Trending

Dukung penuh Kapolri beragama Katolik, Jaringan Islam Kebangsaan: Kita harus naik kelas!

Sosok Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo semakin hangat dibicarakan publik setelah namanya diajukan oleh Presiden Joko Widodo sebagai calon tunggal Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri). Menanggapi pencalonan Kapolri yang berasal dari agama Katolik tersebut, Koordinator Nasional Jaringan Dai dan Mubalig Muda, Jaringan Islam Kebangsaan (JIK), Irfaan Sanoesi mengatakan bahwa seharusnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan.

Menurut Irfaan, dalam hal kebangsaan khususnya di Indonesia yang terdiri dari masyarakat majemuk, agama bukanlah sesuatu yang perlu dianggap sebagai masalah yang tabu.

Masyarakat Indonesia dewasa ini harus semakin naik kelas, artinya dalam pemilihan tokoh publik tidak perlu dipandang dan dipermasalahkan soal suku, agama, maupun ras seseorang.

Baca Lainnya

  • Ilustrasi calon Kapolri beragama Katolik. Foto: Pexels, antara
    Dukung penuh Kapolri beragama Katolik, Jaringan Islam Kebangsaan: Kita harus naik kelas | Ilustrasi calon Kapolri beragama Katolik. Foto: Pexels, antara

    Meski mayoritas pemeluk agama di tanah air adalah Islam, namun publik juga perlu memahami aspek lainnya dalam memilih pemimpin publik seperti kompetensi, integritas, hingga profesionalisme.

    Dalam tiga hal tersebut, kata Irfaan, Komjen Pol Listyo Sigit sudah bisa dikatakan layak untuk menjadi Kapolri menggantikan sosok sebelumnya, Idham Azis.

    “Mestinya wacana yang dibahas bukanlah dari sisi agamanya sesorang. Kita harus naik kelas, harusnya wacana yang dibangun oleh publik adalah dari aspek kompetensi, profesionalisme dan integritas sesorang. Dari sisi ini, Pak Sigit layak menjadi Kapolri baru menggantikan Pak Idham Azis,” kata Irfan, menukil Rmol, pada Jumat, 15 Januari 2021.

    Bukan hal yang pertama Kapolri dari kalangan non-muslim

    Irfaan mengajak publik untuk menilisik sejarah lebih jauh. Kala itu di periode tahun 1974 hingga 1978 ada nama Jendral Widodo Budidarmo yang dipilih menjadi Kapolri dan berasal dari kalangan non-muslim. Jadi sebenarnya, sosok Kapolri di luar agama Islam bukan sesuatu yang baru dan perlu dirisaukan.

    “Jadi kami telah mendukung Kapolri pertama dari kalangan non-muslim adalah Jenderal Widodo Budidarmo periode 1974-1978,” ujarnya.

    Kapolri Jenderal Pol Idham Azis (kiri) melakukan salam komando dengan Kabareskrim Polri Inspektur Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo (kanan). Foto: Antara
    Dukung penuh Kapolri beragama Katolik, Jaringan Islam Kebangsaan: Kita harus naik kelas | Kapolri Jenderal Pol Idham Azis (kiri) melakukan salam komando dengan Kabareskrim Polri Inspektur Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo (kanan). Foto: Antara

    Dia juga membeberak torehan pencapaian Komjen Listyo Sigit tatkala menjabat sebagai Kapolda. Waktu itu, Komjen Sigit dikatakan berhasil membangun komunikasi dengan para ulama kawakan yang ada di tanah Banten.

    Oleh sebabnya, walaupun bukan dari kalangan muslim, untuk urusan komunikasi dan menjaga hubungan harmonis, sosok Komjen Sigit tidak perlu diragukan lagi.

    “Ketika Pak Sigit menjadi Kapolda Banten, dia dekat dengan ulama di sana. Membangun komunikasinya pun tak usah diragukan lagi sehingga dapat membangun kamtibmas Banten yang harmonis dan kondusif,” tandasnya.

    Ulama Banten dukung Komjen Sigit jadi Kapolri

    Dukungan mengalir kepada calon Kapolri Komjen Listyo Sigit Prabowo yang diajukan Presiden Jokowi sebagai calon tunggal.

    Ulama kharismatik Banten, Abuya Muhtadi Dimyathi meyakini bahwa Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo sosok yang amanah dan mampu mengamankan negara jika menjadi Kapolri.

    Secara terang-terangan, ulama kharismatik itu mengaku mendukung Komjen Listyo Sigit sebagai Kapolri.

    Ulama Banten, Abuya Muhtadi Dimyathi
    Ulama Banten, Abuya Muhtadi Dimyathi. Foto Antara/Dok pribadi.

    Pasalnya, Abuya Muhtadi merasa yakin dengan kemampuan Komjen Sigit untuk menjadi orang nomor satu di tubuh Polri.

    Bukan apa-apa lho, Abuya Muhtadi mengungkapkan dia mengingat Sigit pernah menjabat sebagai Kapolda Banten sejak 5 Oktober 2016 hingga 13 Agustus 2018. Menurut dia, saat itu Sigit mampu menciptakan situasi aman di Banten tanpa gejolak.

    “Tugas utama dia terus amankan negara ini. Insya Allah mampu. Kalau beliau jadi (Kapolri), saya di belakangnya dan sebatas penguat saja. Saya ikut bagaimana keputusan pusat saja,” kata Abuya Muhtadi melalui siaran pers, Jakarta, dikutip dari Antara, Jumat 15 Januari 2021.

    Selain itu, kata dia, Komjen Sigit juga sangat dekat dengan masyarakat termasuk para ulama.

    Sementara itu, adik Abuya Muhtadi, Abuya Murtadho menuturkan hal yang sama. Menurut Abuya Murtadho, selama berdinas di Provinsi Banten, Sigit bekerja dengan baik dan mampu merangkul semua golongan.

    Bahkan Komjen Sigit waktu itu sempat menginstruksikan seluruh jajaran Polda Banten untuk membaca kitab kuning. “Itu bagus,” ujar Abuya Murtadho.

    loading...
    Topik

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Back to top button
    Close