Trending

SBY: RI dihantam badai ekonomi, harga saham, minyak, rupiah rontok

Wabah virus corona yang turut menyergap Indonesia dinilai mantan presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono telah menimbulkan ke-rontok-an ekonomi serius. Bukan cuma di tatanan global, melainkan juga terjadi di Indonesia.

“Simak rontok-nya harga-harga saham, minyak dan nilai tukar. Juga berbagi pukulan yang menggoyahkan pilar dan fundamental per-ekonomi-an banyak negara. Termasuk Indonesia,” kata SBY dalam pernyatannnya, di Jakarta, Selasa malam 17 Maret 2020.

Baca Juga: Tuding respon corona lambat, Rizal Ramli kaitkan RI takut dengan China

Atas kondisi rontok-nya ekonomi, Indonesia diminta menerapkan respon kebijakan yang tepat dan tidak terlambat untuk menghadapi gejolak ekonomi global saat ini akibat corona. Selain itu Indonesia juga dinilai masih memiliki sejumlah masalah fundamental ekonomi yang perlu dibenahi.

Namun SBY optimistis bahwa akan ada upaya untuk menghadapi kesulitan gejolak ekonomi global saat ini

“Saya termasuk orang yang optimistis, tapi juga realistis. Selalu ada jalan ketika kita menghadapi kesulitan. Setiap masalah selalu ada solusinya, yang penting jangan terlambat untuk berbuat. Pilih solusi paling tepat dan jalankan dengan segala daya upaya. Insya Allah berhasil,” tegasnya.

SBY menjelaskan pengalaman krisis ekonomi global pada 1998 dan 2008. Menurutnya, pada 1998, Indonesia harus menerima dampak signifikan dari krisis ekonomi 1998. Sedangkan pada 2008, menurut dia, ekonomi Indonesia bisa bertahan karena pemerintah mampu meminimalkan dampak ke-rontok-an.

“Banyak pakar ekonomi, pemimpin dunia usaha, elemen pemerintah di banyak negara yang khawatir gejolak ini bisa membuat dunia jatuh ke resesi yang dalam dan panjang. Bahkan ada yang cemas kalau krisis ini jauh lebih berat dibanding tahun 1998 dan 2008 dulu,” kata SBY.

“Untuk meredakan badai (rontok) ekonomi diperlukan penanganan bersama yang serius dan terus-menerus. Tentu termasuk kebijakan dan tindakan yang dilakukan secara nasional, di masing-masing negara,” ujarnya.

Baca Juga: Cegah mati konyol karena corona, Iran bebaskan 85 ribu tahanan

Tanda gejolak ekonomi yang serius itu, ujar SBY, sudah ditunjukkan oleh Bank Sentral AS, Federal Reserve, dengan memangkas suku bunga acuan sebesar 100 basis poin (bps) menjadi 0-0,25 persen dan juga mengaktifkan kembali program pembelian aset (Quantitative Easing/QE) senilai 700 miliar dolar AS.

“Yang mengerti ekonomi, kalau The Fed sudah “menembakkan peluru kendali” seperti ini, berarti situasi sudah serius. Berbagai bank sentral di seluruh dunia juga melakukan langkah-langkah yang serupa,” ujarnya.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close