Trending

Denny Siregar sarankan MUI tak perlu kutuk aksi pengeboman di gereja

Pegiat media sosial yang belakangan dituding sebagai buzzer istana, Denny Siregar mengomentari pernyataan MUI Pusat yang mengutuk aksi pengemboman di area Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan. Denny beranggapan, hal tersebut merupakan tindakan tak perlu.

Alih-alih sekadar mengutuk, Denny Siregar menyarankan MUI agar mengambil langkah lanjutan terkait kasus pengeboman di gereja. Misalnya, kata dia, dengan tidak menyalatkan pelaku tersebut.

“Kalau cuma mengutuk aksi teror sih, enggak perlu lembaga seperti MUI Pusat. Gue aja bisa. Bikin fatwa kek. Misalnya, pelaku bom bunuh diri haram dan tidak wajib jenazahnya disalatkan. Baru kerasa MUI-nya,” tulis Denny Siregar melalui akun media sosialnya, dikutip Senin 29 Maret 2021.

Rekaman cctv bom bunuh diri di gereja. Foto: Ist.
Rekaman cctv bom bunuh diri di gereja. Foto: Ist.

Bukan hanya itu, Denny Siregar menambahkan, MUI seharusnya bisa meredam kemungkinan terjadinya aksi serupa. Misalnya dengan melakukan sertifikasi ulama. Sebab, dengan demikian, paham radikalisme yang disebarkan dari satu masjid ke masjid lain, bisa diminimalisir.

“MUI cuman bisa mengutuk, tanpa mampu mencegah terorisme itu sejak awal. Seperti melakukan sertifikasi ulama misalnya,” sarannya.

Namun, kenyataannya MUI tidak mengambil langkah apapun. Mereka yang sebenarnya punya kuasa justru berdiam diri, seakan-akan terorisme tidak dianggap sebagai paham berbahaya.

“Mereka punya kuasa tapi tak mampu menggunakannya. Sedih, kan?” tegasnya.

Denny Siregar beri saran lain untuk MUI

Denny menyebut, bahwa sebelum pelaku meledakkan bom bunuh diri, mereka telah melalui sejumlah fase. Pertama-tama, mereka terpapar paham radikal, lalu kemudian tertarik untuk menjalankan aksi terlarang tersebut.

bom bunuh diri
Bom Gereja Katedral Makassar. Foto: Twitter.

Itulah mengapa, Denny menyarankan MUI, sebelum seseorang sampai ke tahap akhir, mereka seharusnya lebih dulu dibentengi di pintu pertama. Yakni, jangan sampai mereka terpapar radikalisme melalui ceramah-ceramah terlarang.

“Para pengantin itu melewati fase sebelum akhirnya menjadi bomber. Pertama terpapar, lalu radikal, dan baru masuk ke tahap bunuh diri pakai bom.”

“Seharusnya mereka yang menyebut dirinya ulama di MUI Pusat, sudah harus membentengi umat sebelum terpapar. Sertifikasi penceramah itu kuncinya,” kata dia.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close