News

Jancuk!! Deddy Corbuzier Bossman Sontoloyo bongkar siapa pengendali pemerintah Indonesia

Pengusaha Mardigu Wowiek Prasantyo mengulas carut marutnya pengelolaan BUMN di Indonesia dalam sebuah podcast Deddy Corbuzier. Dalam diskusi tersebut, Deddy Corbuzier dan Bossman Sontoloyo, demikian pengusaha menyebut dirinya, kompak mengumpat dengan kata-kata jancuk, saat mengetahui siapa biang persoalan Indonesia.

Dalam podcast tersebut, Deddy Corbuzier Bossman Sontoloyo mengulas siapa yang diuntungkan dengan pengelolaan BUMN di masa lalu kacau. Bossman Sontoloyo dengan lugas mengatakan pasti ada yang diuntungkan dan itu bukan pemerintah, tapi oligarki.

Baca juga: Raffi Ahmad mau nikah lahi, Nagita: Di agama ada kita takk boleh menentang

“Oligarki adalah sekelompok orang yang mengendalikan pemerintahan. Plutokrasi adalah orang kaya yang mengendalikan pemerintahan. Jadi kalau di Amerika Serikat itu yang mengendalikan plutokrasi, Rusia itu oligarki, kalau yang ini (Indonesia) dua-duanya yang berkuasa,” ujar Bossman Sontoloyo menjelaskannya.

Atas penjelasan Bossman Sontoloyo tersebut, Deddy langsung bereaksi. “Jancuk!!!” dengan senyum ketidakpuasan.

Bossman Sontoloyo pun merespons reaksi Deddy dengan umpatan yang sama. “Benar, jancuk!!,” kata Mardigu.

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi di istana Bogor, Jawa Barat. Foto Instagram @jubir_presidenri

Deddy kemudian bertanya, apakah oligarki ini bisa bertentangan dengan pemerintah, Mardigu menjawab tegas tidak bisa.

Dia menjelaskan, oligarki merupakan benalu yang harus hidup dengan cangkangnya. Tanpa indangnya, oligarki akan mati. Mardigu mengatakan, oligarki tentu tak punya agenda mengubah pemerintahan, sebab mereka tahu cara mengeruk duit dari pemerintahan, bukan mengganti sistem pemerintahan.

Deddy bertanya lagi, apakah pemerintah tahu keberadaan oligarki pengendali pemerintah, Mardigu menduga pemerintah belum sadar terus dikerjain oleh oligarki dan plutokrasi.

Solusi BUMN ala Bossman Sontoloyo

Bossman Sontoloyo menjelaskan pengelolaan BUMN saat ini sudah lebih baik dibanding masa lalu.

Dia mengulas, sangat berat untuk mengelola 800 perusahaan BUMN dengan nilai aset yang mencapai Rp8 ribu triliun. Jumlah BUMN itu terlalu banyak, makanya solusinya menurut Bossman Sontoloyo adalah meringkas atau meng-holding BUMN.

“Selama BUMN masih dengan 800 perusahaan, selama ada cicit-cicit BUMN itu too much. Sederhanakan cara bermain. Buangin pion dan lainnya, tinggalkan 4 biji agar mainnya enak. Jadi saya sarankan cucu cicit perusahaan tadi jadiin satu lalu jual. Mother-mother-nya saja yang holding,” ujarnya.

Ilustrasi kegiatan BUMN
Ilustrasi kegiatan BUMN. Foto Dokumen Perumnas.co.id

Dalam mengulas BUMN masa lalu, Bossman Sontoloyo kaget dengan praktik kartel yang berjalan di BUMN.

Praktik itu bisa berjalan mulus sebab, struktur BUMN yang merupakan operator berada di bawah dan di dalam kementerian yang berfungsi sebagai regulator. Formasi ini artinya regulator dan operator berada dalam satu atap.

“Itu di atas monopoli, karena itu saya tidak setuju negara berbisnis.
Kalau dia jadi operator dan regulator, artinya kalau tender secara normal dia bisa gagalin dengan regulasi. Contoh kerja sama antar BUMN, ini yang keterlaluan di masa lalu ya. sekarang sudah ada kesadaran. Dia operator, regulator, dia gabungkan dalam kerja sama BUMN. Ini namanya kartel,” jelasnya.

Untuk itu, Bossman Sontoloyo setuju agar BUMN lepas dari kementerian dan bisa beroperasi dan berkoodinasi dengan kementerian tanpa berada dalam atap kementerian, seperti yang berjalan di Singapura dan Malaysia.

Menurut kamu bagaimana ulasan Deddy Corbuzier Bossman Sontoloyo tersebut, masih penasaran? Saksikan di video podcast mulai menit ke-10 ya.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close