Trending

Rocky Gerung sampai Din Syamsyudin deklarasi KAMI, emoh Indonesia ugal-ugalan

Tokoh oposisi pemerintah telah mendeklarasikan Koalisi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Deklarasi KAMI merupakan tindak lanjut dari 9 tokoh oposisi. Semula 9 tokoh, sekarang bertambah dan semakin banyak jumlahnya.

Sembilan tokoh itu adalah Abdullah Hehamahua, Emha Ainun Najib, Din Syamsudin, Gus Najih, Habib Rizieq, Rizal Ramli, Refly Harun, Rocky Gerung dan Said Didu.

Baca juga: Merasa RI terpuruk, Refly Harun, Said Didu hingga Rocky Gerung bikin koalisi

Dari 9 tokoh itu, kini jumlahnya sudah semakin banyak. Ada dari purnawirawan militer seperti Gatot Nurmantyo. Ada juga Rachmawati Soekarnoputri. Ada ekonom Ichsanuddin Noorsy. Ada aktivis seperti Syahganda Naenggolan, Ahmad Yani, Habib Muchsin, Habib Smith Alhaddar, MS Ka’ban, Jumhur Hidayat, Sri Bintang Pamungkas dan Chusnul Mar’iyah. Ada juga dari tokoh NU yaitu Rachmad Wahab.

Deklarasi KAMI selamatkan Indonesia

Beberapa tokoh nasional sepakat membentuk koalisi yang akan gencar memberikan kritik ke pemerintah. Foto: Suara.com
Beberapa tokoh nasional sepakat membentuk koalisi yang akan gencar memberikan kritik ke pemerintah. Foto: Suara.com

Pegamat politik Tony Rosyid menuliskan deklarasi KAMI menimbulkan sejumlah pertanyaan, Apakah Indonesia dalam kondisi tidak selamat? Lalu, mau menyelamatkan Indonesia dengan cara apa?

Menurut Tony, dari banyak komentar sejumlah tokoh yang tergabung dalam KAMI, nampak tegas koaliasi ini melihat Indonesia sedang menuju ke arah yang salah.

“Bisa hancur akibat cara yang keliru dalam mengelola negara. Zig zag dan cenderung ugal-ugalan,” tulis Tony dalam keterangannya kepada Hops, Senin 3 Agustus 2020.

Makin salah kaprah Indonesia ini bermula dari ambisi infrastruktur yang membuat utang negara mengalami pembengkakan yang luar biasa.
Sekitar Rp7.000 triliun. Korupsi makin masif yang di antaranya mengakibatkan sejumlah BUMN bangkrut.

UU pro perampok dan koruptor

Para pendemo dari sejumlah ormas gabugan seperti PA 212 dan FPI saat menggelar unjuk rasa di DPR. Foto: Suara.com
Para pendemo dari sejumlah ormas gabugan seperti PA 212 dan FPI saat menggelar unjuk rasa di DPR. Foto: Suara.com

Selain itu, Tony melihat deklarasi KAMI muncul lantaran adanya keresahan atas terbitnya sejumlkah UU yang ‘dicurigai’ untuk melindungi para koruptor dan perampokan negara. Terutama revisi UU KPK dan UU Minerba.

Belum lagi RUU Omnibus Law Cipta Kerja yang semakin memangkas hak, dan memiskinkan, buruh.

“Lahirnya KAMI adalah bagian dari bentuk keprihatinan atas bangsa yang semakin hari semakin terpuruk. Penguasa dengan semua aturan dan kebijakannya dianggap lebih berpihak pada korporasi, dari pada memikirkan nasib rakyatnya sendiri,” tulis Tony.

Tanpa UU Corona, UU Minerba dan RUU Omnibus Law, kehidupan rakyat sudah sangat berat. Lahirnya sejumlah UU dan RUU tersebut membuat kehidupan rakyat semakin frustrasi. Belum lagi hukum yang cenderung berpihak kepada orang-orang seperti Djoko Candra, Harun Masiku dan Abu Janda.

Representasi dari konglomerasi, partai pengusung dan kelompok pendukung. Bagaimana juga kelanjutan pengusutan kkasus e-KTP.

“Terkini adalah RUU HIP. MUI dan lebih dari 200 ormas menolak RUU ini karena dianggap sebagai upaya untuk memberi peluang bangkitnya komunisme. Tapi, pemerintah dan fraksi PDIP nampaknya kekeh dan tetap akan mensukseskan RUU HIP ini. Meski kali ini diwacanakan dengan nama RUU BPIP,” kata Tony.

Demokrasi terkendali

Mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo
Mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo. Foto Instagram @nurmantyo_gatot

Tony melihat munculnya KAMI juga karena keresahan pada praktik politik yang menganut asas ‘demokrasi terkendali’. Semua dikontrol, baik melalui Undang-undang maupun aparat. Dari semua keprihatinan ini, lahirlah KAMI.

Dari segi nama, tulis Tony, gerakan ini fokus untuk menyelamatkan bangsa.
“Bagaimana cara menyelamatkannya? Menasehati dan kritik pemerintah? Sudah. Bahkan tiap hari. Demo? Sering sekali. Apakah berpengaruh? Tidak! Lalu? Apakah mau ganti presiden dengan memintanya mundur? Pasti presiden gak bakal mau. Bisa-bisa akan dianggap makar,” tulis Tony.

Namun demikian, dia melihat oposisi terus berjuang mengingatkan pemerintahan. Langkah munculnya KAMI yang terdiri dari tokoh lintas bidang, kata dia, akan menjadi perhatian tersendiri bagi rakyat Indonesia saat ini. Apalagi jika jumlah tokoh semakin banyak dan mendapatkan semakin besar dukungan dari rakyat, maka segala kemungkinan bisa terjadi.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close