Fit

Dokter yang sudah menikah berisiko tinggi alami ‘letih mental’ di masa pandemi

Di masa pandemi, letih mental rentan terjadi. Dari beberapa profesi dan kalangan, para tenaga kesehatanlah yang paling terdampak.

Keletihan mental dalam istilah medis dikenal dengan ‘burnout’. Sebuah studi menyebutkan bahwa 82 persen tenaga medis mengalami burnout tingkat sedang.

Baca juga: Luhut mau impor dokter, IDI heran Menteri Maritim ikut urusi kesehatan

Dilansir laman ANTARA, sebuah survei dari program studi Magister Kedokteran Kerja (MKK) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tahun 2020 menemukan bahwa sebanyak 82 persen partisipan mengalami burnout tingkat sedang, 1 persen berat dan 17 persen tingkat burnout ringan.

Ilustrasi pasien corona. Foto: Shanghaiist.
Ilustrasi pasien corona. Foto: Shanghaiist.

Survei yang dilakukan online ini melibatkan sekitar 1461 orang tenaga kesehatan yakni dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, dokter gigi spesialis, bidan, perawat dan tenaga laboratorium dari berbagai propinsi Indonesia pada Februari 2020-Agustus 2020.

Para partisipan rata-rata berusia 35 tahun dengan masa kerja lima tahun, memiliki jam kerja saat COVID-19 selama 38,5 jam per minggu.

“Ini suatu hal yang sudah harus diwaspadai karena begitu masuk berat susah ditanggulangi, harus segera dilakukan sesuatu,” ujar ketua tim peneliti Dr. dr. Dewi S. Soemarko dalam konferensi virtual FKUI, Jumat 4 September 2020.

Lebih lanjut, keletihan mental yang dirasakan para tenaga kesehatan ini salah satunya karena kelelahan bekerja akibat beban kerja.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Dekan FKUI Prof. dr. Ari Fahrial Syam menegaskan burnout menjadi salah satu kondisi yang dialami pada dokter-dokter di Indonesia pada masa pandemi COVID-19.

“Burnout menjadi salah satu faktor, yang terjadi pada dokter-dokter kita. Banyak dokter yang sehat, tetapi akhirnya menjadi korban (COVID-19) dan meninggal, karena walau fisik sehat tetapi stres cukup tinggi dan kurang istirahat, mengalami permasalahan kesehatan apalagi dengan COVID-19 ini,” ujar dia.

Petugas medis intens merawat pasien corona
Petugas medis intents rawat pasien corona Foto: Reuters

Lalu apa gejala letih mental?

Burnout atau keletihan mental suatu sindroma yang diakibatkan respons kronik terhadap stressor atau konflik di tempat kerja dan penyakit ini termasuk ke dalam diagnosis klinis.

Dewi mengatakan, kondisi ini bisa dikenali dari gejalanya yakni keletihan emosi, kehilangan empati dan hilangnya rasa percaya diri.

Tanda seseorang mengalami keletihan emosi yakni merasa sangat lelah sehingga tidak mau melakukan apapun. Sementara kehilangan empati ditandai tidak ingin ikut serta mengambil keputusan apapun.

“Kehilangan empati, jadi terserah saja. Ini menurut kami agak sedikit berbahaya. Lalu hilang rasa percaya diri. Bisa-bisa dia merasa banyak ragunya menyebabkan penurunan performa,” kata Dewi.

Baca juga: Alhamdulillah, dokter dan tenaga medis bakal dapat bonus 15 juta perbulan

Dokter umum mengalami ketiga gejala keletihan mental, sementara tenaga kesehatan yang sudah menikah mengalami dua gejala yakni keletihan emosi dan hilangnya rasa percaya diri.

“Status menikah lebih besar terjadi burnout, ditambah beban kerja. Sebagai manusia, rindu keluarga saat kerja. Tenaga medis tidak pulang-pulang sementara keluarga menunggu di rumah. Perasaan itu yang mereka pendam, saat sudah berbulan-bilan menjadi kelelahan,” ungkap Dewi.

Tenaga kesehatan yang menangani COVID-19 mengalami dua gejala burnout menonjol yakni keletihan emosi dan kehilangan empati.

“Burnout kalau dibiarkan bisa menjadi gangguan mental, perlu psikiater,” tutut Dewi.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close