Trending

Duh, warga Gresik yang dihukum gali kubur gegara masker disorot media asing

Beberapa waktu lalu 8 orang warga Gresik kedapatan tak menggunakan masker kala razia protokol kesehatan yang digelar jajaran Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Kecamatan Cerme, Gresik pada Senin 14 September 2020.

Ke 8 warga Gresik tersebut mendapat sanksi tegas yakni menggali liang kubur di tempat pemakaman umum. Ke 8 warga ini juga dimintai komitmennya untuk tidak mengulang perbuatannya.

Baca juga: Kemendagri jelaskan ucapan Tito Karnavian soal jenazah covid lebih baik dibakar

Ternyata pemberian sanksi terhadap 8 warga gresik ini disorot media Inggris, Daily Star. Pada 16 September 2020, Daily Star menulis soal sanksi yang diberikan kepada 8 warga Gresik yang kedapatan tak pakai masker.

Dalam tulisannya, Daily Star menyatakan bahwa hukuman yang diberikan oleh pemerintah setempat termasuk salah satu hukuman berat yang diterapkan oleh negara-negara yang terpapar covid-19.

Ilustrasi pemakaman jenazah COVID-19. Foto: Antara
Ilustrasi pemakaman jenazah COVID-19. Foto: Antara

Seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat Inggris merupakan salah satu negara yang lonjakan pasien positifnya cukup tinggi. Di sisi lain, warga Inggris juga termasuk yang ‘bandel’ menerapkan protok kesehatan.

“Orang-orang dipaksa menggali kuburan sebagai hukuman brutal setelah mereka menolak memakai masker,” tulis laman tersebut.

Dalam artikel itu, Daily Star juga mencantumkan pernyataan Bupati Cerme Suyono yang menyebut bahwa setiap hari pasien covid-19 yang meninggal semakin bertambah.

“Saat ini hanya ada tiga penggali kubur, jadi saya pikir sebaiknya saya mempekerjakan orang-orang ini untuk membantu, semoga ada efek jera.”

Dengan 3 penggali kubur, Daily Star menulis bahwa sejak awal wabah, sekitar 2.600 orang telah dikuburkan di pemakaman tersebut.

“Nadi bin Eji, salah satu penggali makam mengatakan telah bekerja dari jam 7 pagi hingga tengah malam untuk mengubur pasien covid-19 dan khawatir tetangganya melihatnya sebagai penyebar super virus pembunuh,” tulisnya.

Penumpang kereta api di Stasiun Gubeng Surabaya. Foto: Antara/Didik Suhartono
Penumpang kereta api di Stasiun Gubeng Surabaya. Foto: Antara/Didik Suhartono

Dalam artikel itu juga disebut beberapa negara yang mengeluarkan sanksi berat bagi warga yang menolak protokol kesehatan.

Baca juga: Sadisnya Kim Jong-un, jenazah tidak dimakamkan tapi dijadikan pupuk

“Pihak berwenang di seluruh dunia telah menggunakan kekuatan penuh untuk menindak infeksi. Di Punjab, India orang-orang yang melanggar dipaksa melakukan jongkok sambil berteriak ‘kami musuh masyarakat. Kami tidak bisa duduk di rumah.’”

Sementara itu, Polisi garis keras di Paraguay tidak mengasihani orang-orang yang melanggar peraturan. Mereka memaksa pelaku melakukan skot jump.

Di Inggris, Menteri Dalam Negeri Priti Patel memperingatkan bahwa pemerintah akan mengambil sikap keras terhadap siapa pun yang ditemukan melanggar undang-undang tentang protokol kesehatan.

Dia mengatakan mengobrol dengan keluarga dari seberang jalan juga dianggap melanggar peraturan baru virus corona.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close