News

Penangkapan Djoko Tjandra dikaitkan bursa Kapolri, begini analisa IPW

Penangkapan Djoko Tjandra yang dilakukan kepolisian, langsung ramai dikaitkan dengan bursa pencalonan Kapolri yang berlangsung masih cukup lama. Prestasi berhasilnya polisi membawa buronan kasus Bank Bali dari Malaysia ke Indonesia, dikaitkan dengan adanya bursa calon Kapolri.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menjelaskan analisanya terkait penangkapan Djoko Tjandra tidak berkaitan dengan bursa Kapolri. Semua proses dan prosedur penangkapan merupakan tugas kepolisian menjalankan instruksi presiden.

“IPW melihat, kasus Djoko Tjandra maupun penangkapan buronan kakap itu tidak ada kaitannya dengan bursa calon Kapolri, apalagi pergantian Kapolri masih lama,” kata Neta dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Djoko Tjandra ditangkap Bareskrim
Djoko Tjandra ditangkap Bareskrim. Foto ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww.

Terlebih pemilihan Kapolri nantinya, ada di tangan presiden, sehingga calon yang akan menduduki Polri 1 tentu berasal dari pertimbangan dan perhitungan yang sepenuhnya ada di presiden. Sehingga keberhasilan penangkapan Djoko Tjandra tidak bisa dikaitkan dengan bursa Kapolri.

Baca juga: Sebelum Djoko Tjandra, Otto Hasibuan bantu Nazaruddin & Setya Novanto

“Bagaimana pun calon Kapolri yang akan diangkat Presiden tentu melihat situasi aktual politik saat itu dan proyeksi situasi ke depan yang semuanya sangat tergantung pada insting politik Presiden maupun hak prerogatif Presiden,” ucap Neta seperti dikutip Hops dari Antara Minggu 2 Agustus 2020.

Ramainya polemik terkait kinerja polisi yang menangkap Djoko Tjandra menurut Neta, wajar jika ada pihak yang mengaitkan dengan bursa Kapolri, mengingat kasus buronan perkara kasus Cessie Bank Bali tersebut tengah panas dan mendapat perhatian masyarakat luas.

Ilustrasi pendidikan perwira Polisi
Ilustrasi pendidikan perwira PolisiFoto: antara

“Padahal hal itu tidak ada kaitannya dan situasinya ‘jauh panggang dari api’. Apalagi IPW mendapat informasi calon Kapolri ke depan yang akan dipilih Presiden dari kalangan bintang dua dan proses suksesinya satu paket dengan calon Wakapolri. Memang informasi yang diperoleh IPW ini kembali kepada situasi aktual dan menjadi hak prerogatif Presiden,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia mengatakan sebaiknya masyarakat maupun pihak-pihak tertentu jangan berspekulasi dan mengaitkan kasus Djoko Tjandra dengan suksesi Kapolri karena tidak ada kaitannya.

“Sebaiknya semua pihak bersabar menunggu momentum yang akan terjadi, yang sepertinya akan dimulai Presiden dengan ‘reshuffle’ kabinet, pergantian Panglima TNI dan suksesi Kapolri. Semua ini dinilai IPW akan dilakukan Presiden pasca-new normal agar pemerintahan ke depan semakin efektif dan stabilitas keamanan kondusif,” ungkap Neta.

Djoko Tjandra ditangkap
Djoko Tjandra ditangkap. Foto ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/aww.

Selain itu, kata dia, IPW juga memberi apresiasi kepada Kepolisian Diraja Malaysia yang sudah mau mendengar aspirasi rakyat Indonesia dan membantu penangkapan Doko Tjandra serta menyerahkan buronan kelas kakap itu kepada Polri.

Menurutnya, kerja sama yang ditunjukkan pihak Malaysia dengan Indonesia itu patut dicontoh Polri ke depan, khususnya NCB Interpol Polri dalam melakukan lobi ke negara-negara lain yang terdapat buronan koruptor bersembunyi di sana, mengingat masih ada 38 buronan NCB Interpol Polri di luar negeri.

“Artinya, kerja sama internasional pascatertangkap Djoko Tjandra perlu dilanjutkan sehingga Polri bisa segera menangkap buronan lainnya seperti bos Gajah Tunggal Sjamsul Nursalim dan Itjih Nursalim yang saat ini diduga bersembunyi di Shanghai, China,” ujar Neta.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close