Trending

Drama BPJS, Denny Siregar: Rombak manajemen kasih ke Ahok

Drama BPJS dengan iuran yang naik-turun jadi sorotan publik. Setelah dinaikkan awal tahun ini, Presiden Jokowi  kemudian menurunkan tarifnya. Belum sebulan berselang, iuran BPJS kembali dinaikkan.

Banyak tokoh yang mengomentari drama BPJS tersebut, termasuk Denny Siregar. Lewat channel YouTube cokroTV yang diunggah Jumat, 15 Mei 2020 dia menyampaikan pendapatnya tentang kenaikan iuran BPJS.

Unggahan Denny diawali dengan nostalgia gelombang protes kenaikan BBM yang kini berhasil diredam setelah pengelolaannya diperbaiki. “Sekarang kita juga ribut saat Jokowi menaikkan iuran BPJS. Ributnya sampai ke mana-mana. Dari mulai mencerca hingga yang halus ‘kenapa dinaikkan saat kondisinya lagi gak bagus’’.  Menurutnya, yang namanya kenaikan pasti tidak enak dan tidak ada waktu yang tepat untuk melakukannya.

Alasan BPJS defisit

Denny lalu membeberkan kenapa BPJS merugi hingga triliunan rupiah. “Kenapa defisit? nilai iuran rendah, orang tak disiplin bayar, administrasi dalam BPJS yang masih bolong-bolong.”

Denny juga menyebut BPJS menanggung semua usia dan kalangan. Dia mencontohkan seorang temannya yang kurang mampu. Orang tuanya sakit ginjal sehingga harus cuci darah seminggu tiga kali. Tagihannya mencapai belasan juta rupiah per bulan dan semuanya ditanggung BPJS. Si teman tidak mengeluarkan uang sedikit pun.

Denny lalu memaparkan kekurangan dan kelebihan BPJS. “Kelebihan BPJS program ini sangat merakyat hingga orang kurang mampu bisa mendapatkan pengobatannya. Kekurangannya, biaya pun jadi bengkak makanya BPJS selalu tekor setiap tahunnya.”

BPJS Kesehatan
BPJS Kesehatan. Foto Dokumen KPCDI

BPJS disebut Denny seperti sinterklas bagi orang tak mampu. Dia menyinggung, bagi yang sedikit mampu, kenaikkan iuran menjadi masalah besar. Padahal dari awal konsepnya gotong royong. Yang mampu membantu yang kurang mampu, yang kelebihan membantu yang kekurangan.

“Saya sendiri diposisikan Tuhan sebagai orang yang sedikit mampu. Sehingga bagi saya membayar BPJS seperti sedekah saja. Dan saya selalu berdoa supaya tidak diberikan menggunakan BPJS karena kesehatan bagi saya sangat mahal harganya,” kata Denny.

Baca juga: BPJS Kesehatan: Iuran naik bentuk komitmen pemerintah pada putusan MA

Pemerintah kreatif, dong

Denny mengulang temuan KPK soal defisit BPJS yang bukan selalu masalah iuran yang kurang. Ada faktor-faktor lain, semisal banyak Rumah Sakit yang nakal yang memainkan biaya kesehatan. “Di sini seharusnya pemerintah harus lebih cerdik dan kreatif. Sehingga solusinya tidak dengan selalu menaikkan iuran,” ucap Denny.

Selain itu menurut KPK, BPJS juga harus membatasi diri dalam memberikan bantuan. Penyakit karena gaya hidup seperti jantung dan diabetes seharusnya dibatasi pembiayaannya jadi BPJS tidak selalu defisit. Untuk meringankan beban, BPJS juga harus berbagi dengan asuransi swasta.

Denny bilang, dia tidak mempermasalah Jokowi menaikkan iuran BPJS yang naik sampai 100 persen. Karena kelas III masih disubsidi pemerintah sampai Rp3 triliun. Jadi bagi masyarakat kurang mampu, mereka masih tertolong.

Ilustrasi pasein corona tidak dicover BPJS Kesehatan. Foto: BBC.
Ilustrasi pasein corona tidak dicover BPJS Kesehatan. Foto: BBC.

“Tapi mbok ya, pemerintah lebih kreatif, lah. Masa solusinya cuma naik doang. Gak ada cara-cara lain yang dilakukan supaya yang mampu bisa bayar dan yang tidak mampu bisa terbantu, “lanjut Denny.

Menurutnya, kalau manajemen BPJS saat ini tidak mampu mengatasi permasalahan, harusnya dirombak. Denny menyebut nama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.  “Atau gini aja deh Pakde Jokowi, bagaimana kalau Ahok saja yang jadi Direktur BPJS?,” usulnya.

Alasan Denny karena ahok yang sekarang menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina. Menurutnya, mantan Gubernur DKI Jakarta itu perlu tantangan. “Dia kan jago banget di manajemen kayak ginian. Ngapain Ahok dikasih tempat nyaman di Pertamina, kasih dia tempat yang sulit pasti dia akan lebih berguna di sana. Ahok butuh tantangan, Apalagi dia senang model sosial seperti ini”. Sebagai penutup, dia bertanya ke publik apa setuju dengan usulannya itu.      

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close