mengakui harus meralat tulisannya di Disway sebelumnya yang menyatakan berita marahnya Presiden Jokowi adalah berita terbesar pekan ini. Nyatanya sehari setelah video marahnya Jokowi beredar, sujud Risma tak kalah hebohnya.

Jangan ada lagi drama Risma

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Foto @tri.rismaharini
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Foto @tri.rismaharini

Dahlan mengatakan prihatin dengan sujud Risma yang dilakukan dua kali di depan para dokter di Surabaya perwakilan Ikatan Dokter Indonesia dan pejabat rumah sakit di Surabaya.

“Semoga drama Senin lalu itu yang terakhir kali,” tulisnya.

Namun untungnya, Dahlan menuliskan setelah adegan heboh sujud itu, akhirnya ada jalan keluar bagi penanganan pasien Covid-19 di Surabaya, yang mana masalahnya melonjaknya pasien Covid-19 membuat rumah sakit penuh, tak bisa menerima pasien baru.

Jalan keluarnya yaitu pasien yang negatif Covid-19 bakal segera dipulangkan, tak perlu menginap di rumah sakit untuk menunggu hasil tes swab kedua dan seterusnya.

Untuk pasien negatif yang dipulangkan ini, biaya selanjutnya akan ditanggung Pemkot Surabaya. Ini lah jalan keluarnya. Jadi rumah sakit tidak penuh dengan pasien Covid-19.

Aturan sebenarnya, pasien negatif Covid-19 tak diperkenankan langsung pulang. Mereka harus menunggu hasul tes swab kedua. Jarak tes pertama dan kedua bisa sepekan lamanya.

Jika melanggar prosedur Kementerian Kesehatan itu, biaya perawatan pasien tak akan ditanggung BPJS. Makanya kesediaan Pemkot Surabaya menanggung biaya perawatan pasien negatif Covid-19 menjadi jalan keluar kedua belah pihak.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close