Trending

Ganja tanaman obat sudah 14 tahun lalu lho, publik geger akhirnya dicabut

Ada kabar sangat mengejutkan publik belakangan ini d akhir Agustus 2020, Kementerian Pertanian memasukkan ganja sebagai tanaman obat. Publik geger, dan belakangan setelah memicu kontroversi keputusan menteri yang isinya memuat salah satunya ganja itu, akhirnya dicabut.

Tapi ada beberapa fakta seputar pengategorian ganja. Salah satunya ganja sebagai tanaman obat sudah ditetapkan lama lho, sudah 14 tahun lalu.

Baca juga: Viral dua youtuber asing tontonkan aksi robek Alquran

Sudah lama, Ganja tanaman obat

Dikutip dari Antara, Minggu 30 Agustus 2020, ternyata ganja sudah lama menjadi salah satu tanaman obat binaan Kementerian Pertanian lho. Ketetapan menteri pertamian soal ganja sebagai tanaman obat sudah dikeluarkan Februari 2020, malahan sejak 2006 lalu kenapa ramainya baru sekarang sih?

Sebagai diketahui, belakangan ini Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) telah menetapkan ganja atau dengan nama latin Cannabis sativa ke dalam daftar tanaman obat komoditas binaan Kementerian Pertanian (Kementan).

Ketetapan itu tertulis dalam Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian. Keputusan menteri (kepmen) itu ditandatangani Syahrul Yasin Limpo pada 3 Februari 2020.

Baca juga: Dipenjara, komedia Qomar tertawa dan tak malu pamerkan borgol

Kepmen Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 itu sudah terbit tujuh bulan lalu. Bahkan 14 tahun lalu terbit Kepmentan 511/2006 tentang Jenis Komoditi Tanaman Binaan Direktorat Jenderal Perkebunan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Direktorat Jenderal Hortikultura.

Namun Kepmen Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 baru ramai akhir pekan ini. Padahal 14 tahun lalu terbit Kepmentan 511/2006 yang juga menempatkan ganja sebagai salah satu tanaman obat binaan Kementan.

Publik tidak jeli?

Tanaman ganja berguna di dunia medis
Tanaman ganja di dunia medis bermanfaat Foto: Hallosehat

Mengapa publik dan pihak terkait baru meributkan sekarang? Atau mungkinkah publik tidak jeli atas isi produk hukum tersebut?

Padahal, merujuk munculnya sumber awal berita yang menghebohkan dan menggemparkan tersebut, Kepmentan 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 itu ada di laman resmi Kementerian Pertanian.

Baru diunggah di laman itu atau publik dan instansi terkait tidak tanggap serta tidak jeli terhadap substansi Kepmen tersebut?

Dalam lampiran Kepmentan 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 yang diunduh dari laman Kementerian Pertanian di Jakarta, Sabtu 29 Agustus 2020, ganja tercantum pada nomor 12 di daftar tanaman obat di bawah binaan Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan.

Dicabut

Welqi, 20 kali gagal tanam ganja, sekalinya berhasil tertangkap. Foto: Darmawan
Welqi, 20 kali gagal tanam ganja, sekalinya berhasil tertangkap. Foto: Darmawan

Diktum pertama dalam Kepmen Komoditas Binaan tersebut disebutkan komoditas binaan Kementerian Pertanian meliputi komoditas binaan Direktorat Jenderal: a. Tanaman Pangan; b. Hortikultura; c. Perkebunan dan d. Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Kedua, disebutkan bahwa komoditas binaan sebagaimana dimaksud dalam diktum kesatu dan produk turunannya dibina oleh direktorat jenderal masing-masing sesuai dengan kewenangannya.

Pada diktum kelima, tertulis direktur jenderal dalam menetapkan komoditas binaan dan produk turunannya sebagaimana dimaksud dalam diktum keempat harus berkoordinasi dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, direktorat jenderal teknis lingkup Kementerian Pertanian, pakar/perguruan tinggi dan kementerian/lembaga.

Baca juga: Soal KAMI untuk capres 2024, Gatot: Nggak masuk logika, janganlah seperti itu

Ada 66 komoditas yang tercantum dalam daftar tanaman obat di bawah binaan Ditjen Hortikultura. Selain ganja, jenis tanaman obat lainnya, antara lain, akar kucing, mahkota dewa, tapkliman, senggugu hingga brotowali.

Dalam keterangan tertulis menyikapi reaksi publik, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan konsisten dan berkomitmen mendukung pemberantasan penyalahgunaan narkoba.

Kepmentan 104/2020 tersebut sementara dicabut untuk dikaji kembali. Kemudian segera dilakukan revisi setelah berkoordinasi dengan pihak terkait (BNN, Kemenkes dan LIPI).

Komitmen SYL di antaranya memastikan pegawai Kementan bebas narkoba serta secara aktif melakukan edukasi bersama BNN terkait pengalihan ke pertanian tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan, pada daerah-daerah yang selama ini menjadi wilayah penanaman ganja secara ilegal.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close