Trending

Fatwa MUI: Buzzer haram, yang bikin yang bayar kena juga

Perbicangan buzzer belakangan ini mengemuka lagi selepas beberapa tokoh meminta Presiden Jokowi menertibkan buzzer yang dinilai mengacaukan masyarakat. Tahu nggak Sobat Hopers, Fatwa MUI buzzer itu haram lho.

Permintaan tertibkan buzzer ini merespons pernyataan Presiden Jokowi yang meminta masyarakat untuk lebih giat mengkritik dan melaporkan saran kritikan pelayanan pemerintahan.

Tokoh yang mengusulkan Jokowi agar menertibkan buzzer di media sosial yaitu seniman Sujiwo Tejo sampai Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Asfinawati.

Fatwa MUI buzzer haram

Kantor MUI. Foto: Suara

Nah jauh sebelum ramai kembali isu buzzer, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa haram aktivitas buzzer lho.

Fatwa haram buzzer itu tercakup dalam Fatwa MUI Nomor 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial.

Dalam ketentuan hukum di fatwa tersebut, pada ketentuan hukum di poin 9 tertulis tegas dan jelas, buzzer itu haram hukumnya.

“Aktifitas buzzer di media sosial yang menjadikan penyediaan informasi berisi hoax, ghibah, fitnah, namimah, bullying, aib, gosip, dan hal-hal lain sejenis sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun non-ekonomi, hukumnya haram,” demikian Fatwa MUI tersebut.

Fatwa itu juga menghukumi haram bagi orang yang menyuruh, mendukung, membantu, memanfaatkan jasa dan orang yang memfasilitasinya.

Fatwa tersebut ditandatangani oleh Ketua Komisi Fatwa Hasanuddin AF dan Sekretaris Komisi Fatwa, Asrorun Ni’am Sholeh.

Kata Ketua MUI

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis. Foto: Antara
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Cholil Nafis. Foto: Antara

Keberadaan buzzer yang dianggap mulai meresahkan dalam kondisi sosial masyarakat. Hingga Ketua MUI KH Dr M Cholil Nafis angkat bicara dan menilai jika keberadaan buzzer saat ini sulit diidentifikasi.

Ketua MUI KH Dr M Cholil Nafis menyampaikan beberapa tanggapannya terkait keberadaan buzzer yang dianggap mulai meresahkan. Ia bahkan mengibaratkan buzzer sebagai pemakan daging saudaranya sendiri.

Secara jelas Cholil dalam wawancana yang tayang di kanal Youtube Hersubeno Point menyebut jika tidak ada definisi jelas terhadap buzzer. Hanya ada dua klasifikasi yang bisa dikategorikan yakni buzzer positif dan negatif.

Dari kedua jenis buzzer yang ada saat ini, Cholil justru menilai lebih banyak buzzer negatif dibanding positif. 

“Karena memang definisinya masih kontroversi, tetapi kesannya konotasi di mata orang buzzer itu adalah negatif, karena orang bayaran untuk menyampaikan sesuatu dari orang lain,” jelas Cholil.

Kondisi banyaknya buzzer negatif menurut Cholil bisa dilihat dari perkembangan opini dan isu yang ramai di media sosial. Banyak buzzer yang memberikan penilaian dan pandangannya lebih banyak ke arah pembunuhan karakter seseorang.

Kritik yang diberikan dan berkembang di berbagai media sebagai corong penyebaran informasinya bukan lagi bisa dinilai sebagai substansi kritik namun menyerang orang secara pribadinya. Kondisi inilah yang membuat buzzer saat ini arahnya lebih negatif.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close