News

Insiden menegangkan F16 TNI AU vs F18 Hornet AS, pesawat Indonesia siap ditembak

Hari ini 17 tahun lalu, TNI Angkatan Udara mengalami insiden yang menegangkan dengan militer Amerika Serikat. Pada 3 Juli 2003, pesawat F16 TNI AU mencegat pesawat Angkatan Laut Amerika Serikat di atas udara Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur.

Insiden menjadi hidup dan mati bagi penerbang pesawat F-16 Fighting Falcon TNI AU karena telah dikunci oleh pesawat F18 Hornet Amerika Serikat, siap ditembak. Insiden ini dikenal dengan Insiden Bawean.

Baca juga: Tak sudi dikalahkan China, India borong besar-besaran 33 jet tempur Rusia

Dalam insiden itu, penerbang F16 TNI AU terlibat perang elektronika selama beberapa menit dengan penerbang F18 Hornet AU. Keduanya saling jamming radar dan pesawat AS sempat ngeyel dan malah mengusir pesawat TNI AU di wilayah udara Indonesia sendiri lho!

Kalian yang belum tahu berikut ini kilas balik Insiden Bawean 2003.

Manuver F18 Hornet

Pesawat F18 Hornet Amerika Serikat
Pesawat F18 Hornet Amerika Serikat. Foto Instagram @@flying.knights

Pada 3 Juli 2003, Insiden bawean menjadi peristiwa menegangkan dalam sejarah TNI AU lho. Sebab pertama kalinya Indonesia berhadapan dengan Angkatan Laut Amerika Serikat dan jadi sasaran jet tempur F18 Hornet.

Mendeteksi hadirnya jet temput F18 Hornet itu yang bermanuver di atas Pulau Bawean tanpa identitas dan tanpa izin terbang. TNI AU langsung menerbangkan dua F18 Fighting Falcon dengan TS-1603 yang dipiloti Kapten Pnb Ian Fuady dengan Kapten Pnb Fajar Adriyanto serta TS-1602 yang dipiloti Kapten Pnb M. Tonny Harjono dengan Kapten Pnb Satriyo Utomo.

Misi ini yaitu mencegat dan mengidentifikasi F18 Hornet milik AS yang tertangkap radar sedang bermanuver di atas Kepulauan Bawean.

Perang elektronik dan dikunci

Kapal induk USS Carl Vinson
Kapal induk USS Carl Vinson. Foto Instagram @mellingdiane

Saat melaksanakan misi pencegatan pesawat AS itu, pesawat TNI AU malah disambut bak musuh oleh pesawat F18 Hornet itu.

Provokasi F18 Hornet dengan mematikan komunikasi audio (jamming) namun penerbang TNI AU bisa mengantisipasinya. Perang elektronika berupa jamming berlangsung beberapa menit melawan pesawat F18 Hornet AS.

Namun tak diduga, penerbang F19 Hornet ternyata membidik F16. Selain itu kapal induk AS, USS Carl Vinson di perairan Bawean juga membidik F16. Pesawat dan kapal induk AS itu bisa saja langsung menembak dua pesawat F16 itu. Kapten Fajar mengungkapkan pada layar pesawat mereka tertera tanda bahaya bahwa mereka sudah dikunci oleh militer AS, sebagaimana dikutip dari laman Indocorpcircle.

F16 TNI AU menghindar

Pesawat F16 TNI AU
Pesawat F16 TNI AU. Foto Instagram @kornelius_eko

Melihat posisi bahaya, penerbang TNI AU bemanuver untuk menghindari penguncian. Mereka bermanuver penghindar seperti hard break ke kiri dan ke kanan atau zig-zagging agar terlepas dari penguncian.

Selain manuver itu, penerbang TNI AU memberikan isyarat rocking the wing atau menggerak-gerakkan sayap ke atas dan ke bawah. Isyarat ini menunjukkan ke F18 Hornet bahwa TNI AU bukanlah ancaman.

Semenit kemudian, F16 bisa berkomunikasi dengan F18 Hornet. Tapi gilanya, penerbang F18 Hornet meminta F16 untuk menjauh dari kapal induk AS. Penerbang F18 Hornet dalam perintahnya menegaskan mereka berdalih sedang melintasi perairan internasional. Jadi menjauhlah dari kapal perang AS, begitu perintahnya.

Penerbang F16 aslinya bisa saja gantian mengunci F18 Hornet namun itu urung dilakukan lantaran misi TNI AU adalah identifikasi bukan perang.

Setelah insiden perang elektronika itu. pesawat F18 Hornet menjauhi F16. Dan kemudian F18 kembali ke pangkalan diLlanud Iswahyudi Madiun, Jawa Timur.

Menindaklanjuti insiden tersebut, DPR meminta pemerintah melalui Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan melakukan nota protes kepada pemeritah Amerika Serikat.

Analisis TNI AU dari foto-foto yang didapatkan dari misi pencegatan itu, konvoi kapal Angkatan Laut AS itu melaksanakan latihan tempur selama beberaja jam di barat laut Paulau Bawean.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close