News

Dokter pertama yang temukan pasien corona hilang, sengaja dilenyapkan?

Mata publik kini ramai tertuju pada sosok Dr Ai Fen, dokter asal Wuhan yang melaporkan penyebaran virus corona pertama di China. Dr Ai Fen kini dilaporkan menghilang. Publik menduga dia sengaja dilenyapkan dan ditahan aparat setempat.

Dr Ai Fen sebelumnya memang membuat pejabat rumah sakit pusat Wuhan dan aparat China gusar. Ini terkait aksinya memberi data dan gambar rahasia soal pasien pertama berlabel ‘virus corona SARS’ pada publik.

Baca Juga: Fadli Zon: Darurat sipil, Indonesia jadi tertawaan dunia

Menurut sebuah laporan media Australia, Dr Ai Fen sebelumnya memberikan wawancara kepada sebuah media di China soal corona. Dia mengungkap banyak data dan foto soal pasien corona yang ketika itu masih ditutup-tutupi.

Wawancara tersebut kemudian rilis, tetapi langsung dengan cepat ditarik oleh penerbit.

Menurut Dr Ai, tujuanya melaporkan keberadaan virus jenis baru ini sebenarnya tak lain untuk sekadar memperingatkan publik dan pemerintah, agar berhati-hati. Tetapi dia dan delapan rekannya justru diinterogasi polisi.

JANGAN DIPAKAI, GAK ADA KREDITNYA
Petugas medis virus corona. Foto: Ist

Dr Ai kemudian dipaksa untuk menandatangani dokumen yang mengakui bahwa informasi yang dia terbitkan adalah palsu.

Sebelum menghilang, Dr Ai Fen mengaku menyesal tidak berbicara dan membocorkan data lebih banyak sebelumnya. Apalagi, virus tersebut juga merenggut nyawa empat rekannya sesama dokter, yang sama-sama aktif memberikan data corona kepada publik di China.

“Jika aku tahu apa yang akan terjadi hari ini, aku tidak akan peduli dengan teguran itu. Saya akan memberi tahu siapa pun dan di mana pun saya mau,” kata Dr Ai dalam sebuah pernyataan disitat Daily Mail, Rabu 1 April 2020.

Awal mula

Pada bulan Desember, Dr Ai Fen menerima laporan pasien berlabel ‘SARS corona virus’. Dia mengaku langsung keringat dingin setelah membaca hasil lab pasien itu beberapa kali.

Di kepalanya, epidemi SARS 17 tahun lalu yang telah menginfeksi lebih dari 8.000 orang di seluruh dunia dan membunuh lebih dari 800 orang seakan muncul kembali

Dr Ai kemudian membagikan laporan itu ke rekan sesama dokter yang satu departemen dengannya. Dr Ai tak lupa melaporkan temuannya ke pihak otoritas rumah sakit tentang kasus ini.

“Malam itu, data dan foto-foto itu dibagikan ke mana-mana dengan screenshot dari laporan saya,” kata Dr Ai.

Tetapi bukan respon positif yang diterima, dua hari kemudian, dia bersama Li Wenliang –dokter sejawat yang aktif membagikan data corona– dipanggil oleh kepala komite inspeksi disiplin rumah sakit.

Dr Ai dan Dr Li Wenliang lalu ditegur keras dan dituduh menyebarkan desas-desus tak baik oleh pejabat rumah sakit. Mereka juga kemudian ditegur keras aparat kepolisian China karena dianggap menyebarkan informasi tidak benar secara online dan ilegal.

Petugas medis corona mengenakan APD
Petugas medis corona mengenakan APD. Foto Instagram @adupi_indonesiaofficial

“Aku kaget. Apa kesalahan yang telah aku perbuat? Mengetahui fakta bahwa virus yang signifikan telah ditemukan pada seorang pasien, masa saya sembunyikan ketika dokter lain menanyakannya”‘

Belakangan, dokter mata Li Wenliang yang ditegur keras rumah sakit meninggal akibat wabah corona. Pria berusia 34 tahun itu menyerah meski berbagai upaya untuk menyelamatkannya telah dilakukan.

Tiga dokter lain yang bekerja dengan Dr Li dan Dr Ai Fen, dan mengetahui seluk-beluk pasien pertama virus corona di China, juga meninggal karena penyakit tersebut setelah tertular saat melawan wabah. Belakangan, Dr Ai lah yang menghilang.

China berbohong?

Penutupan informasi soal virus corona seperti yang disampaikan Dr Ai dan Dr Li dianggap banyak pihak memang sengaja dilakukan China. Hal ini terlihat dari penutupan informasi penting selama hampir tiap tahapan tanggapan virus corona di sana, mulai dari wabah awal, hingga jumlah kasus dan kematian.

Padahal para pengamat, pakar dan politisi di sana telah memperingatkan Pemerintah. Beijing dalam sebuah laporan juga disebut berusaha menutupi virus corona dengan menghukum petugas medis yang menemukannya, lalu membantah bahwa itu dapat menyebarkan orang-ke-orang, termasuk menunda karantina wilayah yang terkena dampak, yang berarti upaya pengendalian sejak awal memang sengaja tidak dilakukan.

Lalu, begitu virus mulai menyebar, China mulai menyensor informasi publik dan justru mulai mencari alasan kalau virus tersebut justru dibawa pasukan AS yang tiba ke Wuhan akhir tahun lalu.

Selain itu, China juga telah mencoba menuding bahwa virus itu berasal di Italia, negara dengan kematian terbanyak akibat virus corona. Pernyataan China terlontar memanfaatkan kutipan seorang dokter Italia yang menyebut kasus pertama di negeri Pizza itu bisa jadi jauh lebih awal daripada yang terjadi di Wuhan.

Sementara di satu sisi, China mendapat banyak pujian secara luas atas keberhasilan lockdown untuk membantu memperlambat penyebaran virus.

Di sisi lain, banyak pihak yang sebenarnya meragukan data kematian akibat corona di China. Marco Rubio, seorang senator terkemuka dari Partai Republik dan mantan kandidat presiden dari AS, mengatakan data China sangat diragukan.

Penanganan pasien terinfeksi virus corona. Foto: CGTN
Penanganan pasien terinfeksi virus corona. Foto: CGTN

Begitu pula halnya dengan Pemerintah Inggris yang juga meragukan pelaporan China. Menteri Konservatif dan mantan kandidat Perdana Menteri Michael Gove mengatakan Partai Komunis China tidak dapat dipercaya.

“Beberapa laporan dari Tiongkok tidak jelas tentang skala, sifat, daya menular dari (virus) ini,” katanya disitat BBC.

Sementara itu sumber lain mengatakan bahwa total infeksi di China sebenarnya bisa mencapai 40 kali lipat dari yang dilaporkan saat ini.

Ini diperkuat dengan laporan jumlah korban tewas akibat virus di China, di mana para tenaga medis di Wuhan, yang acap mengawasi rumah duka, mengklaim mereka telah ‘bekerja sepanjang waktu’ untuk membuang mayat.

Laporan lain menyebut ada 3.500 guci yang dibagikan oleh krematorium setiap harinya di China. Sementara Caixin melaporkan, satu rumah duka di kota Wuhan saja telah memesan 5.000 guci.

Warga setempat di sana juga percaya bahwa upaya untuk membuang mayat-mayat itu dimulai 23 Maret dan pemerintah kota mengatakan proses itu akan berakhir pada 5 April mendatang.

Itu berarti sekitar 42.000 guci dibagikan dalam kerangka waktu tersebut atau sepuluh kali lipat dari angka yang dilaporkan saat ini.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close