Trending

Eks PM Malaysia sebut anak RI tak kuasai sains karena kebanyakan belajar agama, benarkah?

Beberapa waktu lalu, Perdana Menteri (PM) Malaysia, Mahathir Mohamad mengundurkan diri dari jabatannya. Pria 94 tahun itu menuliskan surat yang ditujukan kepada Raja malaysia Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah pada awal Februari 2020.

Meski jabatannya berakhir, eks PM Malaysia itu diketahui masih memiliki hubungan baik dengan Indonesia. Ia juga diketahui memiliki hubungan baik dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Selain pernah jajal mobil bareng, kedua pimpinan negara ini juga kompak menghadapi Uni Eropa terkait pelarangan produk sawit. bahkan beberapa kali ia mengunjungi Indonesia.

Baca juga: Waduh! Mitsubishi Malaysia saingi Indonesia, Xpander diproduksi lokal

Namun baru-baru ini kabar miring beredar di media sosial. Kabar itu memuat tentang komentar yang diduga milik Perdana Menteri ke-4 dan ke-7 Malaysia itu. Sontak pernyataan itu menjadi viral bagi warganet Indonesia.

Dalam unggahan salah satu pengguna Facebook itu, Mahatir diklaim mengatakan sekolah di Indonesia seakan terlalu banyak belajar agama sehingga tertinggal dalam bidang sains.

Hoaks Mahathir Mohamad
Hoaks Mahathir Mohamad foto: ANTARAnews

Berikut narasi yang disebarkan oleh akun di Facebook tersebut:

“…Pelan-pelan anak-anak sekolah negeri di Indonesia akan tertinggal dalam penguasaan sains. umurnya habis untuk menghafal ayat-ayat dan doa, belajar soal haram, dosa, bidadari, menghitung pahala, mencari dalil, memikirkan, akerat. Setelah kalah bersaing lalu memusuhi pemerintah dan mendirikan negara syariah sebagai solusi semuanya…
(Mahathir Mohammad)”

Namun, benarkah Mahathir Mohammad berkomentar terkait sekolah di Indonesia?

Dilansir laman ANTARAnews tidak menemukan pernyataan Mahathir Mohammad tentang pendidikan di Indonesia terkait pelajaran agama sebagaimana dalam unggahan di Facebook itu.

Merujuk pemberitaan Tempo.co berjudul “Mahathir Mohamad Akan Kurangi Silabus Agama di Sekolah Malaysia” pada 22 Desember 2018, Mahathir memberikan pernyataan terkait rencana pengrangan silabus pembelajaran agama di Malaysia.

Mahathir Mohamad
Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad. Foto Straitstimes.

Menurut Mahatir, pembalajaran agama dapat mengurangi kemampuan dalam mata pelajaran lain yang diperlukan untuk mencari pekerjaan.

“Seserang telah mengubah kurikulum di sekolah dan sekolah negara telah menjadi sekolah agama,” demikian pernyataan Mahatir.

Mutu Pendidikan di Indonesia belum seragam

Sementara itu soal mutu pendidikan di Indonesia, Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan bahwa kualitas dan mutu pendidikan di seluruh Indoensia belum seragam dan tidak punya standar mutu yang sama antara satu sekolah dengan sekolah yang lain.

Wapres Maruf Amin. Foto: BBC.
Wapres Maruf Amin. Foto: BBC.

“Kondisi kualitas pendidikan kita masih sangat bervariasi, tidak hanya antardaerah tetapi juga antarlembaga pendidikan. Selain itu, lembaga pendidikan kita antardaerah belum seluruhnya memiliki standar mutu yang sama,” kata dia, saat membuka focused group discussion (FGD) Penguatan Peran Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) secara virtual, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Mengenal pasukan elit Malaysia, lebih ngeri mana sama Kopassus?

Kesenjangan tersebut, kata dia, salah satunya disebabkan oleh kondisi SDM tenaga pengajar yang belum berkualitas. Ia mengatakan jenjang pendidikan terakhir yang dimiliki guru menjadi penentu peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

“Masih ada 10 persen guru bukan PNS dan 6,7 persen guru PNS yang belum memiliki gelar sarjana S1,” katanya.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close