Trending

Ekonomi nasional lesu, pengamat: Gegara orang kaya malas belanja

Beberapa waktu lalu, akibat pandemi COVID-19, ekonomi nasional sempat terguncang. Alhasil, sejumlah perusahaan merumahkan para karyawannya.

Benar saja, sepanjang kuartal kedua tahun 2020, ekonomi nasional mengalami minus hingga 5,32 persen.

Baca juga: 4 Fakta Pulau Natal, dekat dengan Indonesia tapi milik Australia

Selain sejumlah perusahaan yang mengalami pailit akibat penjualan yang tak maksimal, ternyata daya beli yang anjlok saat pandemi virus Corona juga ikut memengaruhi perekonomian nasional, salah satunya karena daya beli orang kaya di Indonesia menurun alias malas untuk berbelanja.

“Kita harus akui bahwa pandemi ini menggentarkan mereka yang lebih punya uang, yang relatif lebih senior, yang kita ketahui yang senior-senior ini yang punya lebih banyak uang. Mereka tidak mau berbelanja, mereka tidak mau berinvestasi, kecuali kepada hal-hal esensial,” kata Sekretaris Eksekutif 1 Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), Raden Pardede dalam sebuah video teleconference di Jakarta, pada Senin, 10 Agustus 2020. Disitat dari Suara.com.

Ilustrasi orang kaya. Foto: Pexels.com
Ilustrasi orang kaya. Foto: Pexels.com

Padahal, kata Pardede, perekonomian nasional dan angka konsumsi masyarakat pada kuartal kedua 2020 bisa jauh lebih baik, asalkan para orang berharta itu mau berbelanja seperti biasa.

“Tidak serta merta daya beli yang turun, tapi memang dia (kalangan atas) tidak mau berbelanja,” ujar Pardede.

Salah satu faktor kuat yang membuat kalangan elit ini malas berbelanja karena, mayoritas mereka lebih memilih untuk diam di dalam rumah dan tak berani keluar rumah lantaran ancaman virus Corona.

“Karena tidak adanya keamanan terhadap kesehatan, karena Covid-19 itu menggentarkan kalangan senior itu. Makanya pemerintah sekarang menjalankan program Indonesia Sehat, untuk memberikan keyakinan kepada masyarakat virus ini bisa kita tangani dengan baik,” jelasnya.

Ilusrasi rupiah dan dolar. Foto: Antara.
Ilusrasi rupiah dan dolar. Foto: Antara.

Diketahui, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal kedua tahun 2020 mengalami minus hingga 5,32 persen. Angka ini menjadi angka pertumbuhan terendah sejak tahun 1998-1999 silam ketika Indonesia diguncang oleh krisis moneter pasca tumbangnya orde baru.

Adapun apabila dibandingkan dengan tahun 2019, angka pertumbuhan perekonomian nasional saat ini mengalami terjun bebas yang cukup diperhitungkan. Lantaran di kuartal kedua tahun 2019 silam, pertumbuhan ekonomi masih aman di angka 5,07 persen. (CTH)

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close