Trending

Sembuhin Abu Janda dari Covid-19, siapa dok Mo bukan dokter sembarangan

Pegiat media sosial Abu Janda atau Permadi Arya bersyukur sembuh dari Covid-19. Dalam postingannya Abu Janda menyampaikan terima kasih kepada jajaran dokter yang merawatnya di RS Mayapada, yakni dokter Monica atau dok Mo, dokter Shinta, dokte Doni, dokter Septian dan nakes lainnya. Abu Janda mengakui terobosan dok Mo, dia sembuh berkat terapi plasma darah konvalesen.

Abu Janda mengaku senang banget sebab dia bisa sembuh padahal dia punya penyakit bawaan alias komorbid. Total dia dirawat hampir sebulan di rumah sakit lho. Nah menarik profil dari salah satu dokter yang merawat Abu Janda, dok Mo ternyata bukan dokter nggak sembarangan lho.

Siapa dok Mo atau dokter Monica sembuhin Abu Janda

Abu Janda sembuh covid. Foto: IG.
Abu Janda sembuh covid. Foto: IG.

Dalam penelusuran dokter Mo nama lengkapnya adalah dokter Theresia Monica Rahardjo. Biasa dipanggil dokter Monica atau dokter Mo.

Dokter Monica ternyata adalah pelopor Terapi Plasma Konvalesen (TPK) di Indonesia lho. Dokter Monica sejak tahun lalu sudah mengampanyekan TPK ini sebagai penyembuhan pasien Covid-19.

Tahu nggak dokter Monica sampai presentasi ke beberapa menteri dan pejabat negara, soal TPK ini dan berharap menjadi program nasional penyembuhan pasien Covid-19.

Dokter Mo presentasi ke Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Ketua Umum Palang Merah Indonesia Jusuf Kalla, Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko sampai anggota Dewan Pertimbangan Presiden Agung Laksono. Syukurnya TPK ini didukung oleh kalangan pejabat tersebut.

Bahkan sebelumnya, dokter Mo sampai mengirimkan surat ke Presiden Jokowi pada 18 Maret 2020 untuk menyampaikan soal TPK ini.

Belakangan TPK ini memang menjadi salah sau program nasional penyembuhan pasien Covid-19 lho. Artinya sukses ya edukasinya dokter Mo. Nah dokter Mo ternyata duduk dalam tim Satgas Covid-19 lho, dia menjabat Sub TPK Satgas Covid-19 lho.

Dokter Mo merupakan ahli genetika dan biologi lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Bandung.

Tekanan caci maki hinaan tiap hari

Dok Mo, bukan dokter sembarangan
Dok Mo, bukan dokter sembarangan. Foto Instagram @threes_rahardjo

Tak mudah lho jalan dokter Mo mengenalkan dan memelopori TPK sebagai penyembuhan pasien Covid-19. Di awal-awal, dokter Mo mengaku dicibir sana sini lho mengenalkan soal terapi plasma darah ini.

Selama 3 bulan pertama kasus Covid-19 muncul di Indonesia, dokter Mo mengaku dia mengalami hambatan, tekanan, hinaan, sampai caci maki serta ancaman lantaran mengenalkan soal TPK sebagai opsi penyembuhkan pasien Covid-19.

Dok Mo curhat hinaan sampai caci maki sudah menjadi makanan dia sehari-hari lho, gegara perjuangan itu.

Namun bukti kerja keras dan misi kemanusiaan dok Mo mulai membuahkan hasil. Dalam salah satu videonya dokter Mo menjelaskan efektivitas bukti medis, terapi TPK ini efektif untuk pasien Covid-19.

Pada awal Agustus 2020, pasien-pasien yang memilih jalur otonom untuk TPK ini mulai menunjukkan sembuh, angka keberhasilan pasien Covid-19 sembuh berkat TPK ini tinggi, kala itu TPK terbukti menurunkan angka kematian pasien Covid-19 mencapai 75 persen lho. Dibuktikan dari jurnal ilmiah.

Nah untungnya saat dokter Mo mendapat tekanan dan caci maki, lingkungannya terus mendukung perjuangan TPK ini. Alhasil dia tetap semangat. Bahkan beberapa koleganya sudah menggunakan TPK untuk pasien Covid-19.

“Walaupun ditentang kanan kiri, mulai dengan adanya kesaksian pasien2 yang sembuh dengan TPK & masih banyak lagi kejadian2 yang luar biasa yang mendukung saya. Suami menjadi tempat tumpahan seluruh isi hati bila beban terasa berat setiap saat,” tulis dokter Mo pada 1 Agustus 2020 di akun Instagramnya.

Dokter Mo dalam sebuah video menjelaskan TPK sudah digunakan seabad lalu saat flu spanyol melanda dunia. TPK juga dipakai untuk menghadapi wabah SARS di Hong Kong, WHO juga menerbitkan TPK untuk pasien wabah Ebola.

“Pelopor TKP di Amerika Serikat mengatakan TPK dapat digunakan untuk obati Covid-19 dan proteksi Covid-19,” kata dia membacakan artikel referensi.

Selain itu, sejumlah kasus pasien Covid-19 yang diberikan TPK ini nyatanya tokcer lho.

Dokter Mo menyebutkan serial kasus di China penelitian pemberian TPK pada 5 pasien Covid-19 kritis, dan kelima pasien Covid itu sembuh, sehingga angka keberhasilannya 100 persen.

Kemudian Kasus di China, 10 pasien diberikan TPK, semuanya sembuh, keberhasilan TPK 100 persen.

Pemberian TPK pada pasien Covid dapat sebabkan konversi hasil positif Covid-19 negatif dalam waktu 72 jam, angka konversi sekitar 87,2 persen pada kelompok pasien diberi TPK, dibanding 37 persen pasien yang tak diberikan TPK.

Apa itu plasma darah

Donor plasma untuk Covid-19
Donor plasma untuk Covid-19. Foto ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc

Apa sih plasma darah konvalesen, bahasa mudahnya plasma darah adalah darah merah yang diambil dan diproses kemudian dipisahkan untuk diambil esensinya.

Nah plasma darah ini kemudian dimasukkan ke tubuh pasien Covid-19. Di dalam tubuh, plasma darah akan menaikkan prima tubuh pasien dan membantu mengajarkan darah lainnya pada pasien untuk menjadi lebih pintar melawan virus.

Belakangan pengobatan pasien Covid-19 mulai menemukan harapan melalui terapi plasma konvalesen.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menyatakan, saat ini terapi tersebut sudah bisa diakses masyarakat melalui Palang Merah Indonesia (PMI).

“Saat ini terapi plasma konvalesen sudah dapat diakses masyarakat yang membutuhkan melalui Palang Merah Indonesia di pusat,” jelasnya memberi keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis 7 Januari 2021, yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

PMI pun membuka bagi masyarakat yang ingin menjadi donor. PMI menentukan syarat pendonor adalah diutamakan laki-laki, dan bagi wanita belum pernah hamil dan juga belum memiliki anak. Untuk penyintas Covid-19 yang akan mendonorkan plasmanya, perlu menunjukkan test swab PCR negatif, bebas gejala Covid-19 selama 14 hari setelah dirawat di rumah sakit atau isolasi mandiri.

Di samping itu, terkait rincian terapi plasma konvalesen ini, Wiku merujuk pada hasil penelitian terkini bahwa terapi ini dapat mencegah perkembangan gejala yang lebih parah.

“Terapi plasma konvalesen adalah penggunaan plasma darah yang mengandung antibodi dari orang-orang yang telah sembuh dari Covid-19, sebagai pengobatan pasien Covid-19,” jelasnya.

Penelitian yang dilakukan Libster dkk terkait terapi ini terhadap sejumlah pasien Covid-19 berusia di atas 65 tahun di Argentina menunjukkan hasil yang baik. Penelitian ini menyatakan pasien yang diberikan plasma konvalesen dengan titer antibodi Sars Cov-2 yang tinggi dalam kurun waktu 72 jam setelah munculnya gejala ringan, menunjukkan adanya penurunan risiko untuk mengalami gangguan pernapasan berat atau severe respiratory disease yang merupakan salah satu penyebab kematian tersering Covid-19.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close