Trending

Dipolisikan karena hoax, Hadi Pranoto bingung: Salah saya di mana?

Hadi Pranoto akhirnya dipolisikan setelah klaimnya mengenai ramuan herbal corona dianggap hoax alias tak benar. Kendati begitu, hingga saat ini Hadi masih bertanya-tanya: di mana letak kesalahannya?

Pada salah satu keterangannya, ramuan herbal itu Hadi temukan pada tahun 2000 silam. Ia mengaku, hasil temuan yang ia kerjakan bersama komunitas riset kecil itu ampuh menyembuhkan pasien yang terpapar corona. Namun sayang, pengakuannya tersebut terkesan asal dan tak dilengkapi bukti yang jelas.

Baca juga: Klaim temukan ramuan herbal corona, Hadi Pranoto: Saya bukan dokter

Hingga akhirnya, CEO Cyber Indonesia, Muannas Alaidid melayangkan laporan kepada Polda Metro Jaya terkait penyebaran hoax atau kabar bohong. Namun, saat dimintai keterangan, Hadi malah ingin menuntut balik pihak pelapor terkait pencemaran nama baik.

“Dia (Muannas) membuat laporan kepada pihak kepolisian, saya dianggap berbohong, membuat hoax di media. Itu pencemaran nama baik dan pembunuhan karakter. Karena itu, saya akan meminta ganti rugi materiil dan immateriil sebesar US$10 miliar—atau setara Rp145 triliun,” ujar Hadi, dikutip dari Kompas TV, Selasa 4 Agustus 2020.

Hadi Pranoto Foto: Youtube
Hadi Pranoto Foto: Youtube

Hadi mengaku tak kenal sama sekali dengan sosok Muannas Alaidid. Namun, jika polisi memanggilnya, ia pasti akan datang. Sebab, Hadi menilai, apa yang ia katakan mengenai ramuan ‘penangkal’ corona, sejatinya benar dan tak mengandung muatan hoax.

“Saya tidak tahu, saya tidak kenal dia, kemudian saya tidak tahu yang dilaporkan apa, saya nggak paham. Dibilang hoax, hoax-nya di mana? Saya nggak tahu,” terangnya.

“Tapi saya sebagai masyarakat dan warga negara yang baik, kalau polisi manggil, saya akan datang. Saya bukan teroris, saya bukan koruptor, saya bukan maling,” kata dia menambahkan.

Hadi mengaku bukan dokter

Sebelum dilaporkan, publik sudah meragukan kebenaran ramuan herbal tersebut. Sebab, konon katanya, gelar profesor yang disandang Hadi sebenarnya palsu. Selain itu, ia juga tak punya latar belakang akademis di bidang epidemiologi ataupun virologi. Lantas, apa sebenarnya tujuan dia?

“Saya bukan dokter, database saya di IDI (Ikatan Dokter Indonesia) pasti tidak ada. Karena saya bukan dokter, tidak ada keterikatan saya dengan IDI. Saya adalah tim riset yang melakukan penelitian untuk emergency kemanusiaan COVID-19 ini,” terangnya disitat dari Kumparan.

Hadi Pranoto dan Anji
Hadi Pranoto dan Anji. Foto Instagram @duniamanji

Lebih jauh, pria berkacamata itu mengaku, sebenarnya sudah sejak lama ingin berdiskusi dengan IDI terkait herbal corona-nya tersebut. Namun, dengan dalih birokrasi, obrolan itu urung terjadi. Hingga kini, IDI tak pernah mendengar penjelasan apa pun darinya.

“Kalau masalah lisensi dari IDI, kita sebenarnya sudah komunikasi—berusaha menyampaikan kepada lembaga terkait. Tetapi teman-teman bisa merasakan, setiap masyarakat yang datang ke lembaga tinggi itu kan selalu ditanya bapak sudah ada janji atau belum,” kata Hadi. (CTH)

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close