Trending

Eko Kuntadhi heran ke Gus Nur: Ustaz tapi tak bisa baca Alquran

Nama ustaz Sugik Nur Rahardja alias Gus Nur terus ramai di perbincangan publik. Pangkalnya dia belakangan dituding telah melakukan penghinaan terhadap Nahdlatul Ulama (NU), di saluran Youtube Refly Harun, baru-baru ini.

Atas ujaran kebencian yang disampaikan, ustaz Sugik Nur Rahardja alias Gus Nur ini kemudian dilaporkan oleh Aliansi Santri Jember ke Kepolisian.

Baca juga: Hina NU, Denny Siregar singgung rekam jejak siapa Gus Nur sebenarnya

Polemik Gus Nur sendiri kemudian turut dikomentari sejumlah pihak. Salah satunya pengamat sosial politik Eko Kuntadhi. Menurut Kuntadhi, sebenarnya bukan kali ini saja Gus Nur menjadi polemik usai sikap atas ungkapannya.

Sebab dia dianggap sering melakukan penghinaan secara terang-terangan terhadap NU dan warganya. “Bahkan di Pengadilan Jawa Timur, dia sudah dijatuhkan hukuman 1 tahun 8 bulan, akibat bacotnya tersebut. Kini perkaranya masih dalam tahap persidangan selanjutnya,” kata Eko di saluran Youtube Cokro TV, disitat Kamis 22 Oktober 2020.

Dalam kesempatan itu, dia juga sempat mempertanyakan Refly Harun, yang justru memilih mengundang Gus Nur menjadi salah satu narasumbernya. Padahal, kata Kuntadhi, Gus Nur tak lain anya orang yang dianggap tak paham agama, dan selalu melemparkan kata-kata kotor saat berceramah.

Sugi Nur Raharja atau Gus Nur (kiri)
Sugi Nur Raharja atau Gus Nur (kiri). Foto Instagram @dpc.kaumimedanlabuhan

“Saya rasa Refly pasti tahu deh, Sugik hanyalah mantan tukang obat keliling. Dia juga pemain debus untuk jualan obatnya, biar laku. Riwayat pendidikannya juga enggak jelas. Demikian juga soal pendidikan agamanya. Wong dia sendiri ngaku enggak bisa baca Alquran.”

Heran Gus Nur dipanggil ustaz

Kuntadhi kemudian merinci sepak terjang Gus Nur selama ini. Menurut dia, dari data yang dimiliki, Gus Nur dahulu hanya pemain debus, tukang obat keliling, yang tak memiliki basis agama mumpuni.

Namun, kata dia, Kuntadhi mengakui jika Gus Nur memang tak bodoh. Karena dia dianggap turut belajar banyak soal soal psikologi konsumen secara otodidak.

Dari sana, Gus Nur yang belakangan juga menyandang gelar ustaz itu, kemudian mulai berceramah, lalu memanfaatkan saluran Youtube, untuk membuat statemen, hingga kerap menggunakan jargon agama dalam tiap kesempatan.

“Nah karena itulah Sugik kemudian banting setir, dari jualan obat menjadi jualan ayat. Meskipun dia enggak bisa baca Alquran dengan baik. Toh waktu dia jualan obat, dia juga bukan apoteker atau ahli kimia.”

Pendakwah Gus Nur. Foto: Instagram @gusnur13official
Pendakwah Gus Nur. Foto: Instagram @gusnur13official

Sejujurnya dia heran, mengapa sematan ustaz itu turut diberikan pada Gus Nur. Padahal, dia selalu mencampurkan kata-kata kotor, dengan ayat suci Alquran dan hadis.

“Fenomena orang semacam Sugik ini yang disebut atau kita kenal dengan era disrupsi beragama, ketika otoritas keagamaan yang mestinya ada di tangan para alim dan ulama, direbut oleh orang-orang sejenis Sugik. Di media sosial, dia berceramah dengan tekanan sentimen politik.”

Sebelumnya, belasan anggota Aliansi Santri Jember yang dikawal anggota Barisan ansor serbaguna (Banser) mendatangi Polres Jember. Mereka berbekal potongan video talkshow yang diunggah di YouTube.

“Dengan mengatakan bahwa NU sopirnya mabuk, kondekturnya teler, dan kernetnya ugal-ugalan, dan isi busnya PKI, liberal, dan sekuler. Menurut kami ini telah mencemarkan nama Nahdlatul Ulama, dan juga (dianggap) menyebarkan ujaran kebencian,” kata Ketua Dewan Instruktur GP Ansor Jember Ayub Junaedi kepada wartawan, Senin 19 Oktober 2020.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close