Trending

Felix Siauw: Seolah-olah tanpa radikalisme Indonesia bisa maju

Perkataan Menteri Agama atau Menag Fachrul Razi mengenai paham radikalisme di Indonesia menuai kritikan dari sejumlah pihak. Salah satunya Felix Siauw, yang mengatakan pemerintah terlalu ‘lebay’ menyikapi hal tersebut. Padahal, ada masalah lain yang lebih substansial dan layak mendapat perhatian lebih.

Dinukil dari video berjudul ‘4 Poin Menjawab Tuduhan Pola Radikalisme’ di saluran Youtube resminya, Felix Siauw mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir, pemerintah membingkai opini seakan-akan radikalisme di Indonesia sedemikian mengerikan. Padahal, kata Felix, hal itu sekadar akal-akalan mereka saja.

Baca juga: Profesor Suteki bingung ada orang Islam takut khilafah, nalarnya di mana?

“Saya pengen temen-temen tahu bahwa saat kabinet (Jokowi) dilantik, ada satu keanehan yang sangat besar, apa itu? Ada beberapa menteri—kalau saya tak salah tiga atau empat yang dilantik dan diamanatkan khusus untuk memerangi radikalisme. Seolah-olah radikalisme ini hal yang sangat bahaya,” ujar Felix.

“Buktinya apa? Ya buktinya radikalisme lebih banyak disinggung dari yang lain, misalnya korupsi, hak asasi manusia, dan inovasi-inovasi yang bisa dilakukan untuk memajukan negeri,” sambungnya.

Ustaz Felix Siauw. Foto: Instagram @felixsiauw
Ustaz Felix Siauw. Foto: Instagram @felixsiauw

Felix menilai, seperti yang telah disinggung di awal, ketakutan pemerintah itu terlalu berebihan. Padahal, ada atau tidak ada radikalisme, kondisi Indonesia sama saja, alias tak ada perubahan. Lantas, apakah Tanah Air bisa maju tanpa kehadiran paham tersebut? Nyatanya, kata dia, tidak juga.

“Jadi intinya, yang bisa kita lihat dari kabinet saat pertama dibentuk, yaitu yang menjadi perhatian utama adalah radikalisme. Seolah-olah tanpa ada radikalisme ini, Indonesia bisa meroket (maju), tiba-tiba ekonomi bisa meroket, gitu ya? Seolah-olah kalau ada radikalisme, Indonesia bisa hancur dalam waktu dekat,” terangnya.

Ustaz Felix Siauw
Ustaz Felix Siauw. Foto: Instagram @felixsiauw

Pertanyakan cara mengukur radikalisme

Felix Siauw pun heran dengan perkataan Menag Fachrul yang secara tegas mengatakan, pembawa paham radikal rata-rata bertampang rupawan, mahir bahasa Arab, dan pandai menghafal Alquran. Padahal, apa yang Menag sebutkan, merupakan ciri orang Islam yang benar.

“Apa standar radikalisme itu? Apakah standarnya mereka yang mendukung 212? Atau standarnya karena tak mendukung dan bertentangan dengan kamu? Atau standarnya justru karena ganteng (good looking)? Kalau kamu enggak bisa melawan dengan argumen, kamu enggak bisa sebut orang lain itu radikal.”

“Jadi standarnya apa? Ini penting. Kenapa penting? Karena kalau enggak ada standar ini bakal jadi bola liar. Siapapun yang enggak disenengin, kalau orang itu punya kekuasaan, pasti bakal dituduh radikal. Lagian kenapa harus orang muslim, kenapa enggak (agama) yang lain?” kata dia.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close