Trending

Eks Kepala BIN urai sebab kenapa yang tegang kini TNI vs Habib Rizieq

Belakangan ini sejumlah aksi Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto tengah menjadi sorotan publik. Apa yang dilakukan TNI pun dinilai publik sebagai buntut dari sejumlah sikap tokoh sentral FPI Habib Rizieq Shihab.

Maka tak heran jika kemudian TNI mulai melempar pernyataan tegas untuk menjaga persatuan dan kesatuan hingga pentingnya menjaga diri dari provokasi. Saat mengeluarkan pernyataan soal pentingnya persatuan dan kesatuan, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bahkan didampingi jajaran komandan pasukan elite TNI.

Baca juga: Baca Surat At Tahrim 6, Pangdam Jaya ke Habib Rizieq: Jangan asal bicara sembarangan!

Ini tentu memiliki pesan dan kesan kuat tersendiri. “TNI adalah bentengnya persatuan dan kesatuan bangsa, oleh karena itu, dengan profesionalisme kalian, maka kalian harus siap untuk diterjunkan dalam rangka melawan musuh yang mencabik-cabik benteng persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Hadi Tjahjanto.

Tak berselang lama, Kamis kemarin, secara mendadak Panglima TNI lalu bersafari dan melakukan sidak pasukan-pasukan elite lintas matra sekaligus. Pertama, yakni Markas Kopassus di Cijantung menjadi tujuan awal Marsekal Hadi.

Panglima TNI Hadi Tjahjanto sidak pasukan komando khusus
Panglima TNI Hadi Tjahjanto sidak pasukan komando khusus. Foto Instagram @puspentni

Selanjutnya Panglima TNI melakukan kunjungan ke markas Marinir Cilandak, Jakarta Selatan. Safari Panglima TNI kemudian dilanjutkan ke Markas Pasukan Khusus TNI AU Kopaska, di Halim, Jakarta Timur.

Lantas pertanyaannya adalah apa makna di balik langkah Panglima TNI ini. Benarkah kondisi Indonesia kini sudah semakin mengkhawatirkan sebagai buntut kesiap-siagaan TNI?

Masalah TNI vs Habib Rizieq

Seperti diketahui, berulang kali pasukan elite menyatakan diri siap mengatasi para perusak persatuan dan kesatuan di Tanah Air. Setidaknya itulah pesan yang disampaikan oleh Panglima TNI.

Terkait hal ini, mantan kepala BIN Sutiyoso pun memberi pandangan. Menurut sosok yang pernah menjadi Pangdam Jaya, dan bagian dari Kopassus ini, memang ada yang perlu dianalisa lebih jauh.

“Kalau kita simak dari pernyataan TNI, akhir-akhir ini kan melakukan sidak, Kopassus, Marinir, Kopaska. Sebelum itu, ada juga pernyataan tegas (Panglima TNI) didampingi komandan pasukan elite plus Pangkostrad yang menekankan untuk jaga persatuan dan kesatuan,” kata dia di Apa Kabar Indonesia, disitat Sabtu 21 November 2020.

Sutiyoso menilai, TNI memang sudah mulai menggerakkan atau menyiapkan pasukan-pasukan elite itu. Termasuk dengan Kostrad yang jumlah pasukannya sangat besar, dianggap Sutiyoso juga sudah dipersiapkan.

Ini tentu meninggalkan kesan ke permukaan atau ke masyarakat kalau TNI memang serius menghadapi masalah bangsa. Lantas, apa masalah bangsa yang sedang dihadapi Indonesia sekarang ini?

Menurutnya pertama tentu menghadapi pandemi covid-19. Kata Sutiyoso, Pemerintah dinilai sudah sangat serius menanganinya, termasuk melibatkan semua kekuatan yang ada, baik Kementerian, Pemerintah Daerah, TNI-Polri, masyarakat, sukarelawan.

“Sudah all aot dikerahkan. Namun tentu bukan masalah ini berarti kan (kesiapsiagaan TNI),” katanya.

Sementara masalah bangsa yang dihadapi selanjutnya adalah, pasca kepulangan Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab. Di mana kepulangannya menimbulkan kehebohan di mana-mana. Mulai dari penjemputan di bandara, maulid, pernikahan putrinya, hingga kemudian sukses mengumpulkan massa yang sangat besar.

Habib Rizieq Syihab menyapa massa pendukung di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta
Habib Rizieq Syihab menyapa massa pendukung di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. Foto Antara/Muhammad Iqbal

Ini tentu bertentangan dengan protokol kesehatan. Nah, berkaitan dengan tupoksi TNI, memang cuma tunggal, yakni soal pertahanan. Kapan TNI bergerak, kata Sutiyoso kalau diserang lawan.

Namun hingga kini tidak ada indikasi akan diserang lawan, bahkan sampai 10 tahun ke depan. “Tapi memang TNI bisa diberikan tugas lain.”

Tidak tepat

Tetapi soal pencopotan baliho Habib Rizieq, TNI dianggap tidak tepat. Sebab kata dia, inilah pemicu stigma kini kalau yang tegang berhadapan adalah TNI. Padahal jika pencopotan baliho tidak dilakukan TNI, stigmanya tidak demikian sekarang ini.

“Terjawab saat Kodam Jaya bersihkan baliho yang memuat gambar dari HRS. Inilah, menurut pandangan saya, padahal cukup dilakukan oleh Trantib, kalau kewalahan minta bantuan Polisi, baru TNI. Itu pun status TNI hanya sekadar bantu saja, jangan diakukan sendiri.”

“Makanya kini seolah yang berhadapan TNI vs HRS, padahal TNI ada di kelompok masyarakat kita juga,” katanya.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close