Trending

Dibandingkan HRS, Refly ungkap alasan Airlangga Hartarto ogah jujur soal positif COVID-19

Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun ikut angkat suara terkait kasus Menko Pekerenomian Airlangga Hartarto yang sempat positif COVID-19 namun tidak jujur mengabarkan hal tersebut kepada publik.

Menurut prediksi Refly, ada beberapa kemungkinan di balik alasan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan pemerintah yang terkesan menutupi kasus tersebut.

Kemungkinan, kata Refly, Menteri Airlangga itu sebenarnya takut mengalami perundungan alias dibully oleh sejumlah pihak.

Selain itu ada pula prediksi lain, yakni bahwa Airlangga takut meruntuhkan moral para jajarannya di pemerintah.

Padahal terjangkit COVID-19 bukanlah sebuah aib yang perlu ditutup-tutupi atau bahkan ditakuti karena siapa pun bisa tertular.

“Satu takut dibully ya, itu kalau pendekatannya negatif, tapi kalau pendekatannya positif, takut meruntuhkan moral pasukan kira-kira begitu ya, karena ibarat perang, kalau panglimanya kalah, kalau panglimanya diserang kan moral pasukannya akan runtuh,” kata Refly dalam saluran YouTube miliknya, dikuti Hops pada Kamis, 21 Januari 2021.

“Tapi kalau itu kan perang yang sesungguhnya. Kalau ini kita realistis saja, yang namanya covid-19 ini siapa pun bisa kena.” lanjutnya.

Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto. Foto Antara/HO-Kementerian Perekonomian/pri)

Oleh sebabnya dia mengaggap bahwa yang dilakukan Airlangga selaku pejabat publik sangatlah tidak terpuji.

“Tapi sekali lagi, sikap seperti ini bukanlah sikap terpuji,” ungkapnya.

Dengan adanya kasus ini, Refly curiga bahwa sebenarnya ada pejabat lain yang juga positif namun tidak mau mengabarkannya kepada publik.

“Mungkin saja bukan Airlangga saja yang tidak terus terang, mungkin saja ada pejabat lain, mungkin,” tuturnya.

Lebih lanjut, Refly membandingkan sikap Airlangga dengan Imam Besar Habib Rizieq Shihab yang dikabarkan juga menutupi kasus serupa, yakni positif COVID-19.

Namun apabila disandingkan dengan HRS, yang lebih berkewajiban menyampaikan kabar positif virus corona ke publik adalah Airlangga lantaran dia adalah pejabat publik sekelas menteri.

“Kalau kita bicara mengenai soal kewajiban, misalnya begini, ini berpikir logika hukum, antara Airlangga Hartarto dan Habib Rizieq Shihab, mana yang harus punya kewajiban untuk mengumumkan kalau mereka kena Covid-19. Ya tentu saja Airlangga Hartarto, karena dia adalah pejabat publik. Dia punya etika publik, kewajiban publik. Beda sama orang swasta yang tidak punya kewajiban publik,” ungkapnya.

Habib Rizieq
Dibandingkan HRS, Refly ungkap alasan Airlangga Hartarto ogah jujur soal positif COVID-19 | Habib Rizieq dalam dialog Reuni 212. Foto Front TV

Apabila kasus Airlangga ini tidak dipermasalahkan atau dibungkam begitu saja, Refly meminta agar pihak lain yang menutupi status positif COVID-19 seperti HRS mendapat perlakuan hukum yang sama.

Kalau masalahnya begini, maka perlakukan juga pihak lain secara adil, sehingga negara ini sehat, tidak sebentar-sebentar memenjarakan orang apalagi didasarkan pada selerah kekuasaan. Mudah-mudahan kita menjadi bangsa yang berjiwa besar, bangsa yang menegakan hukum secara benar,” tandasnya.

Penjelasan KSP Moeldoko: Hanya beberapa orang yang tahu

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menegaskan bahwa hanya beberapa orang saja yang mengetahui bila ada seorang menteri yang terjangkit COVID-19.

Moeldoko mengungkapkan, selama pandemi ini, menteri membatasi ruang gerak atau tidak melakukan kontak erat dengan publik.

“Setelah itu ada langkah-langkah tindakan kesehatan yang harus dijalankan. Agar apa? Agar semua hal yang berkaitan dengan tracing itu bisa berjalan,” kata Moeldoko menanggapi polemik kasus Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto yang tidak mengumumkan pernah terinfeksi Covid-19.

“Jadi saya pikir ini sudah saya jelaskan bahwa kami-kami para menteri ini memiliki tugas yang relatif mudah, sangat mudah dikenali dengan baik. Kita punya intsrumen kesehatan yang bisa setiap saat diberi tahu untuk melakukan tracing dan seterusnya, dan mudah dikontrol. Jadi dalam konteks ini saya pikir case-nya yang kita lihat,” imbuhnya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close